
Hari ini kami setiap juruan akan memasuki ruangannya, aku orang yang mudah termotivasi dan mudah menyerah dan juga labil, kadang banyak temanku yang menyerah dengan sikapku haha mungkin tanpa sadar aku membuat penghalang. Aku selalu kagum bila ada tokoh yang selalu berjuang sendiri, bisa menyelesaikan masalah sendiri, tak merugikan orang lain,sikap baik dan banyak lagi tapi itu semua mustahil ku karna takdir ku yah begitulah itu sih menurut pengamatanku. Sesampai di parkiran aku melihat Ramlan, tumben cepat ucapku kami berbincang tak terlalu banyak karena aku tak pandai bicara. Semakin banyak orang-orang berdatangan dan akhirnya tiba aku melangkah mencari ruangannya, bertanya dan dapat, gile lumayan luas yah wajar sih.
__ADS_1
Kami duduk dan perkenalan “ini yang paling tak kusuka” ujar ku.. Nama Hafidz Rachmadana, tinggal di Jangkung, lulusan SMA tahun kamarin kemudian aku ditanyai kenapa tak melanjutkan kuliah, eh! Gua terkejut yah itu gak punya uang, selesai perkenalan aku mencoba duduk tapi tersandung tiba-tiba aku mendengar “nah mabuk kawan” eh oh orang yang ada di pojok, aku sedikit meningkatkan kepekaan ku. Jam istirahat aku membuka buku yang diberikan dari instruktur kami, membacanya sedikit, “bro kenapa lu masuk BLK ??” seseorang dari belakangku bertanya “aku disuruh masuk BLK yah padahal aku gak mau sih” jawabku “nah bro lu ngabisin beras sama uang negara aja hahaha!!!” sontak membuat beberapa yang lain tertawa juga “gile orang-orang di kelas gua preman semua ngeselin” ucapku dalam hati. Hari berikutnya malah tambah parah seperti bahan ejekan saja, aku mulai marah dan berniat menghancurkan mereka.
__ADS_1
Aku mulai mengenal beberapa saja diantara mereka yang paling mencolok maksudku yang suka ngejek aku dua orang nama mereka sama-sama Agus awalannya, aku berpikir tak apa juga kalau aku mengembangkan bakat ku toh mereka dengan sendirinya juga akan berkembang walaupun mencoba untuk menghentikannya, pertama hancurkan lewat teori kemudian, lewat praktek dan mengambil perhatian dari instruktur, liat aja gua serius. Hari ke-3 kami belajar tentang alat-alat kerja sampai hampir jam 12 kami istirahat dan sholat yah kami itu hanya aku dan Ahmad saja sih kalau yang lainnya aku tak tau. Menurut ku hanya Ahmad lah satu-satunya orang yang baik di kelas, Ahmad pun sering diejek sama yang lain, “ada aja orang yang jahat” aku menghela nafas, di jalan menuju mushola aku dan Ahmad berbincang-bincang soal jangka sorong, aku bertanya-tanya tentang jangka sorong itu apa, tapi Ahmad tak bisa mejelaskannya katanya sulit.
__ADS_1
Praktek kali ini mendadak dilakukan karena alasan tertentu, dan mendadak hasil praktek sedang yah itu menurut pengamatan gua, aku berbicara dengan Ahmad tiba-tiba Agus yang berdiri dibelakang gua masuk percakapan kami dalam hati “oh kami sudah sederajat lebih tinggi ya? jadi cuman itu kemamupuan lu, 6 tahun lebih tua dariku belajar apa aja sih elu semasa itu” ujarku dalam hati, hari demi hari berlalu gua mulai terbiasa dengan yang lain dan aku mengalami peningkatan, tiba-tiba instruktur menawarkan magang di tambang, gua kaget plus bingung “iya pak” menjawab dengan pelan, kelepasan!, gua mulai tak percaya diri, tapi baru pertama kali aku berbicara dengan bapak instruktur rasanya canggung banget, biasanya pun begitu saat satu ruangan hening, mah nanti juga bakal terbiasa. Hari berlalu dengan lambat aku mulai sering memaksakan diri tapi tenang aja ada Beater haha, aku berpikir males ah menghacurkan mereka soalnya cara itu emang gak baik, kata Hafidz mending berteman dengan semua aja *Huhh* terserahlah…
__ADS_1
Yup setelah melihat hasil dari berminggu-minggu kami lumayan akrab sebenarnya lelah banget tiap hari makai otak, fokus berjam-jam namun aku sadar apa tiap harinya anak kuliahan begini ya atau lebih berat lagi? “nyesal fidz bila lu gak kuliah” ucap Anto teman kelas Las Listrik, sambil berpikir aku keluar dari ruangan dan tiba-tiba aku berpas-pasan dengan 2 orang cewe yang masuk ruangan kami, seperti aku kenal salah satunya namun belum pasti. Aku kembali masuk keruangan setelah membasuh kedua telapak tangan ku yang kotor, leh ni cewe-cewe ngapain sih ngeliatin kami, mereka berdua duduk dikursi di dekat pintu masuk dan ada beberapa diantara kami yang mengobrol dengan mereka, dengan nada yang cukup tinggi para cewe itu ngobrol, wah mereka pasti pengen cari pacar sesuai pengamatan sederhana ku, gua gak peduli “wah hafidz sudah dewasa” ucap Agus, entah darimana pemikirannya sampai bilang aku begitu, abaikan gua gak tertarik, aku duduk di bangku dan mulai mencoret-coreti buku kemudian Anto memulai pembicaraan denganku “fidz kenapa elu gak pacaran?” aku terdiam sebentar dan menjawab “males” balas Anto “kenapa malas” reflex bro sorry yah ada banyak hal bro tapi masa gua mau curhat ke elu kan aneh, jadi jawaban gua “males bro hehe” untuk yang ke tiga kalinya.
__ADS_1