Monster Labil

Monster Labil
Peningkatan


__ADS_3

Aku dan Pak Iban tidaklah akrab. Kami berdua baru membangun hubungan setelah aku bekerja di sini. Pak Iban sendiri jarang sekali terlihat di kampung makanya agak sulit untukku ketika ingin berkomunikasi dengannya.


Aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting. Tapi sebaiknya aku harus menunggu saat-saat yang tepat saja.


"Fidz.. apa kamu gak malu bekerja di sini?.." Ustadz Ma'mun bertanya padaku.


Jujur aku malu..


Malu karena dilihat siswi-siswi bukan malu karena pekerjaannya.


Mungkin bisa disebut naluri para pria ingin terlihat keren di mata lawan jenisnya makanya agak gerogi gitu bila deket atau di dekati siswi-siswi.. emm


Tapi pertanyaan ustadz adalah tentang pekerjaan jadi aku bisa menjawab bahwa aku tidak malu kalau harus bekerja ini itu yang kurang lebih sama dengan pekerjaan rumah.


Hemph! yang penting pekerjaannya halal dan pengen beribadah enak karena di sini lingkungan agamis. Anak pesantren yang berada di samping sekolah SMA ini bisa aku rasakan aura semangat belajar mereka. Wahh! aku juga harus semangat belajar!!


ups.. jangan sampai melepaskan tenaga besar nanti terpakai tenaga Beater.


Setiap kali aku ingatkan diriku agar tidak boleh membangun hubungan terlalu dekat dengan guru-guru di sini, dengan kata lain mereka tak boleh tahu siapa aku sebenarnya. Aku juga harus menahan diriku supaya tidak labil. Tak boleh terlalu bersemangat, terlalu sedih dan apapun emosi yang berlebihan tak perlu ditunjukkan pada mereka. Kali ini benar-benar sulit. Harus benar-benar teliti.


_


Suatu ketika aku di ruangan, Ma'am Rose bilang padaku pernah melihatku tapi lupa di mana katanya. Aku jadi gugup. Mungkinkah.. ketika aku jadi buronan polisi?? ahaha, bukan-bukan..


Aku berpikir juga demikian tapi untuk ustadz Ma'mun dan Pak Riza, entah di mana aku juga pernah melihatnya. De javu kah? atau memang perasaan dari takdir yang sudah terasa sebelumnya. Kalau memang iya, kurasa itu akan jadi hal yang bagus.

__ADS_1


_


Hari kurban.


Ustadz Zul mengajakku untuk ikut partisipasi memotong daging kurban pada hari minggu nanti tanggal 11 agustus. Sulit sebetulnya untuk menolak karena aku juga dapat kupon daging kurban di sini tapi mengingat tenagaku sedikit dan perlu istirahat jadi terpaksa sekali aku harus menolaknya dengan alasan aku juga ingin membantu memotong daging kurban di kampung. Padahal.. belum tentu aku ikut.


Apakah artinya aku berbohong?


Jika aku tidak melakukan berarti berbohong.


Gawat.. pasti, aku takkan melakukannya.


Ada satu alasan lagi kenapa aku ragu dengan bujukan ustadz Zul ini. Instingku berkata orang ini perlu aku jauhi. Matanya pun hampir sama denganku. Hanya wawas diri saja.


Setelah aku menolak terlihat raut wajahnya agak cemberut. Aku jadi gak enakkan.


Tempatnya di Mesjid ini yang juga termasuk wilayah Yayasan Hasbunallah. Dulu aku kira cuman ada sekolah SD saja rupanya ada SMP, SMA dan Ponpes. Luas banget. Teringat kata pak Tri yang sekarang menjabat sebagai ketua Yayasan, perjuang Guru Ahmad dan guru lainnya sangat luar biasa. Kalau di ceritakan yaa kurang lebih seperti pada umumnya ujian. Kadang turun naik. Asalkan niat lurus semua perjuangan pasti hasilnya bagus. Btw.. kok cuman ada sedikit kendaraan yang parkir di depan mesjid ini. Jangan-jangan gua salah hari? yang benar saja. Mungkin ada di belakang mesjid ini.


Aku menyusuri lewat samping kiri mesjid. Nah, terlihat dari kejauhan banyak sekali orang, lekas aku berjalan ke sana.


Wahh.. sibuk sekali.


"nah hafidz, ayok jangan berdiri saja cepat bantu.."


"ah, iya-iya.." segera setelah meletakkan tas dan jaketku aku langsung membantu.

__ADS_1


Aku lihat bagian memotong kulit sapinya kekurangan orang, baiklah ayo lakukan seperti sewajarnya.


Ramai juga, ada beberapa anak-anak yang ikut membantu kami.


"itu ***** nya sapi masukan dalam kantong juga" 😂😂


Beberapa orang pasti ada juga yang suka bercanda haha.


Istirahat sebentar aku berbincang-bincang dengan ustadz Ma'mun dan salah satu temannya yang sekarang jadi guru mengaji atau guru Ummi. Temannya bercerita banyak tentang perjuangannya dari bawah sampai sekarang. Mulai dari menjadi OB di sebuah studio katanya, kalo gak salah. Jadi intinya dia pengen motivasi aku untuk tidak berkecil hati mendapatkan pekerjaan ini.


Dalam hati aku berkata "aku punya tujuan, bagiku pekerjaan ini adalah pelatihan diri jadi mana mungkin diriku terusik hanya karena pekerjaan ini"


Aku tidak gila harta ataupun jabatan, yang ku inginkan hanyalah menjadi lebih baik.


Jika aku tak berdoa untuk didorong, untuk berjuang kepada Allah swt. mungkin saja aku takkan sampai saat ini. Semuanya bukanlah hasil dariku seorang. Aku tak ada daya maupun kuasa.


...


Kesempatan datang untuk menanyakan tentang OB sebelumnya, maksudku


"Apakah kerja dia sangat bagus?.."


Perasaan memang tak enak membicarakan orang lain diam-diam tapi aku butuh kepastian. Misalnya kerjanya jauh lebih baik maka aku harus lebih berusaha dan jika tidak.. aku bisa perlahan-lahan berkembang tanpa memaksakan diri.


Jawabannya begitulah sebetulnya aku sudah menduga. Tapi karena dari saksinya aku bisa memastikan.

__ADS_1


Aku jadi cheer up karena yakin bisa melampauinya.


__ADS_2