
Tepatnya hari senin tanggal 19 Agustus kami merayakan 17an dengan bermain permainan kasti bersama murid-murid di belakang sekolah. Muridnya memang sedikit makanya guru-guru ikut bermain untuk meramaikan suasana, yap aku juga diajak ikut bermain.
Bicara sedikit mengenai sekolah ini awalnya aku juga tidak menyangka kalau di sini ada SMA, aku kira hanya ada SD dan SMP saja. Tak ingin berpikiran dangkal, mungkin saja ada alasan kenapa sekolah ini belum terkenal atau ada semacam hambatan lainnya. Aku tak perlu memikirkan alasannya karna bukanlah tugasku.
Pagi hari sekitar jam setengah sembilanan kami berangkat ke belakang sekolah.
Di belakang sekolah SMA ini terdapat lapangan yang luas, yang juga termasuk bagian dari tanah yayasan. Tanahnya putih halus seperti pasir, sangat luas, memang pas jika dijadikan lapangan olahraga. Tiap sore juga kadang aku melihat anak-anak pesantren latihan silat dan bermain bola, enak banget.
Sebelum sampai ke tujuan, kami melihat bekas gayung tukang bangunan dan batang besi buat pondasi bangunan di atas tempat penampungan air milik sekolah. Ada seseorang yang berusaha memakai besi dan gayung itu buat mengambil air milik sekolah. Aku tak berani menegur, kalau saja mereka sudah disetujui oleh pihak atas, aku tak punya banyak informasi. Tetapi kata bu Fatim dan bu Yanti hal semacam itu tak mungkin terjadi. Jadinya aku harus mengambil tindakan agar jangan ada lagi yang mengambil air di penampungan. Apalagi dengan sampah-sampah yang di dalamnya.
Aku sempat menduga pelaku yang mengambil air adalah orang tua/pengangguran yang sering datang ke sini. Rambutnya sedikit panjang dan sudah berhuban. Jangan tanya apa aku berani menegur atau tidak. Kerjaku masih belum ekspansif, aku masih berfokus dengan pengaturan waktu, menempatkan pekerjaan agar efektif. Setelah sholat subuh aku pergi pulangnya senja. Syukurnya sabtu minggu libur jadi bisa istirahat. Masih belum tahu bagian mana saja yang perlu diperbaiki, aku belum melihat polanya.
Pikiranku terhenti setelah melihat Gina berjalan di depan. Ia adalah siswi kelas tiga. Jika ditanya kenapa aku bisa kenal dirinya? ohoho sudah jelas.. karna namanya sering aku dengar, jadinya tahu deh orangnya yang mana haha.
Oh iya, ia memang cantik, mungkin yang paling cantik di sini dari SD sampai SMA bahkan sampai dari alumni terdahulu sampai sekarang haha. Jadi kenapa aku membahasnya? yaa hanya sekedar kenalin aja -_-
Kemudian!! kita bahas permain kasti yang akan kami mainkan!!
__ADS_1
Sudah lama gak main jadi rindu masa-masa kecil. Sebelum bermain.. terjadi lagi..
Pak Wahyu tidak kenal dengan permainan kasti.
Aku, ust Ma'mun dan pak Riza pun mulai heran.
Anak rumahan? masa iya? aku aja yang lahiran 97 masih kenal permainan ini bahkan saking seringnya dulu aku main sama teman-teman masih ingat caranya mainnya gimana.
Lalu pak Wahyu menjelaskan kenapa dirinya jadi tidak kenal dengan permainan ini. Cukup aneh juga alasannya.
Permainannya sama seperti main bisbol hanya saja lowbudge dan disederhanakan cara bermainnya. Pelemparnya adalah teman se-tim melemparkan bola ke arah si pemukul. Bila bola kena alat pemukul jauh atau tidak mantulnya bola si pemukul harus berlari ke tanda/tempat yang aman sesuai urutan. Ada 3 urutan, dari kanan sampai kiri sama halnya bisbol. Jika berhasil kembali ke Base, satu orang dihitung satu poin. Nah jika gagal atau pemain terkena bola kasti maka tim lawan yang akan bermain memukul bola untuk mencari poin. Misal pemain biru kena bola sementara tim merah yang berjaga ada yang masih belum kembali ke Base maka pemain biru masih ada kesempatan untuk membalasnya dengan melemparkan bola lagi ke pemain merah. Simpel saja kan cara mainnya, asiknya jika main permainan ini paling enggak ada 5 orang lebih dalam satu tim, biasanya di sekolahan mainnya.
45 menit kemudian~
Guru-gurunya kalah gara-gara diriku huhu..
Efek ngantuk terus minum kopi. Pikiran berat pengen mukul bolanya selalu salah timing *hiks.. tambahan karna efek gerogi.
__ADS_1
Ah agak kelepasan senangnya. Sudah lama gak bermain ramai seperti ini haha.
Aku hendak berangkat mengambil makanan di kantin tiba-tiba saja ustadz Zul berbicara mengenai diriku dihadapan siswi-siswi yang sedang belajar di teras depan ruang guru.
"nih seperti Hafidz kalau mau cari calon suami.."
Uuuwaatttt!!!!
Ekspresi jelekku pun keluar.
Salah seorang siswi yang kulihat juga terheran-heran.
Why!? mengapa?? apa? kenapa tiba-tiba??
Aku tak ingin melanjutkan perbincangan ah maksudku ungkapan ustadz Zul, tanpa membalas apa-apa hanya sekedar ekspresi heran saja akupun lanjut ke kantin.
Ahhh.. tadi.. jadi melihat wajah siswi-siswi dah. Padahal sudah berusaha menundukkan pandangan ehh malah situasi tak terduga tadi menjadi celah deh.
__ADS_1
Heran juga kenapa ustadz Zul bilang begitu dihadapan siswi-siswi. Memangnya landasan apa yang membuat ustadz Zul mampu mengungkapkan hal seperti itu. Padahal aku ini jauh lebih rendahan dari pada yang lain.