
Sang monster labil tidaklah kesepian. Teman, keluarga, pengalaman cinta, tubuh standar hampir semua ia dapatkan. Tapi jalan yang ia tempuh tak berjalan mulus. Ketika tahun pertama sekolah SMA ibunya cerai dan membutnya sedih dan ceria ketika di sekolah, lalu sedih lagi setelah pulang. Ibunya hampir seharian tidak mau makan karena sakit hati, menangis di kamarnya. Hafidz tidak bisa berbuat apa-apa ia menyadari itu, jadi ia hanya diam dan merasakan apa yang ibunya rasakan, dengan itu rasa bersalahnya berkurang sedikit. Ia bersumpah jika si brengsek itu datang lagi kemari ia akan menghajarnya.
Amarah dan dendam membuatnya tetap melangkah maju, ia mulai pintar menyembunyikan perasaannya, padahal saat itu ia memiliki geng kepompong, ia bisa saja curhat dengan mereka namun ia merasa mereka tidak terlalu membantu, jadi ia hanya menjaga karakter cerianya di sekolah maupun dengan geng nya ia rasa itu berjalan dengan sendirinya tanpa rencana, dengan kata lain terjadi begitu saja. Ia pernah ingin mengungkapkan rahasianya ke temannya Dayat, ia berbicara sedikit dengan dia apa yang terjadi pada keluarganya. Ia merasa bebannya sedikit meringan setelah mengungkapkannya tapi jawaban Dayat lebih membuatnya semangat. Ia kembali ceria lagi.
Hari demi hari akhirnya ibunya pulih dari sakit hatinya. Keluarga dan teman yang membuat ibunya ceria lagi, ia merasa semuanya mulai baik-baik saja.
Ibunya membuat bunga-bunga plastik yang indah, yang pada saat itu lagi trend, perpaduan warna yang benar-benar indah, ia meminta ibunya untuk membuat satu untuk tugas di sekolahnya, dan jadilah bunga mawar pendek yang bercabang, agak aneh tapi ia tetap suka, guru di sekolahnya pun juga melirik hasil buatan ibunya. Ia sangat ceria.
__ADS_1
Di rumah ia tidak sengaja mendengar percakapan ibunya dengan neneknya bahwa si brengsek itu terkena santet yang membuat dia mencintai si pelakor tersebut. Siapa lagi yang bisa membuat rumah tangga seseorang hancur selain si pelakor, yang lebih mengejutkan si pelakor itu datang ke rumah ku dan ibuku yang menghadapinya. Ia sangat marah mendegar semua itu, bergejolak lagi amarahnya namun tiba-tiba saja padam mendengar kalimat kalau si brengsek itu tidak mau makan dan terus-terusan merenung itulah yang membuat si pelakor itu datang ke rumahnya. Jadi ia sadar kalau si brengsek itu memang cinta dengan ibunya.
Sms masuk di handphone jadulnya, nomor ini ia kenal sekali, si pemilik nomor ini adalah anak dari si brengsek itu, katanya dari pesan itu menanyakan di mana ibunya, ia bilang enak saja, ia marah dan mengirim kata-kata menusuk. "Enak saja dia ibuku, ibuku tidak akan ke neraka sana lagi, ibuku sangat baik dan perhatian dengan orang-orang yang disayangnya tidak seperti kalian" ia berteriak dalam hatinya. Ke esokannya ibunya menasehatinya untuk tidak mengirim sms ke dia lagi. Ia merasa terhenti karena tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia mulai bosan bersekolah.
Kejadian yang tak disukanya masih berlanjut, kali ini si brengsek itu yang datang kemari karena sudah cerai dari si plakor. Santet kalah dari kekuatan cinta. Hafidz agak terdiam sedikit memikirkan apa yang ingin dilakukannya. Rupanya mantan ayah tiri ingin ke pasar dan memberi kesempatan untuknya membelikan satu barang yang ia mau. Tanpa pikir panjang ia minta tas merk yang ia inginkan sejak dulu. Ibuku kurang setuju tapi dia masih mau membelikannya. Tas yang ia mau tidak ada, makanya dia hanya membelikan tas yang mirip dengan apa yang tadi disebutnya. Agak mengecewakan tapi ia hargai itu.
Banyak pertanyaan yang membelenggunya, yang lebih anehnya lagi ibunya mau diajak kesana. Ia berharap semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Seharusnya..
Keluarganya Hafidz datang ke rumahnya dan mengatakan kalau ibuku terkena imu penunduk dari si brengsek itu, apa?! ia mencoba memahami apa yang telah terjadi. Ibunya sedang dekat dengan seseorang makanya si brengsek itu mencoba merebutnya. Tapi kenapa harus memakai ilmu hitam.. lagi? ia merasa bersalah seharusnya ia menyadari kalau waktu itu adalah perangkap, bertapa tidak berdayanya.. lemah.. terlalu banyak celah.. ia benci dirinya sendiri, sosok ibu yang ingin ia harapkan tetap bahagia kini harus berhadapan lagi dengan masalah besar.
Amarah yang samar-samar itu telah berkobar dihatinya, sangat marah, hitam pekat. Tapi sedikit ada kelonggaran ketika mendengar ibunya ikut dengan seseorang yang mencintainya, orang itu yang sedang dekat dengan ibunya, mungkin kata hatinya dari pada ikut dengan si brengsek itu lebih baik dengan orang baru itu. Tapi tetap saja dalam tubuh rapuhnya itu sedang menyala api hitam pekat campuran dendam dan amarah yang perlahan mulai mengambil alih hatinya. Padahal waktu itu ia sedang suka dengan seseorang, ia memiliki banyak teman ceria, memiliki obsesi konspirasi, mulai memperbaiki agamanya dan mulai serius belajar, jadi warna auranya menjadi beragam. Hitam, putih, merah, biru, hijau, kuning, ungu dan warna yang belum ia sadari. Ia bertekad meningkatkan segala hal, ia tak membutuhkan kata-kata motivasi ataupun seseorang untuk menenangkannya, ia ingin kuat walaupun sendiri karena ia tahu tak ada siapapun yang bisa menolong dirinya ketika susah.
Inilah awal dari sang Monster Labil..
__ADS_1