Monster Labil

Monster Labil
Hapis dan Kebanggaan


__ADS_3

Semua orang pasti pernah dipuji bila melakukan hal yang luar biasa. Rasanya setelah dipuji itu sangatlah luara biasa, kadang kita bisa mengekspresikannya secara berlebihan. Ingin meledak!! mungkin begitulah rasanya. Hidup dan berjalan bersama sebuah kebanggan itulah yang dialami olehku dulu.


Teman-teman lamaku masih ada yang memanggilku Hapis padahal nama depanku Hafidz bukan Hapis. Terbiasa dipanggil Hapis rasanya akan canggung bila ada yang memanggil namaku dengan benar.


Hafidz kan artinya hafal Al-Quran? yep aku jadi merasa bersalah dengan namaku sendiri yang berkebalikan dengan perilakunya. Jadi kalau ada yang memanggilku Hapis itu lebih bagus, yahh agak ringan gitu.


Enggak kok, malahan aku suka dengan namaku sendiri apalagi dibagian "Rach"nya.


Menurutku arti dari nama belakangku bukanlah ke arah Bulan Ramadhan melainkan ke arah harta benda atau ekonomi. Rach itu bukanlah Rich(kaya) bukan juga miskin dan "Dana" adalah harta yang ku miliki. Penghubung keduanya "ma" aku tidak tau. Namun naluriku bilang arti keseluruhan dari nama belakangku adalah kesederhanaan dan seimbang. Dari namaku saja sudah unik apalagi orangnya. Tapi ya tentu saja aku paham kalau di dunia ini gak hanya aku unik. Semua orang memiliki ke unikan masing-masing. Yang hendak aku maksudkan adalah tiap cerita yang aku tulis berdasarkan perasaan saat itu juga yang aku alami. Aku sombong, marah, senang, ceria.. kemudian pengalaman-pengalaman ini aku ambil saat aku dalam karakter Hapisku.. bangga dengan dirinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku sangatlah kekanak-kanakan dan sering membeli mainan. Uang jajanku selalu saja habis setelah ku belanjakan dengan mainan dan bila sampai ke rumah sepulang sekolah aku pasti kelaparan. Mainan seperti sihir yang menggodaku apalagi mainan miniatur robot Gundam dengan segala macam senjatanya. Di rumah aku selalu memainkannya sesuai imajinasiku, yang cowok pastilah paham apa yang ku maksud. Sangkin asyiknya ibuku dan nenekku bilang aku sedang berwayang(wayang kulit). Tak hanya bermain robot-robotan permainan bongkar pasang pun ku mainkan. Tak tanggung-tanggung aku membuat sebuah kastil untuk kucing-kucingku. Mainan puzzle yang didapat dari hadiah susu bayi tidak terlalu banyak jadi bila aku hendak membuat bentuk yang lain terpaksa harus dibongkar. Jepitan jemuran juga ku buat bentuk robot. Aku menyusun semua mainan dengan rapi seperti kota dan seisinya di ruang tamu. Yang bikin kesel saat kucingku ikut bermain. Langsung nyebur gitu kayak di sungai. Merusak pemandangan!. Terpaksa harus menyusun ulang lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pengalaman pertama aku belajar membaca maksud orang lain adalah saat bermain sendiri, sementara temanku yang lain asyik duduk bercanda. Entahlah langsung saja aku aku mengira kalau temanku si Ardi yang duduk dekat yang lain sedang membicarakanku, berbisik ke teman sebelahnya dan menatapku. Bukan membicarakan hal yang baik itulah maksud yang aku tangkap dari melihatnya. Entah apa yang merasukiku, bukannya kalau ada kesalahan kita harus minta maaf. Aku bangun lalu menghampirinya untuk minta maaf. Tapi dia bilang "minta maaf soal apa?" dengan nanda seperti mengolok. Ini tidak baik kenapa aku langsung bertindak demikian. Dengan santai aku kembali ke tempatku dan bermain lagi. Kemudian aku lupakan yang telah terjadi. Aku tau kok makanya tidak ku teruskan untuk berdebat. Aku tidak pandai bersilat lidah sebab aku orang yang pemalu.


