Monster Labil

Monster Labil
Percaya Diri


__ADS_3

Aku masuk ke dalam langgar dan ku dapati jejak telapak kaki yang kotor. Beberapa waktu yang dulu pun pernah bau amis  kencing di dalam ruang pojok dekat jendela depan. Penyebabnya tak lain tak bukan orang gila yang ada di kampung kami. Panggil dia Agus.


Ini sudah kelewatan kami harus mengambil langkah pencegahan.


Memang solidaritas kami, orang sekampung tak sekuat seperti dulu lagi. Zaman sekarang orang-orang pada sibuk pada urusan masing-masing. Banyak hal yang menyebabkannya. Salah satunya, pilihan aktivitas yang banyak. Dibandingkan dengan zaman dahulu yang belum modern orang-orang lebih memilih menghabiskan waktu bersama-sama karena hanya itulah pilihan yang paling mengasyikkan. Sekarang diam di rumah pun bisa sangat seru.


Zheill: kayak elu..


*nyeh!


Aku tidak suka melibatkan diri ke dalam hal yang merepotkan dengan sengaja. Mungkin sejauh ini aku sudah pastikan kalau sehari paling enggak batas ketenanganku bergaul sebanyak kurang dari sepuluh orang. Lebih dari itu mungkin pengambilan tindakan tak sebaik pada kondisi prima. Aku labil dan aku paham betul dampak yang akan aku timbulkan.


Setelah diskusi ringan dengan yang lainnya kami dapat solusi untuk mencegah si Agus. Biasanya langgar kami gak dikunci sebab tidak ada yang tahu siapa yang akan datang duluan. Kalau bapaknya Parid? yep kadang bisa kesiangan juga, terlihat jelas mata pandanya, hitam banget.


"bro, kalau datang duluan, nih aku letakkan kunci gemboknya di meteran air" kata Nanang atau bapaknya Puteri.


Bro? oh, iya, dia belum tahu namaku.


"ok" sambil mengangguk.


Mah gak papa juga sih kalau aku yang datang duluan soalnya aku bangun tiap subuh bila gak kelelahan.


Mematikan lampu pake tangan kanan. Keluar dari langgar kaki kiri. Make sendal dulukan kaki kanan. Nutup pintu pake tangan kanan.


Easy!


Aku melihat si Hakim masih berdiri gerak-gerak gak jelas di depan langgar.


Nungguin aku kah? ewww..


Duh.. jangan samakan aku dengan orang lain. Aku lebih senang menyendiri. Daripada nungguin aku mending cepat-cepat pulang dan beribadah.


Inginnya ku sampaikan. Tapi tindakannya itu, nungguin teman kan salah satu bentuk menghargai ikatan. Kalau dia ninggalin aku berarti sombong dong.


ewww.. tapi entah kenapa aku malah merasa gak senang.. atau mungkin terusik


Sabarkan aku Ya Allah


*sambil mengelus dada


Aku menghampirinya dan membuka obrolan. Pake kepribadian Hapis.


Jadi lancar.


*Bengong sejenak.


Uwwaah! beneran jadi tenang.


Sampai ke rumah. Alhamdulillah bisa lolos.

__ADS_1


>>MONSTER LABIL<<


Aku pernah memperhatikan anak paskibraka lagi latihan di halaman sekolah. Memperhatikan bagaimana bisa mereka begitu percaya diri menampilkan kehebatan mereka. Bentuk latihan agar bisa fokus? ahh bukan itu yang ku perhatikan, bukan soal latihannya tapi..


Bagaimana mereka bisa percaya diri? darimanakah rasa percaya diri itu datang?


Kalian tahu aku ini orangnya penakut. Seandainya ada seekor singa muncul dihadapanku mungkin untuk aku yang dulu sudah pasrah akan datangnya kematian. Beda dengan yang sekarang.


Beater.


Percaya diri apakah bentuk dari suatu kesombongan ataukah kebanggaan?


Aku tak begitu yakin.


Tubuhku berontak, tak mau berlama-lama menyaksikan latihan paskibraka. Kenapa?


Apakah aku punya dendam? Apakah aku tidak suka melihat orang lain membanggakan kehebatannya?


Aku ingin tahu penyebabnya..


Langkah pertama yang aku lakukan untuk mengulas masalah ini  mencari tahu cara pandangku terhadap bentuk kesombongan, kebanggaan dan percaya diri.


Sombong.


Umumnya kesombongan akan selalu dipandang negatif karena merasa jauh lebih tinggi dari yang lain. Menghadirkan kebencian pada orang-orang yang merasa terinjak. Sadar maupun tak sadar.


