
Aku membutuhkan banyak waktu supaya bisa menyelesaikan tugasku. Agak sebal juga tiap kali harus pulang hampir maghrib untuk menyempatkan waktu. Banyak hal-hal yang belum diketahui menjadi kendalaku saat ini.
Solusi.. aku harus mencari solusi yang tepat daripada menunggu berjalannya waktu.
Hari sabtu dan minggu libur karena sekolah yang dibawah naungan Yayasan Hasbunallah memiliki peraturan seperti itu.
Benar juga.. bekerja di sini sudah seperti yang ditakdirkan soalnya dulu aku pernah berharap agar dapat pekerjaan yang paling enggak ada hari liburnya supaya bisa istirahat dan kini telah terkabul.
Aku harus serius. Tidak boleh terlalu memaksakan diri dan pokoknya menjaga kepribadian, jangan sampai orang-orang di sini terkena imbas efek labilku. Murni sejernih air.
Setelah literasi, guru-gurunya apel pagi di depan ruang guru. Aku diajak pak Iban untuk ikut.
Pengen sih nolak tapi yaa..
"...kita kedatangan teman baru ya, kerjanya juga sudah mulai terlihat"
Aku rasa memang lantainya sudah terlihat seperti baru tapi pencapaianku sekarang hanya ini. Lantai di atas belum tersentuhku sama sekali huhu~
Aku sedikit kaget karena disuruh memperkenalkan diri. Emm baiklah seadanya saja.
"Assalamualaikum wr.wb. perkenalan nama ulun Hafidz Rachmadana, tinggal di Jangkung dekat rumah Pak Iban, hobi main game.. dan.. emm.. itu aja, apakah ada pertanyaan??"
__ADS_1
Agak gugup jadi sulit menggerakkan bibir.
"panggilannya siapa?" salah seorang guru menanyakan.
"ah, bisa panggil Hafidz atau Dana"
"Hafidz aja ya?"
"iya boleh kok"
Guru-guru yang lain mulai bercanda karena sudah banyak yang kerja di sini berasal dari Jangkung, kampung kami haha.
Kembali memikirkan pekerjaan. Nampaknya ada beberapa tugas yang diluar dari tugas pokokku seperti mengantar surat, belanja, mencuci piring dan lainnya. Apa artinya aku perlu mengabaikannya? haha jangan bercanda. Soal mengabaikan sepertinya di ruang kantor ada masalah. Kemarin aku tidak sempat membersihkan ruangannya. Jadinya aku disuruh bu Yanti untuk membersihkannya. Sekarang juga.
jika aku beralasan artinya aku hanya malas kan?.. maka dari itu sebaiknya aku diam saja.
Setelah selesai. Aku keluar dan kembali ke tempat duduk memainkan handphone. Selang beberapa menit bu Yanti mendatangiku. Membawa berita cukup heboh, katanya "lihat kalender yang bertempel di belakang lemari gak?"
Aku menjawab tidak ada. Terus bu Yanti bercerita cukup banyak kalau kalender itu susah dicari. Guru yang lain mulai membelaku. Situasi ini seperti sedang mencari tersangka. Aku tetap tenang. Aku tahu kalau bukan aku dan aku bodoh amat jika harus diberhentikan gara-gara sebuah kalender. Serius??
Tentu saja, aku takkan membiarkannya. Aku berdiri dan bertanya pada bu Yanti di mana letak kalendernya ditempel. Bu Yanti langsung antusias, segera keluar ruangan aku mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba saja bajuku ditarik oleh ustadz Zul yang sedang duduk.
__ADS_1
"Eh kenapa ust?" aku hampir jatuh
"tidak usah ke sana, biarkan saja dia.." ekspresi ustadz Zul sedang serius.
Aku mengerti kok. Tapi maaf. Aku harus bertanggung jawab.
"gak apa-apa juga.." aku memaksa diriku lepas dari tarikan ustadz. Agak kelewatan sih aku berontak dari tarikannya tapi aku juga harus bertanggung jawab.
Memang agak mencurigakan setelah disuruh bersih-bersih kemudian kehilangan barang. Bukan kebetulan kan? tapi yang anehnya.. siapa juga yang mau mencuri sebuah kalender?? kalau aku mau mencuri barang gak bakalan meninggalkan jejak sedikitpun.
Berpikir positif jangan menuduh kalau aku telah dijebak. Ingat fidz kamu kerja bukan untuk mendapatkan uang tapi untuk belajar. Misalnya aku dikeluarkan pun bukanlah sebuah masalah pelik untukku. Jika memang terjadi, di sini bukanlah tempat yang terbaik untukku. Maka dari itu aku melangkah tanpa membawa persiapan.
Masuk ruangan kantor lalu menuju tempat duduk bu Yanti.
"nah di sini, seharusnya di sini kalendernya ditempel.."
Perasaanku, tadi aku membersihkan ruangan sama sekali gak melihat ke atas, hanya fokus membersihkan sampah dan kerikil di lantai. Jadi aku tak tahu pasti. Apa aku telah menyapunya? tapi dengan ukuran kalender yang cukup besar seharusnya aku ingat telah menyapunya, ya kan?.. uhh
Jadinya aku hanya minta maaf dan lain kali akan berhati-hati.
Bu Yanti men-iyakan permintaan maafku.
__ADS_1
Aku tahu dari raut wajah bu Yanti sulit untuk memaafkan dan mengikhlaskan. Tapi mau bagaimana lagi.
Aku kembali ke ruang guru. Reaksi umum jika yang lain ingin tahu apa yang terjadi. Aku jelaskan, kalau aku tidak dituduh ataupun dimarahi. Yahh pokoknya aku berusaha menenangkan dan merubah anggapan yang lain.