Ibuku membeli sepeda milik tetangga untukku


dengan harga murah. Sudah lama aku ingin memiliki sepeda dan akhirnya kesampaian. Bertapa bahagianya aku. Walaupun sepeda bekas aku tetap senang, langsung saja aku memakainya untuk berangkat sekolah. Aku memang pemalu tapi kalau saat bersama teman-teman aku bisa kelepasan ceria dan mungkin saja sebagian akan ada yang menganggap aku sebagai pengganggu.


Pulang sekolah aku bareng teman yang saling balapan. Tidak terlalu ingat dengan siapa aku pulang tapi satu orang yang paling aku ingat dia adalah si Hakim. Setengah jalan lagi sampai ke rumah, setelah menuruni jembatan tiba-tiba rem ku macet membuatku jatuh di pinggir jalan. Aku merasa ada cairan yang keluar di bibirku dan rasanya nyeri.


Uh berdarah..

__ADS_1


Aku hanya melihat sosok Hakim yang menemaniku, yang lain sudah menghilang dari pandanganku. Sebetulnya aku ingin nangis tapi tidak jadi karena masih ada yang peduli denganku. Aku menyuruh Hakim duluan. Anehnya aku tidak marah dengan mereka padahal sudah meninggalkanku, terlalu cepat aku melupakannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kehidupan baru mulai ku rasakan saat bersekolah di SMP Negeri 1 Tanjung. Banyak sudah aku memiliki teman baru. Ibuku sempat khawatir denganku, semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan apakah aku akan diterima di sekolah ini. Aku meyakinkan ibuku kalau pas ujian pendaftarannya gampang kok. Nilai 80 ku dapatkan di ujian tertulis. Yey aku lulus padahal asal-asalan aja ikut daftar di sekolah ini๐Ÿ˜….


Awalnya sendiran saja aku berangkat sekolah setelah tidak ada lagi Nadia yang mengikutiku aku enjoy aja sampai bertemu kaka sepupuku, Irfan, beda setahun denganku di sekolah yang sama. Menjadi kebiasaan tiap hendak berangkat mereka menungguku. Ah pasukan bertambah mulai dari Irfan, Ilham temannya, Syarif seangkatan denganku dan juga Ramlan. Kalau Ramlan jarang sih ikut berangkat dengan kami. Kami jadi sangat akrab dan pastinya pergi dan pulang sekolah selalu bersama.


Dalam hubungan pertemanan pastilah pernah kelewatan dalam mengekspresikan diri. Pernah sekali Irfan mengolok-olokku, aku tidak ingat apa yang ia katakan tapi yang pasti ucapannya sangat kejam dan hatiku sangat terluka. Kalian tahukan aku ini mental tempe. Tidak biasanya ia berucap seperti itu. Merendahkan atau mengejek dengan bahasa kasar dan diucapkan secara langsung itu tandanya ungkapan ketidak sukaan kan? bila ada yang tidak suka maka pilihan terbaiknya adalah menjauhkan? itu yang aku pahami dan kulakukan.


Aku melihat mereka masih menungguku dari balik jendela kaca rumah. Menunggu sampai mereka bosan menunggu. Kalau Irfannya gak ada bersama mereka aku langsung cus aja, hanya dia yang mesti dihindari. Jam menunjukkan angka 7 lewat beberapa menit.


