Monster Labil

Monster Labil
Rumit


__ADS_3

Here, im monster labil.


Aku bangun kurang lebih jam setengah empat, malam tadi aku tidur cuma satu jam saja. Males sekali sahur masih mau tidur. Di rumah ini aku tinggal hanya bertiga bersama nenek dan adik ku, sementara kaka ku sudah beristri dan pindah ke rumah asli kami di RT tetangga, disana lah aku dan kaka ku tinggal sebelum pindah ke sini rumah nenek ku. Banyak yang terjadi dulu makanya kami pindah disini.


Setelah makan aku mempersiapkan diri untuk hari ini, iya hari ini ibuku berniat membuat acara buka bersama sore ini. Aku agak cemberut mendengar kabar itu pada jumat siang kemarin. Kalian tahu sebelum ibuku menikah dengan Pak Iin kami hanyalah keluarga sederhana. Jadi rencana buka bersama itu terdengar agak kurang pas di telinga ku, tapi aku mencoba berpikir positif kalau yang bikin rencana itu adalah Pak Iin sendiri bukan ibuku. Kalau sudah terjadi biarlah, aku yang di masa depan berjuanglah.


Pagi ini nenek ku banyak ngoceh karna ibuku terlambat datang. Aku melirik jam dinding sudah pukul 8 lewat, aku agak emosi hari ini karena kurang tidur kaka ku juga belum membalas pesan ku untuk menanyakan posisi ibuku. Bibi ku sudah datang kemari membawa bahan-bahan. Aku tidak mau ambil pusing jadi aku mau tidur saja sebentar sampai kenyamanan ku diganggu oleh suara gaduh dari arah dapur, ah ada suara ibuku dan Pak Iin mereka sudah datang. Aku keluar dari kamar dan memastikan suara indah itu. Alhamdulillah mereka berdua telah sampai. Rasa lega ini mengurangi beban ku, aku kembali ke kamar dan siap mimpi indah. Soal menyiapkan acara biar keluarga dan tetangga ku saja yang urus aku ngantuk berat.


Seharusnya aku tidur pulas, suara gaduh yang luar biasa dari arah dapur mengalahkan musik pilihan untuk melelapkan ku dalam tidur. Kaka ku juga sering bolak balik ke kamar ku. Berisiki sekali. Aku menyerah ketika ibuku, adik ku dan kaka ku berdiri dekat lamari. Aku sempat ngiggau ke mereka berisik banget. Terlihat ibuku membagikan uang untuk kami dan kaka ku yang berbicara ingin handphone baru, ya ampun aku tidak tahan lagi. Sejujurnya aku tidak berharap uang dari pak Iin maupun ibuku. Aku memang belum kerja tapi aku sudah melatih pikiran ku untuk sedikit lebih mandiri. Aku sudah mendapatkan apa yang ku mau, kehadiran ibuku saja sudah membuatku senang. Terlebih aku sudah sering diberi uang saat aku masih ber-status anak yatim, jadi menganggap uang itu bukan lah hal yang istimewa, kan Tuhan Maha Kaya dan Maha Segalanya jadi cobalah tanamkan kata-kata itu. Uang yang diberikan ibuku akan ku gunakan untuk keperluan penting saja.

__ADS_1


Terdengar suara adzan dari langgar membuat kaki pak Iin melangkah menuju sumber suara. Aku belum bisa memastikan sifat pak Iin karena jarang sekali bertemu dengannya. Dia memang penyelamat sekaligus penculik ibuku, aku dibandingkan dengannya berbanding jauh dalam hal tentang ibuku. Dia menahan ku untuk tidak berpikir apa-apa tentangnya walaupun aku telah mencoba, seperti melayani tamu rumah, aku akan bersikap baik. Mumpung jumlah makmumnya bertambah aku juga ikut pak Iin, biasanya makmumnya ditambah dengan ku hanya 2 orang, ditambah aku phobia diperhatikan, takut adzan atau iqamat, kalau sampai salah aku bisa down seharian. Aku bisa rasakan aura Bapaknya Putri kalau aku ini harus jadi pengurus langgar, ah ya ampun seandainya aku tidak phobia. Aku terkejut kenapa keluarga dari Bapaknya Putri sholat kesini kan rumah mereka beda RT, oh pantes di depan rumahnya banyak kendaraan roda dua, mungkin sedang ada pertemuan keluarga. Ah ada rasa lega sedikit karena banyak orang jadi aura nusuk gak terlalu berasa.


"hah kenapa harus aku, kaka aja" spontan aku membalas pernyataan ibuku mengelak untuk menyeru para tetangga agar datang berbuka puasa mengingat aku pernah lupa menyeru beberapa tetangga dan nenekku habis-habisan membahas itu. Nenekku tidak sadar membahasanya seperti seseorang yang sedang menggosip, aku marah dan tidak mau lagi sampai nenekku sadar kalau sikapnya menyakitiku. Kasus kali ini berbeda karena ada ibuku, ah aku tidak tahan dengan suara memelasnya, untuk hari ini saja. Sehabis ashar aku langsung saja ke rumah tetangga-tetangga yang sudah di mark. Dari pak RT, pengurus langgar, imam langgar dan lain-lain, huft tetangga sebelah kanan sudah ku seru kemudian di kiri. Sampailah aku di depan rumah Nisa, pintunya sudah terbuka. Aku mengetuk pintunya


"Adit Adit.." sambil mengetuk pintunya.


