Monster Labil

Monster Labil
Tempat yang Jauh


__ADS_3

Bagian 2. Ketakutan


Selanjutnya setelah turun dan sholat kami sudah berencana untuk melanjutkan perjalanan ke tempat wisata air terjun.


Ah konyol, ketika di atas tadi aku malah menghabiskan tenaga bermain lompat-lompatan layaknya parkour. Sepatuku juga jadi menganga karna pelekat lemnya gak kuat. Syukurnya adikku bawa sandal dan sepatu, kalau enggak bisa-bisa ngeker dah.


Aku antusias. Aku ingin sekali mandi karna badanku sudah gerah dan kotor. Kami pun berangkat melanjutkan perjalanan.


Cuaca mendung lagi. Bisa kulihat butiran-butiran air kecil jatuh lambat. Turun naik kami lewati tiap perjalanan yang kian jauh. Aku mulai berharap agar lokasinya dekat. Akan tetapi.. tujuan kami seperti tak berujung.


Entah apa perasaanku saja ataukah memang terasa sangat jauh. Bahan bakar kendaraan seolah-olah tak pernah habisnya.


Satu desa telah terlewati dengan hasil kurang dari 40% aku pahami dan teliti secara luarnya saja.


Desa berikutnya aku berusaha apa adanya.


Selanjutnya lagi aku fokuskan saja pada tenagaku yang semakin lemah. Pinggangku mulai sakit.


Bagiku yang anak rumahan merasakan perjalanan yang jauh untuk pertama kalinya pastilah sangat melelahkan. Bagaimana rasanya ketika pertama kali berada di tempat yang antah-berantah. Perasaan takut jika perbekalan habis dan tak bisa pulang ke rumah. Ah konyol sekali. Seandainya aku tahu bakalan sejauh dan melelahkan seperti ini pastilah diawal ajakan aku akan langsung menolak. Karena aku bodoh tak punya pengetahuan tentang tempat orang makanya jadi begini.


"Sebaiknya kita balik saja" pikirku begitu. Tak ada gunannya melanjutkan perjalanan yang tak berujung ini. Yaa, memang aku orangnya gampang menyerah makanya aku diam saja kerena yang lain bukanlah aku, tak seperti diriku.


Ahh tanganku mulai mati rasa apalagi pertahananku..


0%..


Habis harapan aku mulai pasrah yang rupanya jadi pemberhentian pertama untuk kali ini. Setelah jauh melewati banyak tempat akhirnya kami sampai. Tepat diujung jalan di hadapan kami terlihat sebuah air terjun cukup besar.


Terlihat sungai kecil yang airnya sangat jernih. Bebatuan besar dan jalan yang sangat licin. Begitu pula dengan suhu di sini sangatlah dingin, sangat dingin. Walaupun sudah memakai jaket tetap saja tembus ke kulit.


Menulusuri area baru tujuan kami sekarang ini adalah sarapan. Aku juga sangat lapar dan lelah. Mampir di warung yang jualannya seadanya saja. Uangku sisa sedikit. Kayaknya perlu menghemat supaya bisa pulang.


Teringat selepas sholat subuh tadi aku juga makan mie. Mungkin itulah penyebabnya mengapa aku mudah lelah pada hari ini.

__ADS_1


Topik lain pembicaraan, rupanya yang lain juga merasa kalau perjalanan kami sangatlah jauh. Tak bisa mengelak jika di tiap tugu atau tanda memasuki sebuah desa di perjalanan tadi kami berharap di sinilah lokasinya. Rupanya teramat jauh.


"yang sudah terjadi biarlah terjadi" begitulah.


Sekarang waktunya menikmati hasil perjalan yang jauh.


Untuk yang lain saja..


Aku tak mau mandi karena dari sini saja sudah ke dingin apalagi harus mendekat ke air terjun yang terus menerus menghempaskan air sampai membuat embun dan angin kencang. Kalau aku mandi bisa-bisa mati kedingan terus tenggelam deh. Yeahh gak mungkin aku sampai sekonyol itu.