Cihhh ngapain sih, kenapa masih menungguku?๐Ÿ˜ก


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kalian tahu apa yang tidak ku suka dari hari jum'at? yaitu jam eskul. Aku ikut eskul English Day karena ikut-ikutan Bayu. Habisnya aku masih tergolong makhluk yang pemalu. Padahal ada niatan sih ingin ikut eskul silat, melihat mereka menendang ke sana kemari dan gerakan unik lainnya membuatku terpikat. Ingin sih. Cuman aku terlalu pemalu dan takut sendirian. Jadi yah beginilah jadinya. Pernah terbesit ingin keluar dari eskul ED tapi aku ketakutan saat berhadapan dengan guru pembimbing. Serem auranya serem. Aku takut bicara. Alaram bahaya dari insting bikin gaduh. Uahh.. terpaksa aku harus menjalaninya.


Aku dengar kalau Bayu pacaran dengan Citra, anak akselerasi. Pernah tak sengaja melihat isi pesan hp nya Bayu. Benar mereka pacaran. Kelas akselerasilah yang selalu dipakai untuk eskul ED. Jadi apakah karena ini Bayu ikut- ah ngibul kamu pis, jangan berpikir yang enggak-enggak.


Tiap kali masuk kelas akselerasi auranya begitu berat๐Ÿ˜ซ. i-ini adalah tahta murid terbaik di sekolah ini. Arrgghhh aku sesak napas๐Ÿ˜จ. Apalagi harus eskul di sini. Jujur saja tak ada yang berubah dari SD sampai sekarang. Aku selalu tertekan oleh kelemahanku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Uah cepatnya!!

__ADS_1


Hampir semua teman kelas terkagum-kagum dengan kecepatan berlariku. Aku merasa tubuhku sangat ringan saat berlari tadi dan juga anginnya terasa terbelah gitu. Wow. Kejadian ini mirip ketika kami jalan-jalan ke hutan dulu. Tak sengaja bertemu orang gila bawa raket dan barang-barang aneh yang ia gendong pakai karung. Merespon keanehan tubuhku langsung bergerak sendiri secepat kilat ambil langkah seribu. Kurang dari 3 detik sudah sampai setengah jalan dan berhenti saat mendengar ada yang memanggilku. Oh Rezeki aku kelupaan.


"cepatnya pis" terengah-engah


"heh masa?" nada santai


Aku selalu santai menanggapi pujian dari orang-orang. Merasa tak enak lalu aku mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan tentang diriku, misalnya memuji dia yang tadi memujiku agar tak hanya aku yang jadi pusat perhatian. Inilah keahlianku yang sudah terprogram sejak lahir. Tak bisa diubah.


Aku juga punya senyum yang tulus. Kelas lain pernah bilang kalau senyumku itu lucu tapi aku ragu apa benar begitu, aku lari masuk kelas dan merenunginya. Dia berkata jujur aku bisa merasakan auranya yang tenang.


Rezeki atau adik sepupuku juga pernah minta fotoku yang lagi senyum untuk menunjukannya kepada teman cewe di kelasnya. Gila banget pas pulang sekolah 5 pesan masuk dari nomor yang berbeda dan isinya sama ingin minta kenalan. Uahh aku pun membalas tanggapan salah satu dari mereka.


Banyak hal yang telah dialami..


Roda kehidupanpun perlahan berputar..


Masalah mulai berdatangan. Sebentar lagi naik kelas 2 SMA. Aku punya teman baik di kelas namanya Dayat. Dia teman cowok pertamaku aku sudah pernah menceritakan di episode Sebuah Pertanyaan. Dengannya aku bisa menjadi diriku yang sesungguhnya, Hapis. Aku merasa dia yang paling mungkin untuk menjadi tempat curhatku. Aku meminta pendapatnya bagaimana cara untuk menghadapi hubungan keluarga yang retak. Jawabannya aku tak terlalu ingat tapi hatiku ingat bagaimana rasanya. Aku yakin aku bisa menghadapinya, masalah yang akan datang.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Lalu aku bertemu mereka berdua..


Zheill yang terpuruk di sudut ruangan dan Beater yang sedang menyesali kelemahannya.


Hei..

__ADS_1


__ADS_2