Monster Labil

Monster Labil
1 Hari Puluhan Cerita


__ADS_3

Aku mendapatkan kesempatan berkerja di cafe dengan teman ku Herry. Aku ingin bekerja karena aku pernah bilang setelah bulan puasa kemarin aku akan berkerja dan sekarang aku mendapatkan kesempatan itu. Aku berpikir tenang dan merasakannya dengan naluriku menimbang baik dan buruk yang akan terjadi. Merasa kalau dua sisi itu seimbang jadi aku memilih untuk berkerja.


Kabar baik untukku agar penggosip tidak lagi menanyai tentang diriku. Sulitnya aku hidup di lingkungan masyarakat ini karena pandangan Beater yang dengan mudahnya menilai seseorang, kalau orang-orang sudah menyerangku dengan gerak-gerik atau ucapan sindiran maka Beater akan mem-black list mereka.


Sore hari pertama aku bekerja di cafe Secret Garden, aku nebeng Herry. Ini sudah jam 3 kalau sampai ke cafe sekitar 8 menitan, aku telat tapi kata Herry gak papa lagian 1 jam untuk bersih-bersih jadi jam 4 cafenya buka. Setelah sampai aku sedikit gugup. Cafenya keren sekali khas taman-taman gitu, tumbuhan yang menjalar di pagar dinding di bagian luar dekat jalan seperti aslinya taman, apalagi saat malam tiba melihat lampu kecil kelap-kelip yang memperindah tempat ini, bisa dibilang aku kagum, nama dan dekorasi yang unik membuat perbedaan dengan cafe biasanya.


Aku akan diajari masak oleh Meli anak SMP kelas tiga, yup kelas tiga SMP. Cara menjelaskannya masih dibilang kaku  yah wajar anak SMP.  Aku harus memahami sendiri pola-pola cara memasak seperti apa yang dulu dimasak dan yang akan diperlukan saat terdesak. Meli asli jawa, dia baru 6 bulan tinggal di sini jadi untuk bisa berkomunikasi dengannya memakai bahasa Indonesia. Meli orangnya suka bicara dan sangat cocok berpasangan dengan orang pendiam sepertiku. Btw aku jadi pendiam karena kesulitan bicara dengannya dan menjaga wibawa agar tidak mencemari nama baik, lagain yang membuat aku diterima kerja disini karena Herry, sifatnya masih sama seperti dulu. Niat aku sebenarnya kerja di sini untuk mendapatkan pengalaman untuk karakter ku.. apakah akan baik-baik saja? kau tahu kan kalau aku tidak sungguh-sungguh, aku akan mudah menyerah. Bukan. Aku akan menggunakan seluruh kemampuan ku, semua yang aku bisa.


Ibu pemilik cafe ini mengancam Meli kalau aku belum bisa memasak berarti Meli yang disalahkan. Menakutkan. Aku jadi takut, tapi melihat Meli kayaknya akrab saja dengan ibu pemilik cafe ini, apa dia ibunya Meli? aku tidak ingin menanyakan nama ibu pemilik cafe ini karena menurutku itu tidak sopan jadi aku akan memanggilnya "bu" seperti yang lainnya.


"Perkenalkan nama ku Hafidz Rachmadana, tinggal di Jangkung RT 03.. aa hobiku main game" perkenalan singkat untuk sekedar tau tentang diriku, tidak terlalu formal. Oh iya tentang identitas biasanya mengumpul ijazah atau semacamnya, hmm mungkin cafe ini buka jam 3 sore sampai jam 10 malam untuk pelajar seperti Meli, duh aku jadi merasa bersalah seseorang pengangguran sepertiku kerja disini. Kesampingkan itu sekarang fokus dengan yang ada, yang terjadi biarlah terjadi semaksimal mungkin berkerja, berpikir, tata krama bicara, tingkah, dan yang lainnya. Tapi yah maunya fokus sih tapi si Meli malah sakit kepala. Beberapa menit sekali dia ngeluh kesakitan. "Kenapa anak SMP kayak elu malah kerja gini sih" gitu sih yang ingin ku sampaikan namun ku urungkan mungkin saja dia punya alasan tersendiri.


"kaka tinggi sekali sih" memaksa tubuhnya menyamai tinggiku dengan kursi kecil yang di naikinya.


"gak sampai loh cari bangku yang lain yang tinggi, oh iya tau gak Mel"


"hm?"


"sebelum bulan puasa dulu saat aku masih kelas satu SMA tinggi ku kayak tinggi mu lalu setelah bulan puasa berakhir tinggi ku langsung naik drastis" agak gagap


"heh masa?"

__ADS_1


"makanya sering-sering berenang" eh kalau anak kota kayak Meli gak mungkin mau mandi di sungai "Meli bisa gak berenang?" aku bertanya


"bisa kak, bela diri bisa, lari sering juara,.. -"


Ni anak multi talenta ya? kata ku dalam hati, ini membuatku cemas.


"kakak bisa gak split kayak gini?..ee aw gak bisa lagi" meluruskan kaki kanan ke depan dan kaki kiri kebelakang seperti dasar gerakkan balet dan bela diri, aku paham yang ia maksud.


