Monster Labil

Monster Labil
Hati


__ADS_3


Kekurangan Diri



Baru mau tidur eh malah dapat undangan selamatan dari tetangga. Dekat rumah terpaksa aku harus menghadirinya. Si Hakim tentu saja bakal hadir karena berkeluarga. Tapi sudah gak apa, emosiku mulai stabil jadi gak akan masuk ke karakter Beater.  


Aku lupa kalau tiap tahun emang sudah jadi rutinitas tetanggaku, berselamatan hari raya. 


Singkat cerita, setelah makan aku dan yang lain duduk-duduk dulu di halaman bercerita sekaligus merencanakan liburan, kami ingin berwisata ke goa Liang Tapah. Kami sepakat akan pergi kecuali Hakim.


Yang lain sudah pergi, sisa aku dan Hakim saja lagi yang sedang nongkrong.


Kami berdua berbincang-bincang tentang agama.


Aura Hakim agak berbeda, aku lumayan kenal aura yang dipancarkannya. Sepertinya si Hakim ingin terus terusan berbicara denganku. Aku gak keberatan sih soalnya emosiku sudah stabil.


Sampai akhirnya si Hakim mulai bertanya, melepaskan keraguan yang sedari tadi menyelimutinya.


Apakah malam tadi kamu bermimpi guru Danau?, katanya.


Aku langsung saja membalas


"enggak, emangnya kenapa?"


Hakim bercerita kalau malam tadi ia bermimpi guru. Di dalam mimpinya si Hakim bersalaman dengan Guru Danau. Mungkin salam maaf-maafan.


Wahh! sumpah aku sangat kaget. Aku membombardir banyak pertanyaan kepadanya.


*gehh bikin iri aja


Jadi sedari pagi tadi masalah ini yang ingin ia ceritakan padaku. Kalau aku jadi ia bakal langsung lompat menceritakan apa yang terjadi, bukannya ragu-ragu, curi pandangan dan segala macam gerik yang bikin orang merinding.


Mahh akunya juga sih yang terlalu peka dengan orang di sekitar -__-;


Ini berita bagus dan bermanfaat sekali. Aku memang gak menyangka kalau hal seperti ini bisa terjadi.


Ini catatan penting.


Hakim bertanya padaku kenapa aku bisa gak bermimpi guru.


Aku mengoreksi diri sejenak.

__ADS_1


Aku menjawab mungkin karena sebelum tidur tidak berwudhu dan uhh malam tadi aku jalan-jalan dengan Abdi, Yahya dan Aldi. Sekitar jam setengah dua belas mungkin aku pulang.


Nah kata Hakim aku bermimpinya di jam sekian.


*gehh bikin iri


Kenapa aku gak sampai kepikiran ke sana sebelumnya. Uhh apa yang kurang dariku yaa..


Mode Full Koreksi Diri!!!


\\__/////


Jika aku melihat dari luar sih mungkin aku jauh lebih baik dari Hakim.


Zheill: nice overproud lagi..


Melihat banyak hal yang telah aku lakukan, jelas saja.


Tapi.. jika aku merasa jauh lebih baik dari orang lain itu artinya aku menyombongkan diri.


Satu terhitung.


Aku jarang sekali melihat si Hakim saat beribadah karena kami sama-sama sibuk dengan diri sendiri. Mungkin saat-saat seperti itu si Hakim jauh lebih khusyuk beribadah sementara aku yaa.. mungkin lalai. Dan hal lainnya seperti apa aktivitasnya di rumah aku tidak tahu. Aku cukup mengenalnya bagian luar. 


Dua terhitung..


Benar. Terkadang pernah terlintas gak niat pergi ke pengajian karena malas.


Hakim selalu nebeng denganku soalnya ia gak punya kendaraan. Aku tak keberatan karena jauh lebih efesien kalau ikut nebeng denganku. Nah ketika aku lagi gak niat pergi ke pengajian aku apakan si Hakim? terpaksa dan kasihan. Berarti niatku hanya sekedar menemani teman saja.


Begitu rupanya.


Tiga telah terhitung..


Lagi?


iya masih ada.


Tentang kepribadianku yang kadang kambuh pastinya membuat sekitarku merasakan dampak. Contohnya si Hakim pas episode Peduli.


Lainnya..


Pernah gak sengaja mengotori celana orang karna kurang hati-hati.

__ADS_1


Main lirik banyaknya perempuan diluar. Uhhh~ T_T wajar laki-laki, ampun.


Melangkahkan kaki penuh kesombongan karena merasa berbeda.


Suara keras ketika membaca surah, ria, ingin dilihat berbeda. Mungkin banyak lagi yang ku lupakan.


Semuanya.. semua kekurangan itu membuat nilai amalanku menjadi rendah.


Sulitnya menyempurnakan hati agar niatan beribadah bisa lebih baik.


Berapa banyak pengalaman yang aku butuhkan untuk menyempurnakannya? belum lagi jenis-jenis permasalahan yang belum aku ketahui.


Banyak sekali.


Termenung..


Aku merasa sangat kalah.


Ini membuktikan kalau temanku ini jauh lebih baik dariku.


"amalkan kim, pengajian terdahulu guru pernah bilang kalau mau jadi muridnya amalkan sholat sunnah Dhuha, Tahajjud dan Tasbih. Di dahi orang yang mengamalkannya akan terlihat cahaya, jadi bisa dikenali kata guru"


Hakim menunduk sedikit tanda ragu.


Hmm.. sudah ku duga.


Memang sih perbedaan kami sangat jauh, aku lebih unggul dalam hal pengalaman. Kemudian tiap pengalaman yang aku alami ku pelajari sampai sekarang. Bertahap menjadi lebih baik.


Tapi dalam perbedaan itu, jelas Hakim jauh lebih baik.


Kenapa?


Aku punya potensi lebih besar dibandingkan yang lain.. pemikiran yang bagus dan bisa menampung berbagai kemampuan. Dibandingkan dengan Hakim.. aku bisa apa saja.


Akan tetapi..


Apakah aku sudah berusaha dengan maksimal???...


Malah mempertanyakan hal yang sudah pasti.


Selanjutnya akan lebih lagi aku berusaha. Pengalaman ini sangat bermanfaat untuk mengenali apa saja yang kurang dari karakterku.


Dan juga malam hari raya tahun nanti aku pasti bakal tidur lebih cepat!!!

__ADS_1


IYA tentu saja bambang, itu yang namanya belajar dari pengalaman.


*Hii :D


__ADS_2