
Lelah banget..
Mata 5 watt..
Hari ini mesti mengambil uang pensiunan kakek ku pula. Terus setelahnya menghadiri tetangga yang meninggal dunia. Hmm.. Kayaknya cuman siang ini aja aku bisa tidur sebentar. Bahaya banget loh kalau aku sampai kurang tidur, nanti kepribadian labil ku bisa lepas lagi, ah maksudku yang titik-titik cahaya pengingat itu, yang gunanya untuk ya iyalah untuk mengingatkan.
zzz..
Memasuki mode hemat biaya. Mengecilkan pembagian fokus untuk hal yang lebih penting seperti pengendalian emosi, tetap ramah dengan orang lain dan kebiasaan penting lainnya. Ya harus diniatkan sejak awal supaya dipermudah.
Sampai di kantor pos. Aku melepaskan helm ku terus berjalan menuju ke pintu depan. Ah aku melihat sudah banyak orang tua berkumpul. Kebanyakan kakek-kakek ya emang para pensiunan sih.
Berjalan, aku tak sengaja meninggikan diriku dengan menegakkan wajah, membusungkan dada dan auraku.
Ah aku kelupaan. Khilaf. Gak boleh sombong.. gak boleh.
Untuk menetralkan tindakan dan mengubah pikiran mereka tentang ku aku memberi senyum salam.
Good.. nice step
Masalah pertama bisa teratasi.
Masuk ke dalam ruangan. Setelah meletakkan kartu pensiunan di tempat antrian aku mencari tempat duduk. Ew banyak orang, tetap bertindak murah senyum. 3:)
Aku melihat ketua RT tetangga duduk di bangku dekat pintu. Ada ruang di sampingnya tanpa pikir panjang aku langsung milih duduk di sebelahnya. Ah pilihan yang bagus. Bagus artinya merujuk ke kondisi. Bukan karena ada yang bisa diajak ngobrol tapi karena bisa menutupi keberadaan. Aku suka keadaan dimana saat orang lain tidak menatapku. Di sudut ini, aku duduk membelakangi orang-orang.
Yaa.. aku sedang belajar menekan kemampuan penglihatan Beater ku. Memilih pilihan yang baik untuk bisa asyik sendiri agar mengabaikan orang di sekitar dengan mengalihkan pikiran, contoh main game. Mengabaikan kepribadian mereka.
Ew suasana hatiku sedang bagus nih walaupun mengantuk, makanya karakter diri lebih ke sisi sifat asli. Pengambilan tindakan akan sesuai yang disarankan, jawaban yang baik yang terlintas ketika muncul pertanyaan pilihan.
Aku berjabat tangan dengannya.
"mewakili nenek mu ya?" katanya
"inggih(iya), kasian nenek sudah tua malah disuruh ke sini melulu"
Tak terlalu banyak yang kami bicarakan karena aku berusaha untuk tidak banyak bicara. Pembicaraan yang tak terlalu bermanfaat akan aku respon dengan tertawa kecil(beda nada), gerak gerik dan balasan singkat yang kurasa cukup. Kurasa? yaa menyesuaikan apa yang kita anggap cukup, mungkin kalau ketemu sama orang yang suka bicara beda lagi. Yang suka bicara itu pasti tukang gosip, yang suka gosip pasti suka merendahkan orang lain. Naluriku mengatakan untuk harus selalu jaga jarak dengan penggosip. Sebab dalam peningkatan pergaulan ada kalanya membuat kebiasaan dengan tiap orang. Jika aku bisa terus mempertahankan diri untuk tetap terjaga dari penggosip sampai tua nanti maka akan jadi kebiasaan baik. Terlebih penting saat-saat dimana aku belajar dalam bergaul adalah bagaimana semua pihak merasa tenang atau tidak mengecewakan mereka. "Buatlah mereka senang ketika berjumpa dengan ku supaya silaturahmi bisa terjalin"
Niat dengan membesarkan Kemuliaan Nabi kita Baginda Muhammad s.a.w.
Ketegasan dalam pendirian sedikit menyulitkan juga. Misalnya aku terlalu mementingkan diri pribadi akan ada ketidakseimbangan keadilan. Yup! dulu aku sering banget ngelakukannya. Sok merasa sendirilah yang paling benar sehingga banyak yang terabaikan. Berandai pun percuma.
Semua menjadi penyesalan yang tak berguna
...
Sesekali aku melihat keadaan sekitar untuk memastikan. Memastikan apa? kalau ada teroris wkwkw ngaur. Gak lah. Hanya sekedar antisipasi saja.
*uhhh
Lelah banget, nunggu antriannya lama. Pak RT sudah mendapatkan gilirannya.
__ADS_1
Setelah 3 antrian dari pak RT tetangga tadi akhirnya giliran ku tiba.
"neneknya sakit kah?" tanya kakaknya
eh? bukannya bulan kemarin aku sudah menjelaskannya.
"aa nenek ulun punggungnya mudah sakit bila kelamaan duduk" apalagi berkendaraan pas ngelewati jalan berlubang.
Kakanya menunjukkan ekspresi tidak puas dengan memonyongkan bibirnya. Emm aku gak mungkin bohong. Apa kakanya khawatir kalau aku menindas nenekku? lol, mana mungkin.
Kemudian kakaknya menanyakan lagi di mana rumahku. Aku menjawab. Jangkung RT 3. Dekat mana katanya lagi.