"ahh sedikit bisa" soalnya aku pernah melakukannya saat latihan karate dulu.


Sambil ngobrol aku belajar memasak darinya, aku tidak tau apakah harus memaksanya tegas mengajariku atau santai seperti ini. Dia juga lagi sakit. Kalau begini akan lambat aku mempelajarinya.


Jam 4 lewat, mumpung belum ada pelanggan aku izin sholat dulu.


Aku pergi dengan Herry keluar untuk sholat dengan kendaraan milik Diyan, aku meminjamnya. Sesampainya di mesjid dekat sini aku langsung saja bergegas mencari tempat wudhu. Lebih baik tidak sholat berjamaah soalnya kalau aku sholat berjamaah akan memakan waktu lama dan juga sore panas-panas begini membuatku mudah berkeringat. Kalau pakai baju kokoh menyulitkan ku membawanya dan mengganti tiap jam sholat, intinya aku ingin menghemat waktu, berarti prioritas ku adalah kerja. Sebisa mungkin iman kecil dalam hati ku ini tidak boleh padam, kalau aku tidak mengerjakan apa yang diperintahkan oleh-Nya itu sama saja seperti mayat hidup, jauh lebih buruk daripada kematian. Apakah bekerja memang harus berkorban waktu seperti ini?


"kakak sering tepat waktu ya sholat?"


"iya rasanya sayang banget kalau gak tepat waktu sholat sementara aku punya banyak waktu di rumah"


Aku akan menjawab sejujurnya dan sebisa mungkin tidak membujuknya ataupun memaksanya untuk mengerjakan sholat. Kalau aku membujuknya dia akan sedikit menghindari ku apalagi memaksanya. Memaksa orang lain untuk menjadi yang kita inginkan begitu egois, aku sudah mempelajarinya dari berbagai pengalaman.

__ADS_1


"Mel kamu tinggal di sini ya?"


"iya kak soalnya aku cuman berdua di kota ini dengan kaka sepupu ku"


Dengan mudahnya Meli menceritakan tentang dirinya. Ayah dan ibunya telah tiada begitu juga dengan kakek neneknya. Dia anak satu-satunya. Jadi intinya dia datang ke sini dengan kakak sepupunya untuk berkerja. Syukurlah ada tempat ini untuknya. Sebetulnya dia tidak menetap, mungkin pemilik cafe di sini yang mengizinkan tinggal. Inilah tadi yang membuat ku cemas, seseorang yang memiliki kelebihan pasti juga memiliki kekurangan dengan ketetapan kalau cobaan yang diberikan sama alias timbangan kekurangan dan kelebihan menunjukkan 50%, orang yang seperti Meli sangat banyak di dunia ini. Aku bersimpati dengannya, di usia muda begini Meli sudah mendapatkan ujian besar.


Aku tersadar. Bagaimana aku menyikapi permasalahan ini? apa yang harus ku katakan padanya?


Dia sedang bersandar di kulkas dan aku duduk di kursi disampingnya, setelah menceritakan apa yang telah ia alami Meli menyandarkan kepalanya ke lutut ku. Aku mengelus sedikit rambutnya dan bilang "semangat Mel" hanya itu saja yang bisa ku perbuat. Diyan datang ke dapur dan langsung berbincang-bincang, aku tidak ingat apa yang mereka bicarakan karena aku terfokus dengan situasi seperti ini. Iya ini alasan kenapa orang-orang ah maksud ku teman-teman ku tidak bisa memberikan solusi ketika aku mendapat cobaan, semua orang punya masalahnya sendiri terlalu egois untuk berharap besar mereka selalu ada.


Mel kau beruntung punya teman seperti Diyan yang sangat peka, mungkin saja tadi dia mendengarkan obrolan kita dan dia langsung kemari setelah kamu selesai bercerita, kalau aku punya rumah sendiri aku pasti izinin kamu untuk tinggal dan memberi sedikit kebahagian, mencicipi indahnya alam dan lupakan soal mencari uang. Pengennya begitu tapi aku tidak punya apa-apa.


Aku sedang mencuci piring, gelas dan yang lainnya hari pertama aku harus terlihat gesit agar tidak ada yang curiga kalau aku kerja di sini untuk memperbaiki sifat ku, yah soalnya niat yang tak disengaja karena pada malam kamarin aku disuruh langsung datang untuk melamar jadi pilihan sulit kalau ditolak kan sayang. Makanya niat aku bekerja tidak sempurna tapi aku akan berikan yang terbaik.


"ka gak usah ka  biar aku saja besok" suaranya mulai serak


"gak papa Mel kan Meli lagi sakit"


Aku terus memaksanya, lagian aku masih kuat."kalau gitu aku bantu doa aja"


"ahaha doakan biar mental ku kuat aja Mel"

__ADS_1


Entahlah, tiba-tiba saja hal itu terlintas di benakku. Meli pun mendoakan ku kemudian mengibas tangannya ke aku perumpamaan kalau doanya merasuk ke aku. Kami tertawa.


Ku harap dia tidak jatuh cinta pada ku.


__ADS_2