"ah anu sore ini di rumahku berbuka puasa bersama bilang pada bapak mu lah dan si Adit juga"


"oh iya nanti aku bilang" Nisa membalas, dia juga terkejut dengan kehadiranku. Sebelumnya aku pernah bilang kepadanya untuk menjaga jarak, aku tidak ingin pikiran kotorku mengubahnya. Aku merasa memang itulah pilihan terbaik untuk kami berdua, hati ku jadi merasa sepi tapi mau bagiamana lagi, kami harus melangkah maju. Biar rasa sakit menjadi bahan bakar untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi kali ini aku bertemu dengannya lagi, aku hampir saja sudah move on denganya bukan sebagai mantan tapi sebagai sahabat. Dulu pernah terlintas ada solusi terbaik untuk masalah ku tapi kepribadian ku belum matang, kali ini mungkin sudah bisa, aku akan jadi seseorang yang selalu ada untuknya.

__ADS_1


Aku mengirim pesan ke dia lewat Line "nis kau juga datang ya" "hehe insyaallah" katanya dia agak lambat membalas pesan ku, biasanya cepat, apa dia memiliki kekasih? rasanya aku harus berhati-hati agar tidak terjadi kesalah pahaman.


*brak*


Kemudian terdengar suara jeritan perempuan. Apa ada kecelakaan? ah aku sedang berwudhu. Setelah selesai aku langsung lari keluar dan benar ada yang kecelakaan, orang-orang pada ramai berkumpul. Seperti biasa aku melihat Ardi sudah berada disana menolong korban. Anak yang berada di tas gendong bayi ibunya mengalami luka di dahinya, darahnya keluar. Ibu dan kakak dari adik itu tidak kenapa-kenapa hanya si kecil itu yang terluka. Sebagian wajah si kecil itu tertutup darahnya. Aku ingin kesana tapi rasanya sudah tidak papa karena ada Ardi yang menolongnya. Aku juga sudah terbiasa melihat ini dalam satu bulan ini sudah 3 kali terjadi kecelakan di sekitar sini. Kalian tau dalam setahun pasti selalu ada yang kecelakaan di sekitar sini. Masih belum ada yang memberi papan peringatan bahaya tikungan maut atau apalah dari RT atau dari yang memiliki kedudukan tinggi. Apakah karena rumah-rumah yang berdekatan dengan jalan sehingga meyulitkan pemasangan papan peringatan? ini sudah 3 kali terjadi kecelakaan di sekitar sini. Ah aku jadi banyak berpikir lagi.


Sudah banyak orang telah berkumpul, keluarga ku juga sudah berdatangan. Hampir semuanya lengkap. Kakak Yudhi, Paman, orang tua, kaka ku dan si Melda istrinya dan keluarga lainnya. Nisa sepertinya gak datang, bapaknya yang mewakili. Well acara kami mulai. Beberapa menit sebelum berbuka puasa ibuku menyuruh kakak dan kakak Yudhi untuk memberikan amplop ke semua yang hadir. Aku merasa gak enak, ah ini pasti ide pak Iin. Syukurlah bukan aku yang disuruh membagikan amplopnya, kalau aku yang membagikan bisa kacau menanggapi reaksi dan aura tiap orang. Ibuku terlihat seperti pamer saat menghitung uang yang akan dibagikan buat ibu-ibu di dapur. Aku tau sifat ibuku rasanya aku ingin menegurnya tapi sulit sekali tak tau darimana awal untuk menegur, kondisinya kurang tepat. Sekali lagi aku ucapkan aku tidak tertarik dengan uang, tidak ada keistimewaan disana kalau hanya disimpan dan digunakan untuk hal yang kurang bermanfaat. Aku mengerti itu dan membuat hati ku tergerak untuk berkerja setelah ramadhan ini dan mengumpulkan uang sebanyaknya untuk hal yang bermanfaat. Latihan untuk mengendalikan sifat labil ku ini juga hampir selesai, aku merasa bisa menangani berbagai masalah yang akan datang. Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Tapi masih ada rasa kosong dalam hati ini. Apa aku membutuhkan kekasih? rasa gelisah di dada ini membuatku sesak.


Aku mencoba berjalan ke sana kemari untuk menenangkan ku. Nihil. Rasanya gak enak banget. Bolak balik buka FB dan Line gak ada yang dicari. Ah aku diam sejenak berpikir untuk memaknai perasaan gelisah ini. Hari ini spesial sekali dari pada hari-hari lainnya. Hari ini perasaan ku bercampur aduk ada senang, tawa, sedih, takut, marah, semangat dan lainnya, mungkin itu yang membuat perasaan gelisah ini. Si monster labil merasa senang, sekarang apa? apakah sudah selesai? tu-tunggu dulu masih banyak pertanyaan yang belum terjawab ini bukan akhir kisah hahaha.

__ADS_1


__ADS_2