Monster Labil

Monster Labil
Tawaran


__ADS_3

Siklus hidupku sebagai pengangguran tidaklah berdiam diri saja tanpa melakukan peningkatan. Aku terus berusaha ingin menjadi lebih baik, bukan karena orang lain ataupun keluarga. Tulus hanya untuk pendekatan dengan Sang Pencipta. Tapi ujiannya selalu saja pada manusia. Makanya karakter labilku muncul untuk merubah orang-orang dan tentunya untuk merubah diri sendiri. Apa yang benar kami harapkan mungkin jawabannya hanya satu yaitu kedamaian.


Tapi manusia, ada saja yang lebih memilih menjadi bodoh daripada pintar.


Mereka tak sadar. Mereka hidup hanya bergantung pada insting belaka. Makan, kerja, nikah, punya anak, bersenang-senang dan terus diulang. Bagian penting yang hilang dari siklus seperti itu adalah keinginan untuk terus belajar. Apa untungnya? untungnya pastilah untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dari ujian baru yang akan menimpa. Hidup akan kacau jika kita tidak mendapatkan solusi dari ujian baru sebab akibat dari kita yang kurangnya ilmu.


Sementara ini aku ingin berusaha lebih mengontrol labilku dan banyak-banyak belajar. Jika memang aku sudah siap pastilah saat itu akan datang untuk terjun ke dalam dunia yang lebih luas.


Yaa aku percaya..


Sore ini aku sudah siap olahraga dengan bersepeda keliling kampung. Entah kenapa beberapa hari ini keadaan hatiku lebih tenang dari biasanya. Mungkinkah akan datang masalah baru haha.. ya ampun. Biasanya siklusnya begitu. Ada masa tenang maka akan datang masalah. Ah biarlah..


Tak jauh dari rumah sudah aku mengayuh sepeda tiba-tiba di depan tempat jualan bensin ibunya Meli atau acil Inyah menghentikanku. Aku bertanya ada apa.


Katanya "maukah kamu kerja fidz?.. nih ada lowongan kerja di Hasbunallah"


"emm.. apa pekerjaannya di sana atau jadi apa?.." ya ampun.


"jadi OB, menggantikan si Hendra yang berhenti.."


Siapa Hendra?


"mau gak? kalau mau nanti aku bilang sama Bani. Kerjaannya menyapu, ngepel lantai dan bantu-bantu urusan lainnya"


Hmm... gimana ya..


Coba pikirkan lagi fidz, mau sampai kapan menunggu kesempatan yang tepat.


"coba jalani aja dulu, kalau enggak sanggup bisa dibicarakan baik-baik.."


Benar juga. Aku memang berpikir hal semacam dunia ini tidaklah jauh penting seperti pandanganku terhadap uang. Pekerjaan bukan berarti menetapkan pilihan yang tak bisa digugat kembali. Jika tak sanggup bisa memilih lagi.


Di sisi lain, aku pikir sudah banyak punya pengalaman dalam mengatasi dampak labil ini ke orang di sekitar. Fokus saja pada kerjaan dan jadilah penyendiri namun bersikap netral yang siap membantu orang lain.


Badanku jadi gak enakkan. Terasa seperti ada yang ingin menghentikanku untuk terus melangkah.


Tolaklah!


Tapi aku ingin terus maju untuk menjadi lebih baik lagi. Niat kerja sebagai latihan.


"baiklah, aku mau"


Besok aku akan mengantar lamarannya.


Sayangnya, sore besok berita sudah adanya calon yang juga ingin melamar kata acil Inyah. Ahh aku terlambat. Ada rasa kecewa tapi ada juga rasa senang.


Memang aku masih terjebak di zona nyaman makanya senang. Hedehh.. kurasa emang kesempatanku masih belum datang.

__ADS_1


"jalan-jalan dulu aja deh" Aku bersepeda lagi mengelilingi kampung.


Sampai di rumah. Adikku mengejutkanku.


Katanya tadi acil Inyah datang kemari.


"ngapain?.."


