
Aku yang terlalu sering merasakan kesenangan telah mengerti akan datang masa dimana masalah membuatku sangat terpuruk. Entah kenapa aku menganggap bahwa kesenangan itu semacam awal dari rasa sakit. Kata orang bilang kalau terlalu banyak tertawa nangisnya juga banyak.
Lalu bagaimana denganku yang sudah sering sekali merasakan kesenangan?
Aku menjadi ragu untuk bersenang-senang. Telah ku coba agar membuat semuanya berubah tapi selalu gagal.
Belum lama setelah kenaikan kelas. Reza dari kelasku ingin pindah jurusan ke IPS. Otomatis dia akan pindah kelas. Apakah yang membuatnya ingin pindah menjadi pertanyaan pertama dalam benak kami teman kelasnya. Pas pelajaran olahraga beberapa hari yang lalu kami bermain bola, bagian kemaluannya kena serunduk bola. Tentu saja kami cowo yang bermain dengannya tertawa geli. Dia tengkurap di depanku, aku sedang menjaga gawang, yang lain sudah bermain lagi rebutan bola di tengah lapangan.
"Reza kamu gak papa?" aku berhenti tersenyum menjadi cemas.
Apakah dia sangat kesakitan? beberapa detik kemudian dia bangkit dan kembali bermain. Tadi aku sempat merasakan niatan yang aneh darinya. Apakah ini salahku yang membuatnya tidak enak berada di kelas ini?
Dia membuat alasan kalau di kelas ini akan sulit baginya untuk menggapai ranking yang tinggi. Benarkah itu? aku tidak tau.
Aku melihatnya ceria saat jalan bareng dengan Bobby. Mungkin saja itu yang terbaik buatnya. Dan aku mulai mengabaikan.
Suara hati mulai terdengar meragukan. Apa yang ku lihat dan ku rasakan membuat hati ini ragu. Aku telah mengabaikan banyak hal.
Di kelas yang paling sering ku ajak bicara ialah Bobby dan Ahmadi, mereka berdua membuatku nyaman. Entah keinginan aneh apa yang membuatku sering dekat dengan mereka berdua. Apakah adanya rasa kesetaraan? ataukah rasa untuk menghilangkan perasaan kehilangan? Kau tahu aku agak minder bila dekat dengan orang yang punya harta lebih dan rasa kehilangan setelah berpisah dengan kelas dulu. Perasaan mulai bercampur aduk.
__ADS_1
Bagaimana caranya tertawa yang tulus? aku tidak ingat, aku telah melupakannya.
Dan baru ku sadari kalau jauh di dalam lubuk hati telah muncul perasaan dingin yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Perlahan mengubah kepribadianku.
Ketika Gania memanggilku untuk patungan uang merayakan ultah wali kelas kami dulu Via bertanya padaku hubungan apa aku dengannya. Aku melototinya. Aku marah kemudian menyesal. Padahal kalau aku yang biasanya akan bersikap acuh atau baik tapi sekarang berbeda. Mereka berisik. Itulah yang membuatku marah. Aku tidak tau mana yang benar.
Via dikerumuni dan ditanyai teman yang lain kenapa sampai membuat aku marah..
Maaf aku sedang bimbang oleh perubahan yang aku alami.
Ketika aku diajak oleh teman kelasku dulu aku malah menolaknya. Aku seharusnya senang mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan mereka tapi aku lebih memilih bersama kelas baru. Apakah itu artinya aku telah move on dari mereka? Atau sengaja menelan pahit?
Aku sedang bingung. Tidak adanya sandaran membuatku kacau. Aku mau curhat dengan siapa? semua hanya kenalan dan tidak akan ada yang mengerti tentangku.
Murung tentu saja aku murung tapi yang anehnya aku masih bisa tersenyum. Apa yang membuatku berbuat demikian? sampai menunjukan ekspresi palsu. Aku tidak tau.
Secara bersamaan semua emosi bisa aku pikul dipundak.
Zheill pernah bertanya padaku. Kenapa aku bisa suka dengan Aulia? pertanyaan yang sangat familiar. Jawabanku tentu saja bukan sedang memanfaatkannya. Aku tidak pernah meminta bantuannya dalam hal pelajaran. Mendekat pun rasanya susah karena ada dinding yang sedang menghalangi. Lalu aku suka dengannya pastinya karena dia keren. Sosok yang mungkin akan menjadi jawaban atas pertanyaan lain yang aku cari. Aku tahu kalau kami tidak akan pernah bisa menjalani hubungan serius karena instingku yang bilang begitu. Aku menutupinya dengan alasan lain.
__ADS_1
Ketika Seha mencoba mendekatiku dengan berbicara ringan aku menolaknya langsung. Kenapa? bukannya aku cemburu tapi ada perasaan lain yang menggangguku yang datang darinya. Dia mencoba memberitahuku akan hal yang penting. Aku tahu itu makanya aku langsung menjauhinya. Aku tahu itu tapi aku tak tau harus berbuat apa. Bila aku menjauh salahkah aku?
Ketika aku ditanya apakah aku suka dengan Shevira oleh wali kelasku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa wali kelasku bertanya seperti itu pada muridnya yang aneh ini? terlintas dibenakku untuk menjawab pertanyaan itu. Aku menjawab tidak karena dia nakal. Wahh hebat sekali kau pis. Sekarang kau akan dibenci oleh semua orang. Mau bagaimana lagi aku tidak tau harus menjawab apa. Semuanya berisik. Salahkah kalau aku menjawab begitu? Yang salah adalah kenapa aku masih mendekat dengan mereka.
Ketika aku ujian pelajaran olahraga untuk shooting bola basket. Aku memasukan 2 saja ke dalam ring. Maksimalnya 3 kali dengan posisi berbeda. Itu cukup untuk dapat nilai sedang. Tapi aku terlalu senang dan mengekspresikannya secara berlebihan kepada teman yang lain. Sial aku baru sadar, tubuhku yang tinggi membuatku mudah melakukan shoot, beda dengan yang lain. Aku berhenti senang. Hanya terdiam meratapi kesalahan.
Bobby mulai tidak suka dengan kehadiranku yang berisik. Aku terlalu banyak bicara. Aku tahu itu karena auranya menunjukkan sedikit perasaan untuk menghindariku. Aku terlalu banyak bicara, terlalu banyak omong kosong yang keluar dari mulutku. Aneh.
Kok aku bisa bersikap berlebihan?
Apa yang membuatku bersikap berlebihan?
Hampir semua tindakan di dasari oleh naluri tanpa berpikir sedikitpun. Aku bicara, aku belajar, aku bergaul dengan yang lain, semuanya tergerak sendiri tanpaku minta.
Inikah yang di maksud topeng kepribadian?
Jika kalau begitu keadaanku saat ini sedang buruk sekali. Parah saat dimana aku mengekspresikannya secara berlebihan.
Inilah yang harus disempurnakan!
__ADS_1
Tentu salah bila tindakanku sampai merugikan orang-orang di sekitarku.