Sebaiknya aku menjaga barang-barang kami karena yang lain pada mau merasakan mandi dekat air terjun.


Aku mengaktifkan lagi pertahananku.


Ada banyak para wisatawan yang membuatku harus berhati-hati. Maaf deh yaa, bukannya mau suuzan tapi aku hanya ingin berhati-hati. Alam sekitar pun juga aku perhatikan. Semuanya aku perhatikan.


Anjirr ada turis mengambil fotoku.


Asemm.. gak sempat menghindar gara-gara fokus melihat kawanan menaiki tebing dan kena tegur.


Hahaha pada kedinginan.


Sebentar aku ingin berkeliling sekaligus mencari sinar matahari.


Tempatnya sangat bagus menurut penilaianku sendiri.


Sampah-sampah sedikit. Penataan tempatnya juga bagus. Pohon rindang yang khas. Tapi sayang sih.. aku tidak menemukan semacam perasaan misterius yang sering aku alami ketika berada di tempat baru.


Artinya?


Yaa aku juga tak tahu makanya aku penasaran.


Akhirnya aku memberanikan diri ikut mandi tapi di sungai kecil dulu. Jika tahan maka aku akan coba ke dekat air terjunnya.

__ADS_1


Ihh.. menginjak batu-batunya saja sudah dingin.


Memasukan kaki terus badan seluruhnya.


*fuhhh


Dingin bingitz.. tapi seger. Aneh juga.


Cerita terus berlanjut, aku mandi dengan yang lain. Mengambil banyak foto. Sampai pulang.


Aku melihat jam handphone rupanya.. wait aku lupa ingatan 😂 skip skip..


_


Menjadi bagian yang penting dari cerita ini adalah ketika kami di perjalanan pulang pada waktu senja. Rasa ketakutanku semakin besar tentang kecelakaan. Berharap, sangat berharap agar tidak mati konyol akibat kecelakaan. Dengan kondisi tubuh yang sangat lemah ini sulit membayangkan aku bisa selamat sampai ke rumah. Kawanan lain sangat cepat berkendara susah untuk mengejar mereka. Tapi syukurnya si Aldi mau membantuku dengan berkendara tak terlalu cepat agar aku bisa mengikutinya dari belakang dan juga adikku membonceng padanya untuk meringankan bebanku.


Rasa takutku bertambah besar setelah melewati pengendara yang kecelakan tak sadarkan diri di jalan. Sumpah aku tak ingin mati karena kecelakan. Aku ingin mati dengan kebiasaan yang baik. Sepanjang perjalanan aku terus berharap agar umurku masih panjang dan bertekad untuk meningkatkan lagi ibadahku. Hari ini hanya sholat sunnah sebelum subuh dan sholat dhuha saja yang bisa aku kerjakan. Sekarang pun sholat isya belum aku kerjakan.


Bagaiman nasibku?


Seolah-olah langit ini bakal runtuh saja.


Semakin dekat dengan rumah ke khawatiranku sedikit berkurang. Tepat di Mabuun aku dan Aldi harus berpisah karna jalur rumah kami beda.


Adikku ingin yang menyetir. Aku izinkan agar pelan saja tapi ia malah melawanku.


Aku bilang padanya "belum lagi, kalau sudah kecelakaan baru tahu rasa.." parahnya lagi ia malah makin melawan. Aku tahan amarahku. Aku sudah lelah. Sudah cukup aku dengan adikku, aku biarkan saja ia mau apa lagi terserahnya bukan urusanku lagi.


Pulang ke rumah. Sholat terus bersiap hendak tidur mengalahkan rasa laparku.


"tadi hujan kah nek di sini?"


Yaa aku juga tak boleh memberatkan nenekku untuk menangani cucian sementara aku malah bersenang-senang. Aku mendapat pelajaran besar.

__ADS_1



__ADS_2