Aku pun keluar rumah dan pergi ke tempat acil Inyah.


Mungkin sebuah kabar gembira untuk segelintir pengangguran bahwa acil Inyah salah dengar dan aku masih punya harapan untuk dapat pekerjaan. Kemudian aku dan acil Inyah mendatangi tempat Bani. Oalah rupanya anaknya bapaknya Gafur. Si Gafur adalah kakaknya Bani.


"lumayan loh fidz gajihnya 1.25 juta"


Haha, bukan itu yang aku incar jika ingin menjadi lebih baik lagi..


Setelah mengantarku ke tempat Bani acil Inyah pergi meninggalkan kami berdua.


Aku berbincang banyak dengan Bani. Seperti kerjaannya ngapain dan lainnya.


"lebih baik besok saja, lebih cepat lebih baik dan aku saja yang ke sana, jika pian(sebutan kamu untuk orang yang lebih tua) yang mengantar lamaranku sama saja aku tidak ada niat dimata yang menerima lamaranku" ujarku. Wahh bisa-bisanya aku bilang begitu.


Kami bertukar nomor telpon.


"oke, besok sekitar jam 10an aku menunggu di SMA Hasbunallah ya?"


Malamnya aku tak sempat menulis lamaran malah besoknya aku kepepet nulis dan datang ke sana belum mandi. Kacau ehh.


Aku sempat kebingungan menuju lokasi SMA tapi akhirnya ketemu juga. Sebentar singgah Bani pun mengajakku langsung ke Yayasan. Langsung!


Langsung diwawancarai!


Aku menjawab sebisanya dan harus ketawa karir.


"terus selama pengangguran ini kamu melakukan apa saja?.." kata bu Raudah atau Saudah, uhh maaf pendengaranku agak buruk.


"bantu-bantu di rumah dan soal uang, ibuku mencari dengan berkerja dengan pak Iin sebagai sekertaris"


"terus kamu?.."


"yaa cuman di rumah bertiga.. ulun ikut bantu-bantu saja" kalau aku bilang sedang belajar mana mungkin orang biasa bisa paham yang aku maksud dengan belajar.


Aku meneruskan agar bisa lolos tes ini


"ahh ulun juga aktif di langgar, tiap subuh buka langgar dan adzan.."


"jadi kaum??.."

__ADS_1


"emm bukan, hanya bagi tugas saja"


"gak dibayar??"


"sukarela aja bu.." ya ampun.


Akhirnya bu Saudah berhenti menanyakanku.


"hemm gitu ya.."


Terus datang pak Rifki sebagai tahap kedua wawancara ini.


*ugh


Sementara itu pak Bani hanya duduk di kursi di samping kiriku. Uahh seolah-olah seperti dibantu saja, padahal aku tak mengharapkannya. Pengen ngusir masa iya??


Selesai wawancara aku disuruh menulis beberapa formulir kemudian benar-benar selesai dan pulang untuk menunggu hasil.


Keesokan harinya.


Aku menunggu panas dingin. Masih berharap tidak lulus tapi juga berharap ingin maju, yepp ultimatum labil.


Seharian menunggu sampai sore tak kunjung ada panggilan atau kabar. Aku berharap pada Allah jika memang sudah takdirnya aku kerja di sana maka masukanlah namun jika memang bukan hal yang baik kerja di sana maka jangalah buat hamba diterima.


Lama menunggu. Tetap tidak ada panggilan atau kabar.


"kayaknya emang gak diterima deh"


*drett drett


Dari pak Bani.


"kenapa handphone mu gak dinyalakan"


Aku balas pesan pak Bani


"seharian aku aktifkan kok, kenapa? ada kabar ya?"


"tadi siang pak Rifki nelpon kamu tapi gak tersambung sambung"


"ehh, padahal handphone ku beneran aktif seharian, sumpah" sampai panas dingin nunggui kabar.


"haha, kata pak Rifki esok datang ke sekolah langsung jam 10an"


"oke baiklah"


Apa artinya aku diterima????

__ADS_1


__ADS_2