
Aku lagi ingin sendiri, tidak ingin bicara dan tidak ingin memikirkan orang lain. Berusaha sebisa mungkin menjauh dari pergaulan. Sifat labil ku sedang kambuh. Hanya orang yang spesial saja yang dapat berbicara dengan ku. Hati ku lebih sejuk kalau sedang sendiri. Pikiran ku secara otomatis mengidentifikasi orang lain saat mereka berada dalam jarak kurang lebih 5 meteran. Semakin jauh dari radar semakin berkurang kekuatan kemampuan ku ini. Mana mungkin aku berteriak atau berbisik pada orang-orang untuk menjauh dari hadapan ku. Jalan terbaik saat ini adalah menghindar.
Aku berjalan cepat menuju tempat ibadah tapi saat di depan halaman si Hakim menarik lengan ku karena aku berusaha menjauh dari kerumunan. Aku tahu dia sedang bercanda tapi gak gitu juga.
Sakitlah karena genggamannya keras.
Kezzalll!!! beraninya menarik ku. Aku menunjukkan ekspresi marah dari karakter Beater. Aku merendahkannya.
Ah sial emosiku juga kambuh.
Cobalah memikirkan sekitar sebelum bercanda. Pentingnya sebuah perasaan untuk dihargai. Tapi respon ku tadi juga kurang pantas seharusnya aku sabar. Aku pernah bilang untuk menahan emosi tapi justru aku sendiri tidak terlalu pandai menahan emosi.
Dulu pernah tetangga ku ditangkap oleh polisi karena memakai obat-obatan. Tetangga ku ini bersembunyi di dalam rumah ibadah. Setelah ditangkap bertebar luaslah gosip, dan sampai ke telinga ku. Aku tidak sengaja mendengarnya. Setelah mendengar apa yang terjadi dengan tetangga ku aku langsung pergi menjauh dari tukang gosip, sejauh mungkin sampai tak terdengar oleh ku. Mendengarkan gosip membuat ku berpikir negatif antara keduanya, juga mengundang dosa. Aku tidak mau digosipkan.
Besoknya kawanan malah menjadikan kejadian itu sebagai candaan. Aku marah dengan Hakim karena ia berada di antara mereka. Aku menegurnya seadanya.
Huufftt..
__ADS_1
Jangan berpikir negatif.
Seharusnya aku bersikap baik bila berjumpa dengan orang-orang. Saat bersalam-salaman aku berniat memaafkan kesalahan Hakim. Jarang aku meminta seseorang untuk memaafkan kesalahan ku walaupun dengan cara halus seperti bersalam-salaman. Hal itu sebagai hukaman ku atas apa yang telah ku perbuat. Tanpa dari hati yang tulus sebuah permintaan maaf berkurang nilainya. Sementara disisi ku, semua orang yang pernah menyakiti ku akan aku maafkan apabila aku ingat dan sadar. Makanya sekarang sebisa mungkin aku akan mengurangi pergaulan dengan orang-orang. Kecuali dalam keadaan yang penting saja. Pelajaran untuk ku agar terjauh dari kesalahan. Sekuat tenaga untuk mempertahankan perasaan ini.
Pagi hari jam 9 lewat, aku pergi memancing di sungai. Tentu saja aku sendirian. Sebelum ke sungai aku mampir dulu ke warung untuk membeli makanan. Di depan toko aku melihat pengendara sepeda motor yang memutar tutup tangki bensin kendaraannya. Aku lega karena tidak perlu lagi memanggil pemilik tokonya. Langsung saja aku memilih makanan ringan dan minuman. Muncul lah anak pemilik toko menyerahkan uang kembalian si pengendara tadi. Uah cewek cantik rupanya. Kalau gak memakai kerudung emang berbahaya. Aku bertanya harga snack apa saja yang 500an rupiah agar uang ku pas dengan belanjaan. Aku membawa 3 uang koin 1000Rp, aku menyerahkannya pelan-pelan di atas telapak tangannya yang kecil. Sebisa mungkin agar tidak bersentuhan namun sayang, dia menyentuh tangan ku. Aku kaget dan menjatuhkan satu uang koinnya. Secepatnya aku mengambil. Ah salah ku.
"Uangnya pas ya?" suaranya agak tinggi dan terdengar ceria. Wah kemampuannya untuk membuat pelanggan mood hebat juga. Ekspersi ceria dan suara yang jelas, nilai plus penampilannya. Oups to to! tenang guys! aku hanya 2 kali saja menatap wajahnya saat pertama datang dan menyerahkan uang yang jatuh tadi. Kita sebagai cowok harus jaga pandangan😤.
