Monster Labil

Monster Labil
Angkuh


__ADS_3

Entah kenapa aku rasa hari ini sangat menyenangkan. Sebelum pulang aku membeli es krim untukku dan adikku. Cuaca agak dingin sejak habis ashar tadi karna awan-awan menutupi langit.


Sedikit lagi sampai rumah aku lihat banyak orang berkumpul di depan rumah bu Helda.


Apa yang terjadi? apakah telah terjadi tabrakan?


Setelah memarkirkan kendaraan bergegas aku menghampiri lokasi.


Tak disangka jika adikku terlibat kecelakaan. Tapi syukurnya adikku tidak terluka, hanya lecet sedikit. Akan tetapi kendaraanku yang dipakainya lumayan rusak pada bagian sholder belakang. Oh iya, aku pergi bekerja menggunakan kendaraan kakakku sementara kendaraanku dipakai adikku.


Bagaimana hal ini bisa terjadi?


Mendengar langsung dari adikku tidak cukup memuaskan. Lalu aku mencari korban lain, seorang siswi, banyak lecet pada tubuhnya dan jari kelingkingnya bengkak. Dia tidak membalas pertanyaanku. Aku pun bertanya pada bapaknya bu Helda yang sedang mengobati siswi ini. Katanya dia menabrak adikku karena adikku tiba-tiba belok menyeberang. Kok bisa? Berarti jaraknya cukup dekat sampai tak menyadari dan tak ada waktu untuk nge-rem.


"Nah sekarang siapa yang salah" Ucapku dalam hati.


Mengejutkannya lagi, bukan hanya adikku dan siswi itu saja, satu orang dari belakang menabrak adikku dan siswi itu. Kok bisa?


Masalahnya cukup rumit, tidak ada pihak yang berani untuk mendamaikan semua korban hingga akhirnya polisi datang. Kami harus menyelesaikan semua permasalahan ini di kantor polisi. Terpaksa aku ikut dengan mereka.


Tepat diwaktu sholat maghrib kami berdiskusi bagaimana cara terbaiknya untuk menyelesaikan masalah ini. Orang tua siswi itu telah datang dan orang tua yang ikut menabrak dari belakang membawa keluarganya juga sementara kami, aku dan hanya kakak ku saja.

__ADS_1


Aku sempat berjongkok kelelahan dan ingin minta minum tapi di kantor ini kagak ada minuman sama sekali.


Pihak menengah dari kepolisian membuka pembicaraan, menanyakan bagaimana kronologi kejadiannya. Kakakku buka bicara seperti yang aku ulas diatas tadi. Adikku tiba-tiba berbelok sementara siswi itu melaju cepat dibelakang adikku. Tidak sempat mengambil tindakan akhirnya tabrakan. Tapi anehnya orang tua yang satu itu malah menabrak adikku dan siswi itu. Konyol sekali.


Semenjak aku membeli kendaraan itu tak pernah separah adikku bila terjadi kecelakaan. Satu kali jatuh sendiri, sekali ditabrak Yahya dan 2 kali lecet sedikit menyentil belakang mobil pengendara lain. Hanya itu saja. Sebetulnya aku cukup senang.


Kenapa?


Adikku pernah, bukan pernah lagi tapi selalu menyombongkan diri denganku. Akibatnya, beginilah.. Semoga bisa menjadi pelajaran untuknya.


Tentang diskusi kami, pihak siswi dari orang tuanya menyatakan kalau mereka ikhlas saja dengan apa yang terjadi dengan anaknya dan juga kendaraannya. Ayah dan ibunya sangat pandai dalam ilmu agama. Tentang takdir kata mereka sudah tertulis jauh sebelum adanya alam semesta. Lauhul Mahfudz. Tapi tetap saja anaknya pasti akan sulit menerimanya. Jelas saja.


Bapaknya minta ridho dengan kami semua. Ya ampun.. Padahal anaknya jelas jadi korban. Kendaraannya rusak parah.


Di satu sisi lain, orang luar yang aneh, menabrak dari belakang adikku dan siswi itu.. Jelas aneh bagaimana bisa?


Polisi pun mengorek informasi dari pengendara itu. Sampai dia bilang "Tidak sempat menghindari lagi" Begitulah alasannya. Cukup unik ya kan?


Anehnya kami harus berurusan dengan mereka. Sampai kakakku dan salah satu keluarga mereka saling lempar pendapat bertentangan. Suasana sedikit memanas. Kalau aku melihat dari sudut pandangku jelaslah kalau adikku lah yang salah. Adikku yang memulai.


Orang itu tak terima pendapat kakakku akhirnya mendatangiku.

__ADS_1


"Kita berdua saja katanya" Ingin bicara denganku.


Inti pembicaraanku dengannya hanya masalah kerusakan kendaraan keluarga pribadinya saja. Tak mau sedikit pun melihat ke sisi adikku. Kendaraanku juga pecah sholder belakangnya. Namun malah aku ambil hati, aku cukup kasihan dengannya. Katanya kerjaan kami cuman begini dan begini terus kendaraan itu pun sebetulnya pinjaman. Makanya kakakku tidak percaya dengan perkataan orang ini.


"cup cup.." Kasihan juga.


Terus masalah semakin berbelit-belit. Aku ikuti saja saran orang itu. Pengen ketemu yang punya kendaraan ini lah. Alasan orangnya tidak dapat dihubungi lah. Alasannya terserah mau diberi berapa lah.


Lah? kok jadi mengemis?


"Cup cup.."


Sayangnya aku terlalu baik!


Aku kasih lah uang 500 ribu. Padahal itu uang nenekku. Tapi biarlah karena keputusannya ada ditanganku. Aku ingin cepat-cepat mandi dan meng-qodho sholat maghrib. Hanya itu saja yang aku pikirkan sekarang. Secepatnya aku ingin selesaikan masalah ini secepatnya.


Sampai ke rumah kakakku dan anehnya adikku malah protes denganku.


Inginku berkata kasar.. Tapi aku tak peduli lagi dengan mereka. Aku ingin mandi.


Yap, beginilah kalau mengajari anak dibawah umur yang angkuh berkendaraan. Makanya dengan kejadian ini cukup membuatku lega. Balasannya akan selalu ada...

__ADS_1


__ADS_2