
Usaha
Malam ini aku merasa sangat tidak yakin dan tidak enak badan. Apakah besok aku akan baik-baik saja?
Mungkin saja perasaan khawatir ini ulah dari setan yang berusaha membuatku tetap berada di rumah besok hari. Jika aku mengikuti instingku jawabannya tidak ada. Serasa netral. Tidak rugi atau seimbang. Cucian dan badanku gak enak mungkin itu hambatannya sehingga aku berusaha tidak pergi besok.
Besok Acara Haul Guru Sekumpul.
Aku baru sekali pergi tahun kemarin. Misalnya esok aku membuang kesempatan itu- tapi aku ingin memperjelas.
Benarkah niatku memang ikhlas ingin menghadiri acara besar besok? atas dasar apa?
Nah aku mulai ragu.
Banyak tetangga sekampung yang sudah pergi ke sana bahkan imam di langgar juga sudah pergi menghadiri.
Uuhh.. gak ada imam nantinya.
Perasaan tidak suka muncul saat aku memikirkan niat tujuan orang lain.
Apakah hanya untuk mendapatkan gelar agar sama dengan yang lain?
Apalagi tahun kemarin presiden sudah bikin heboh.
__ADS_1
Sangat membingungkan untukku yang menginginkan tujuan yang jelas.
Semakin ku pikirkan semakin terbayang hal negatif yang akan aku terima nantinya.
Baiklah.. aku tidak jadi pergi saja. Setelah ku putuskan niatku untuk esok entah kenapa hatiku langsung terasa hampa. Aku yang mabuk kendaraan bakal sulit nantinya.
Esoknya..
Kakakku dan terutama adikku berusaha membujuk ku ikut. Niat kalian apa sampai berusaha membujuk ku?
aku mengerutkan kening ku tanda kalau aku mendeteksi hal yang bertentangan.
Tapi sayang sekali sih kalau aku tidak hadir. Terlintas kenangan tahun kemarin begitu asik.
Asik? iya melihat relawan dengan ikhlas membagikan makanan serta minuman membuatku berubah pikiran ingin pergi. Niatku tidak sempurna karena aku masih belum kenal dengan sosok guru Sekumpul, gurunya Guru Danau. Aku belum pernah mendengarkan pengajian-pengajiannya makanya aku belum tahu seperti apakah sosok guru Sekumpul. Semoga saja setelah aku hadir malam nanti aku bisa mendapatkan kecintaan terhadap Beliau.
Aku bermimpi guru Danau. Aku merasa sangat senang sekali. Di dalam mimpi tersebut aku berdiri melihat Beliau duduk bercanda dengan lainnya, mungkin guru bercanda dengan muridnya, tak tahu juga sih soalnya tak begitu jelas. Aku menatap dengan sangat hangat karena cinta. Tapi di akhir mimpi beliau menatapku seperti heran. Mungkin aku yang menyebabkannya, soal di akhir mimpi itu sempat terlintas dalam pikiran kalau aku yang hina ini apakah pantas mendapatkan kecintaan. Aku punya banyak kekurangan begitulah pikirku. Namun ketika aku terbangun, aku merasa begitu bahagia, mataku berkaca-kaca..
Mimpi guru saja sudah sangat membuatku bahagia apalagi kalau bermimpi Nabi. Tak terbayang bahagianya.
Namun ada sedikit keraguan mengganjal.
Sehabis sholat maghrib aku menghampiri Hakim untuk menanyakan beberapa pertanyaan tentang mimpiku.
"kim, dulu kan kamu pernah mimpi guru? nah itu latar mimpinya seperti apa? putih kah?"
yep aku ingin menanyakan hal ini soalnya latar mimpiku burem. Bayangan yang kudapatkan tiap kali mendengar kisah seseorang yang pernah bermimpi Para Aulia Allah pasti putih bercahaya. Imajinasiku begitu tiap kali mendengar kisah tentang mimpi yang baik. Satu hal lagi, malam, ketika aku bermimpi, sebelum tidur aku tidak berwudhu seperti biasanya.
__ADS_1
"biasa aja tuh, kenapa bertanya begitu? wahh bermimpi guru kah?" katanya.
Emm yang biasa itu gimana sih? otakku tak bisa mencerna karena ini pengalaman pertama buatku jadinya aku tak tahu yang biasa itu seperti apa.
"iya minggu kemarin aku bermimpinya" tepatnya malam setelah haulan Wali Allah syekh Muhammad Nafis. Aku bertambah suka dengan guru Danau setelahnya. Mungkin memang benar seseorang yang berada di tahta hati akan mudah memimpikannya karena cinta.
Hakim melanjutkan cerita. Katanya aku bermimpi guru Sekumpul tapi itu sudah lama.
*uakh hebat! hati ku heboh
"sudah lama? kapan?" tanyaku lalu aku lanjutkan.
"Mungkin karna kamu sering dengar pengajiannya di internetkan" aku memperjelas sendiri.
"enggak, sebelumnya belum pernah dengar pengajiannya" jelasnya
"eh? kok bisa?" mempercepat berpikir.
Karena foto Beliau kah? tiap rumah pasti punya foto guru Sekumpul. Entah mungkin itu penyebab yang paling logisnya, hanya naluri saja sih.
Tapi itu benar-benar hebat bisa bermimpi sebelum kenal Beliau.
*uhh aku merasa sangat tertinggal jauh
Orang-orang yang telah diberikan keistimewaan akan sangat berbeda. Untukku yang biasa saja harus lebih berusaha. Aku tahu akan hal itu. Aku belum sepenuhnya berjuang, aku masih mengejar dunia dan sulit meninggalkannya. Tujuan utama untuk menyempurnakan karakter ku itulah dunia yang sedang ku kejar sehingga mengesampingkan tujuan akhirat. Tapi aku tidak sepenuhnya meninggal tujuan akhirat. Mungkin 6 banding 4 perbedaannya.
4 untuk belajar di pengajian dan melaksanakan amalan-amalan sisanya 6 adalah keduniaan. Aku masih kesulitan dalam meluruskan niat untuk beribadah di tiap aktivitas. Ya soalnya permasalahan beragam itu menjadi kendalaku. Perlahan namun tepat. Aku tak punya begitu banyak tenaga agar bisa selalu fokus. Kadang bisa lupa kalau terlalu cepat mengambil keputusan.
__ADS_1
kata guru Bakhiet emang benar dalam pengajiannya ilmu Tasawuf, sebelum beribadah kita harus bertanya lebih dulu pada hati kita agar tak luput dalam menentukan niat.