Sampai di dekat sungai aku memarkirkan kendaraan ku di dekat kendaran orang lain. Dari atas sini aku melihat sungai yang surut sekali. Wajar musim kemarau. Hasrat ingin memancing sudah tak bisa dibendung. Langsung saja aku bergegas menuruni tebing. Aku tidak takut terpeleset sebab aku punya refleks yang bagus. Di saat-saat begini aku mengeluarkan kuda-kuda ku. Aku menamainya Gerakan Insting😂. Kalau belum pemanasan bisa keseleo memakai skillnya apalagi kalau fail bisa patah tulang. Intinya gerakan insting hanya aktif jika dalam keadaan terdesak, contohnya jatuh meluncur di tebing😐. Gak lah, mana mau gua sengaja jatuh gitu. Habisin energi saja.
Well alat pancing ku sudah siap, memasang umpan lalu melemparnya ke tempat yang ku anggap ada ikannya. Masih tentang insting.
Terik matahari membuat keringat ku bercucuran. Aku sedang mengenakan jaket juga sih sebagai penghalang sinar matahari, panasnya dua kali lipat. Aku masih bisa menahannya.
Kenapa aku bela-belain mancing di hari yang panas begini?
Aku hanya suka saja memancing. Ketidaktahuan kapan ikan-ikan akan menyambar umpan ku. Hal itu membuat ku tetap waspada.
__ADS_1
Kedua, setelah ikannya terkena kail pancing aku tidak tahu ikan apa yang akan ku dapat. Seperti bermain gacha.
Pernah sekali aku mendapatkan kura-kura cangkang lunak yang masih anakan. Ah kasian sekali dia akupun melepaskannya. Mana mau kami memakan hewan tersebut. Bidawang sebutannya, aku tak ingin lagi hewan itu nyangkut dikail pancing ku. Lalu yang paling diharapkan tentu saja ikan yang besar. Ya memang semua pemancing mengharapkannya.
Ketiga sabar, tapi tiap detiknya aku memancing jarang sekali aku menyesal kalau tidak mendapatkan apa-apa. Sebab memancing di sungai ini sendirian membuatku tenang. Aku bisa berpikir sesuka ku tanpa ada yang mengganggu. Menikmati tiap detiknya bermesraan dengan alam.
Tenang dan damai.
Saat ini pilihan terbaik untuk menenangkan kondisi labil ku adalah memancing. Sambil berpikir bagaimana caranya untuk menjauh dari orang-orang, terutama si Hakim dan si tukang gosip. Entah kenapa aku merasa sangat terganggu bila ada kehadirannya. Aku tahu kalau si Hakim suka berada di dekatku. Sudah banyak aku melihat ekspresi yang seperti itu, aku sudah hafal. Ditambah dengan menebak niat orang lain menjadikan kehadiran ku sulit untuk di dekati. Aku males berurusan dengan banyak orang.
Tapi tiap malam aku harus bertemu dengannya, memikirkan itu sangat mengganggu ku. Kalau boleh jujur apa yang tidak ku suka darinya adalah sifatnya yang suka bercanda dan banyak kepo(ingin tahu).
Bedanya Hakim dan Raga simple saja dari dua hal di atas. Raga bercandanya tidak keterlaluan dan tidak pernah kepo urusan ku. Raga suka dekat dengan ku, aku juga suka dekat dengannya, dia baik. Ini masalah adab kita dalam bergaul. Pada kondisi labil "ingin sendiri" seperti ini siapa saja yang membuatku jengkel akan aku mark dalam black-list ku. Ingin tahu tentang diriku? aku sudah membaca niatnya. Cara mengucapkan, nada suara, ekspresi, penyebab, semua informasi telah terolah dalam pikiran ku. Beater sangat sensitif kalau ada yang kepo dengan urusannya. Belajar dari pengalaman buruk.
Aku berusaha sabar dari tindakan mereka. Menjauh sebisa mungkin. Karena aku tahu sangat mustahil bagi mereka untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan ku. Tidak ada pola atau kebiasaan untuk mempelajari sifat labil ku ini, bahkan aku sendiri tidak bisa memahaminya.
Ah pusing.
__ADS_1
Aku ingat satu hal tentang perbaikan sifat ku ini. Tanpa sadar aku telah membuat harapan muncul agar sifat labil ku terkontrol. Benar juga. Sumpah aku baru menyadarinya. Tindakan ku saat ini adalah salah satu pencegahan sifat labil ku. Yaa walaupun masih berdampak pada orang di sekitar ku. Tapi secercah harapan ini memberi ku inspirasi agar mengambil pelajaran penting dalam menangani sifat labil. Layaknya mengurai benang kusut. Aku melihat celah.
Untuk saat ini aku harus tetap menyendiri.