"tikungan kak sebelum jembatan pokoknya"
RT tempat ku tinggal gak memiliki jalan simpangan cuman lurus gitu aja jadi mana mungkin orang bakal kesasar.
Tapi kakanya malah kebingungan. Apa aku kurang penjelasanku kurang jelas? semakin bingung kami berdua jadi sama-sama bingung.
Au ah aku mulai pusing..
"nih ini uangnya 1 jt sekian"
Oke makasih kak. Aku menaruh uangnya ke dalam tas.
Terdengar suara dalam hatiku, bisikan jahat.
Lol!!! buat apa juga aku ngambil uang nenekku. Membisik malah terang-terangan, payah.
Setelah mengambil uang pensiunan selanjutnya menghadiri kematian. Buat perempuan termasuk nenekku ingin nyumbang semangkuk beras dan bantu-bantu. Kalau aku sih lihat situasinya dulu apakah bisa bantu atau tidak biasanya laki-laki cuman sholat fardhu kifayah dan berdzikir untuk si mayat/mayit.
Aku bersalaman dengan orang yang mudah terjangkau aja. Karna masuk ke dalam area perkumpulan bukanlah pilihan yang bagus untukku. Aku memang suka menyendiri dan lebih memilih menyendiri.
Penyebabnya tau sendiri kan?
Aku melihat beberapa bapak-bapak sedang membuat sesuatu dari papan kayu. Mungkin peti untuk si mayit. Kalau makai peti berarti daerah pemakamannya berair. Aku mendekat agar bisa bantu-bantu.
"sini ulun bantu" ucapku meminta gantian dengan pak Upik
Pak Upik menyerahkan gergajinya padaku.
Oyey! dapat nilai partisipasi >_<
Sedikit aku menggergaji berasa sekali kalau tanganku gak bertenaga. Eww.. udah lama banget aku gak olahraga. Ya soalnya tiap hari masalahku cuman satu.. yaitu ngantuk.
Mau buang amalan berarti dosa dong. Menyalahkan fisik juga dosa. Entahlah.. emang gak semua hal bisa kita jangkau. Ikhlas menerimanya adalah tindakan terbaik.
*drrttt
Awww.. urat belakang leherku memintaku agar segera istirahat. Sayangnya belum saatnya. Tapi.. duduk sebentar gak papalah toh aku gak dapat lagi giliran buat bantu-bantu.
*hoamm
__ADS_1
-__- uhh makin serem aja nih ekspresi wajahku karna mata panda.
Terdengar dari belakang suara kendaraan. Memarkir? Aku menoleh kebelakang rupanya orang tuanya Aldy. Aku mencoba tersenyum kecil sebagai sapaan namun ekspresi dan hawa-hawa udara di sekitar mereka seperti tidak senang. Bukan karena tetangga mereka.. tapi karna aku.
Kenapa bukan karna tetangga? karena dulu keluarga mereka pernah bertengkar. Sedikit ku pastikan itu. Tapi hadirnya mereka menghadiri tetangganya yang berduka bukankah itu artinya hubungannya memang baik.
Alasannya? baik apa ada tujuan ataukah murni ke ikhlasan diri?
Bukan tentu bukan itu masalahnya tapi aku. Ya aku.
Kenapa aku? karena aku sering mengajak anaknya pergi ke warnet sampai pernah kena tilang ha ha ha.. bahkan beberapa minggu kemarin si Aldy ketahuan orang tuanya pergi malam-malam lagi ke warnet. Tentu saja itu jadi salahku. Karena telah tertanam dalam pikiran orang tuanya kalau "pasti" aku yang mengajaknya.
Hmm..
Kemudian aku bisa membaca apa yang terjadi.
Jangan berteman lagi dengan si monster labil, sudah pengangguran pasti punya banyak masalah..
Dan wajah suram ku hari ini pas banget Critical Strike saat jumpa orang tuanya.
Gak juga orang tuanya Aldy. Tapi teman di group tahu bulat.
Aku melihat semua bayangan dari hubungan ortu teman ku dengan anaknya.. mengenai aku.. membicarakan tentangku.
Hmm..
Berteman dengan mereka gak semudah seperti dulu lagi. Makanya aku sering diam tak banyak bertingkah seperti dulu. Karena Hapis itu kekanakan. Tak akan pernah punya teman yang dewasa.
Harusnya aku punya perkerjaan yang tinggi agar bisa menyamai kedudukan mereka.
Fear..
Pikiranku mulai tenggelam dalam pikiran negatif.
Aku mendengar obrolan ibu-ibu yang tak sengaja ku dengar. Terdengar ada namaku dalam obrolan mereka.
Ahh..
Satu saja masalahnya yaitu apa yang sedang ku kerjakan. Apakah memang harus punya jabatan tinggi agar bisa berbicara dengan mereka dan tak dipandang sebelah mata.
Sayangnya aku tak seperti mereka. Itulah alasan mengapa aku berkhayal bisa bertemu kembaran ku.
Aneh juga ya.. manusia..
Ingin menunjukkan kehebatanku, ditepis dengan kalimat;
orang-orang yang membencimu tidak membutuhkan kelebihanmu..
Juga jika aku melakukannya termasuk orang yang sombong.
Jika aku emosi pasti yang terlintas dalam benak adalah bagaimana cara membungkam mereka.
__ADS_1
Menghindar dari masyarakat juga mustahil.
Lalu kenapa aku tidak kerja saja? karena aku punya pendapat yang membuatku tertahan untuk melakukannya..