Kebanggaan.


Jika kita melihat seseorang yang membanggakan diri bagaimana respon kita?


Misalnya aku yang berpikir negatif, pasti responku juga  akan negatif. Itu artinya tergantung orang-orangnya yang melihatnya dan menilainya. Namun dalam kasus yang berbeda misalnya seseorang membanggakan sesuatu dengan cara yang salah? sulit melihat ke lubuk hatinya. Tapi tetap saja jika kita berpikiran buruk yang salah kan adalah kita.


Hmm.. aku tak bisa memastikannya walaupun dulu aku pernah melakukannya.


Tak sepenuhnya tebakanku akurat tentang melihat ke dalam lubuk hati seseorang, yang kulakukan hanya merasakan aura mereka dan melihat gerak-geriknya, inilah caraku menilai seseorang.. bukan dari kata orang atau  kabar burung.


Lalu bagaimana dengan tubuh yang menolak keinginan?


Biasanya tubuh menolak keinginan sadar adalah bentuk dari trauma.


*Mengingat tiap kejadian yang pernahku alami


Hmm.. hmm.. hmm.. ( '_')


Aku.. ('_' )


emm.. (._. )


Juga gak terlalu ingat -___-

__ADS_1


*gubrak!


Yaa~ pas waktu kecil aku tak terlalu paham soal hati dan niat jadinya aku tak bisa memastikannya, bagaimana rasanya dan reaksi orang lain.


Tapi tapi tapi ada satu hal yang mungkin sebagai penyebabnya.


Kau tahu kita pasti sering memandang ke bawah. Merasa hidup kita jauh lebih enak dibandingkan yang lain, aku pun berpikir seandainya aku diposisinya gimana?


betul juga..


Hatiku pun merasa, berkata sebaiknya jangan berada diatas.. aku ingin berada ditempat dimana semua orang bisa menggapaiku. Mungkin tanpa sadar aku telah menanamkan cahaya pengingat itu sejak menyadari kesombongan yang pernah aku buat. Bahagia sendiri itu gak asik. Kita harus membagikan kebahagian itu walaupun akan berkurang. Untuk diri sendiri memang kurang puas namun setidaknya untuk orang lain bisa merasakannya.


Kebahagiaan dari hasil percaya diri yang bisa dibagi akan memiliki nilai.


Sebagian kasus membanggakan diri memang bisa dibagi. Apakah membanggakan orang tua ataupun negara, aku tak bisa memastikannya dari tiap lubuk hati seseorang.


Jawaban atas keraguan yang aku rasakan tak sekuat dengan penolakan trauma yang sesungguhnya. Diantara rasa penolakan dan keinginan tahuan. Mungkin jawaban yang sebenarnya aku cari ialah sebuah tindakan. Butuh waktu lama jika aku berniat mengungkapkan tujuan hati tiap anak paskibraka. Banyak membuang waktu daripada hasil yang diperoleh menemukan jawaban dari tujuan mereka. Tubuh pun beranjak ingin pergi karena sudah tahu hasilnya.


Kira-kira begitulah.


Tapi beda lagi ketika anak paskibraka yang menjadi anggota upacara bendera pas 17 Agustusan, hari kemerdekaan. Tujuan hanya berfokus memberikan penampilan terbaik.


Huhu~ entah kenapa aku jadi terharu..


Di perjalanan pulang menuju rumah aku berpas-pasan dengan si Agus.


"haratnya mengunci, awak kakanak" sambil melangkah cepat.


Katanya "hebatnya(nakal) mengunci(langgar), kamu anak kecil" gitu translate nya.


Aku membalas.


"awas aja kalau lo masuk" nantangin


"awak kakanak woy!" pergi menjauh


Uhh.. ini dia, reaksi penolakan. Tubuhku gemetar. Tapi kenapa aku takut? oh bukan takut kalah adu jotos tapi takut menyalahkan penggunaan kekuatan. Lagian si Agus kan orang gila..


*oyy yang namanya sama bakalan kesinggung


-__-


Kurasa percuma juga sih aku mengancamnya.


Benarkan..


Sekarang aku jadi percaya diri. Merasa punya kekuatan membuatku lebih berani. Bukankah ini bentuk dari kebanggaan? jika lebih akan jadi sombong.


Tak boleh..

__ADS_1


Aku harus tunduk dimanapun aku berada.


Di luar sana ada jauh lebih banyak monster.


__ADS_2