
Sebagai pembelajaran apa yang akan dan selalu aku sampaikan didalam cerita hidupku ini bertujuan mengenali diriku.
Sepenuhnya aku tak terlalu paham dengan caraku membaca kepribadian orang. Secara otomatisnya aku mempelajari ritme kebiasaan orang-orang kemudian mengambil langkah tindakan untuk menanggapi sikap mereka. Tidak berlaku untuk yang baru ku jumpai. Makanya aku bertanya apa benar aku bisa membaca kepribadian seseorang? Jawabannya tentu saja tidak.
Aku pernah menonton film Sherlock Holmes, si detektif sosiopat. Kejeniusannya membuatnya pandai melakukan deduksi terhadap sikap seseorang yang dilihatnya. Teliti dan wawasannya yang luas memudahkannya untuk mengenali siapa, apa yang telah dilakukan dan emm.. apalagi yaa.. yaa pokoknya begitulah, detektif banget, bisa menghubungkan semua poin-poin lewat bukti yang didapat.
Aku ingin mengetahui perbedaanku.
Merasa bangganya aku bilang bisa membaca kepribadian seseorang padahal aku sendiri belum tahu pasti. Aku hanya menebaknya saja. Ah, aku juga terlalu bangga dengan kemampuan insting padahal belum tentu benar-benar memiliki.
Ada hubungannya dengan masalah kali ini yang akan aku ceritakan.
Biasanya sholat kami di langgar tidak terganggu, maksudku rame seperti biasa, penuh kegembiraan. Nah kemudian muncul satu tokoh baru, ia adalah bapaknya si Gafur, ikut sholat di langgar. Aku belum terlalu kenal dengannya jadi aku tak mencoba untuk menebak kepribadiannya.
"Ingat ya, menebak kepribadian orang lain adalah ilegal di planet lain" Patrick Star.
Saat hendak memilih seorang imam sholat berjamaah Magrib, bapaknya Gafur disuruh untuk mengimami kami dengan cara mempersilakannya. Kemudian aku menangkap reaksi darinya menanggapi kami. Kurang lebih seperti ingin dipuji lewat tindakan yang meminta belas kasihan. Sebelum maju menjadi imam ia sempat bilang "wahh aku yaa tapi aku biasanya bisa kentut ditengah sholat" tapi tetap ingin jadi imam. Spontan saja dahiku langsung mengerut. Aku kenal sikap seperti itu, sumbernya adalah diriku sendiri makanya aku langsung mengalihkan pikiran untuk tidak membahasnya karena ingin sholat.
Pertama kali aku biarkan saja itu adalah tanggungannya sendiri.
Kedua, suaranya pelan sekali. Kalau ini bagiku memang tak masalah karena umur, susah bernapas.
Nah ketiga kali ini yang membuatku tak suka.
Setelah sholatkan biasanya berwirid nah entah kenapa suara kami tak bisa seirama dengan si imam, ia selalu mendahului suara dan bacaan kami yang ujung-ujungnya membuat kami terhenti ditengah bacaan lalu kebingungan termasuk aku, yang mulai termakan emosi.
Kenapa emosi?..
Karena aku menangkap sikap tersirat darinya yang ingin selalu menang.
Jangan tanya bagaimana bisa aku melakukannya. Aku bisa melihat keburukan orang lain dan merasakannya. Gini-gini aku juga monster.
__ADS_1
Tak ingin memperpanjang masalah aku berwirid sendiri saja kemudian mengisi waktu tersisa dengan amalan sedikit sampai bagian doa.
Puncak parahnya sikapnya ketika hendak berdoa si imam langsung menghadap kiblat. Iya langsung begitu saja, berbeda dengan cara bapaknya Parid dan bapaknya Jannah yang biasa mengisi imam di langgar sini.
Bagiku tata krama jangan mengalihkan sisi hadapan dari makmum yang berada di belakang. Yaa kalau melakukannya aku merasa kalau kami ditinggalkan dan berasa berdoa sendiri.
Lagi.
Imam yang biasanya akan selalu lempar giliran doa. Supaya? Yaa siapa tahu kalau yang lain jauh lebih mulia dan lekas terkabul. Imam kali ini yang langsung menghadap membelakangi kami berdoa dua kali sendiri. Sendiri? Iya itu yang aku tangkap.
Huhhh.. pemecah kegembiraan.
Pelajaran yang sudah benar-benar terpelajari, bagi kita ialah pengulangan berulang kali untuk mengenali dan memahaminya sehingga kita bisa melakukan tindakan yang terbaik.
Uh.. ketagihan atau apa? Ucapku dalam hati karena dia datang lagi. Kemudian salahnya pak RT malah menyuruhnya jadi imam lagi bahkan bapaknya Jannah. Pliss jangan gitu dong, aku resah tak terkira. Sikap yang sama seperti sebelumnya beralasan menarik perhatian tapi tetap mau maju jadi imam. Grrr....
Yahh pokoknya kejadiannya akan selalu seperti yang aku ceritakan.
Pas sholat aku tak mempersalahkannya toh umur tapi wirid, aku akan melakukannya sendiri dan berdoa sekali setelah itu kabur.
Aku keluar bersamaan dengan Ardi. Anehnya.. tiba-tiba saja aku bicara pada Ardi "ihhh tuh huh!" sambil nunjuk ke dalam langgar 😂
Luapan emosi untuk menanggapi tebakan pikiran Ardi kenapa aku lekas keluar langgar.
Bagiku aneh, spontan saja aku bilang begitu.
Sikap awal yang menjadi penyesalanku.
Hari berlanjut.
Lagi-lagi imamnya.
__ADS_1
Ujian yang sangat bagus untukku. Akupun mulai mengingat dan menghitung kesalahanku.
Aku mulai menertawakan karena dia hendak maju jadi imam lagi.
Bahkan yang lain pun seperti bapaknya Parid juga merasa gak enak, kami mulai mencelanya. Bukan merasa jauh lebih baik.
Aku membenarkan diriku sendiri.
Tapi, karena kesombongannya membuat kami mulai meninggalkan.
Aku yang merasa tahu dimana letak kesalahan dia mulai menceritakannya pada Pandi, tetanggaku.
Aku bilang padanya "bukan karena suaranya pelan, yang jadi masalahnya dia sombong, berdoa sendiri dan gak mempersilakannya yang lain dulu untuk menjadi imam". Jawaban Pandi mengejutkanku dan membuatku tersadar. Aku sudah memfitnah. Respon Pandi jadi buruk padahal aku hanya ingin mengajarinya. Aku tahu kalau Pandi masih pemula mengenal agama makanya ia tak menangkap maksudku.
Tapi yang sebenarnya salah adalah diriku.
Bagus, aku telah mengibah. Serasa apa yang telah aku perjuangkan selama ini sudah hancur lebur.
Otomatis aku ingin minta maaf. Bagaimana cara meminta maaf pada orang yang telah aku fitnah?
Jika aku bisa melihat kesalahan orang lain itu artinya aku bisa melihat kebaikannya juga.
Benar.
Mengubah pola pikir karena kesalahanku kali ini cukup membuatku terpukul keras.
Ilmu yang bermanfaat sekali dan aku tak ingin mengulangi kesalahan karena ketidaktahuan.
Apa benar aku bisa melihat?
Jawabannya jelas tidak.
__ADS_1
Semakin sulit mendapatkannya, semakin besar orang-orang membuat kesimpulannya sendiri..