
Huhh..
Semuanya jadi kacau.
Tenggelam dalam kegelapan, aku mencampakkan semuanya. Tak ada yang perlu diharapkan dari mereka semua. Aku menjadi penyendiri.
Ketika kita terluka, setelahnya pasti akan mencari tempat untuk bisa menyembuhkan luka. Begitu pula bagiku. Teringat siapa saja yang bisa aku hubungi. Tapi.. sedikit dan meragukan. Aku hanya bisa mengirim pesan sedang bad mood.
Teman yang sedikit adalah pilihan dari keputusanku untuk menangani dampak labil. Memilih pilihan yang terbaik tentunya aku harus bisa bertahan pada keputusan itu agar tidak labil lagi, agar tidak mudah merubah pikiran.
Sekarang siapa yang bisa menolong?
Ya siapa lagi kalau gak Yang Maha Menciptakan.
Awalnya aku sadar kalau cobaan ini hanyalah sandiwara untuk menjadi lebih baik lagi. Tapi emosi begitu sulit terkontrol saat dekat dengan mereka. Tubuhku gemetar karena serang mental sementara emosi ingin menjauhkanku dari mereka. Mengabaikan. Menjadi orang yang tak peduli.
Pikiran menjadi kacau membandingkan-bandingkan antara baik dan buruknya pilihan yang akan aku putuskan. Pusing sekali.
Mengapa mereka selalu mempersalahkan tentang diriku? Apakah benar kalau jalan yang aku pilih ini salah?
Ingin juga ku salahkan kesalahan mereka dan menuntut seperti cara yang mereka lakukan.
Salah.. langkah ini juga salah.
Tak sanggup tubuhku berbuat baik lagi walaupun hati enggan melakukannya. Aku tahu jika aku memutuskan hubungan lagi hanya akan menambah dosa.
Salah siapa? Mereka sendiri yang meminta ku untuk menjauh lewat tindakan yang telah mereka lakukan.
__ADS_1
Tak sadarkah?
Aku menyadari situasinya. Aku bisa melihat seluruh skema peristiwa yang terjadi dan kemungkinan yang akan datang dengan membaca kepribadian mereka kemudian mengambil langkah. Hanya untuk sebuah solusi untuk mempertahankan pilihan dan berdamai. Sayangnya.. langkah satu-satunya untuk bisa berdamai ialah membangun hubungan dengan mereka. Caranya mengungkapkan isi hati lalu dicaci, kemudian menjadi yang hina dengan mengikuti saran mereka. Dan akhirnya jatuh lagi karena kesalahan.
Damai? Ahaha.. tidak. Ujungnya akan tetap sama.
Setelah minggu kemarin dan seterusnya aku bersikap dingin pada mereka kecuali adikku. Makanan yang biasanya mereka bawakan buat orang di rumah ini tidak aku makan. Tak sudi diriku mendapat tenaga dari orang yang membenciku. Kakakku sedikit tahu tentang ekspresi ku saat sedang marah jadi ia menjaga jarak. Imel, istri kakakku juga kena dampaknya. Bukan karena benci namun aku ingin dia tak terlibat dengan masalah kami. Imel tak salah apa-apa, dia punya etika, pada saat keributan pun dia hanya diam saja.
Ini pelajaran terakhir dari pengalaman berhubungan dengan keluarga.
Aku ingin mereka sendiri yang meminta maaf langsung padaku.
Sampai itu terjadi aku akan terus bertindak jauh dari yang pernah mereka kenal.
Sebelum minggu terburuk itu terjadi nenekku ingin menghauli keluarga terdahulu. Awalnya aku senang membantu dan menyarankan banyak hal. Tapi salahnya langkah yang diambil membuatku harus bersikap dingin. Kurang lebih satu dua kata aku bisa berucap seperti bilang "iya" dan "tak tahu". Bila bertanya meminta saran, aku akan bilang terserah. Merujuk pada makna aku tak peduli lagi bukan hak ku lagi ingin ikut campur.
Kalau dia bukan nenekku sedari dulu sudah pasti telah aku jauhi.
Ini balasan atas tindakan. Aku juga tak mengharapkannya. Hati serasa sakit berbuat kasar namun disisi lain hati juga sakit dengan perlakuan mereka. Menengahi keinginan hati. Aku tak mau menghilangkan perasaan hati sampai habis total. Aku masih menyisakan sedikit perasaan karena aku tak mau ditinggalkan oleh Yang Maha Pencipta lewat tindakan yang tak beperasaan. Aku masih bisa berpikir. Aku punya akal.
Kesulitan.
Aku bersikap acuh saja untuk sementara sampai benar-benar tak ada jalan lagi.
Tak lama juga aku menginginkan balasan sampai hatiku bisa mengikhlaskan sikap nenekku. Kembali menjadi diri sendiri lagi. Tapi hanya untuk nenekku. Buat mereka yang tersisa masih belum bisa.
Minggu selanjutnya mereka datang. Siang sebelum sorenya mereka datang aku sudah punya firasat kalau mereka bakal datang. Tubuhku jadi dingin dan sedikit gemetar. Wahaha sudah trauma ya? Aku menertawakan diriku sendiri.
__ADS_1
Pengen kabur sih tapi jemuranku belum aku rapikan. Yah mau bagaimana lagi. Siangnya aku istirahat. Setelah sholat Ashar barulah aku merapikan jemuran.
Sorenya mereka datang juga.
Ucapan salam tak ku balas.
Mereka lewat dan memuji aku yang merapikan baju.
Kutil onta..
Pelajaran terakhir dari ucapan pujian dari orang-orang seperti itu hanyalah tipuan belaka. Jika kamu membalasnya justru mereka akan makin jijik denganmu. Di abaikan pun makin salah. Jadi jawabannya biarlah kita abaikan, karna mereka takkan pernah puas mengejek. Berpikirlah kalau Tuhan lebih dekat dengan kita, lebih mengerti, lebih pemaaf dan lebih penyayang. Janganlah ragu bergantung pada Tuhan Yang Menciptakan alam semesta ini. Dengan cara itu kau akan jadi seseorang yang takkan pernah takut dengan makhluk Ciptaan-Nya.
Karakter baru terbentuk lagi dari campuran karakter asli dan Beater. Namun Beater lebih dominan.
Beaster
Warna oren.
Ekspresi wajah ganas. Aura menekan. Fisik meningkat yang seimbang dengan kecepatan.
Karakter buas yang tak kenal takut telah selesai, menyelesaikan penyempurnaannya.
Tapi aku masih ingat banyak pesan hidup dan pelajaran dari guru-guru kalau aku tak boleh sombong. Tak kenal takut aku niatkan untuk mengalahkan serangan mental. Agak sulit sih๏๐ kadang aku melangkah seperti menggetarkan sekitar, melebarkan tekanan.
Tiap karakter juga punya ciri khas tersendiri begitu pula dengan cara melangkahkan kaki. Aku lebih sering menggunakan cara Zheill karena lebih tenang.
Uhh.. saat ini rasanya sangat sulit menenangkan diri๏๐ aku on fire! Terbakar semangat tekad merasa lebih kuat. Ahh itu juga sombong.
__ADS_1