Monster Labil

Monster Labil
Teruslah Berpikir


__ADS_3

Ibaratkan hari,dunia ini adalah senja nya,dan manusia sebagai jembatanya. Waktu itu tanggal 25/11/2014 aku bergegas untuk pulang sekolah, aku sudah tak sabar ingin ke pasar untuk membeli sepatu baru, sepatu yang dapat melincahkan penggunanya. Awalnya aku agak ragu-ragu sih tapi jika terlalu lama mikir nanti jadi beban.


Sesampainya aku parkir kendaraan dan memasuki pasar, aku cek uang yang ku bawa, okeh pas, minimal ada sepatu yang dibawah dua ratus ribu lah harganya. Aku berjalan dan melihat toko sepatu, hati ini mulai semangat untuk menghampiri toko tersebut, tapi tiba-tiba ada yang memanggil, memanggil siapa? Aku kah? eh rupanya aku yang dipanggil, aku menghampirinya dan bertanya ada apa?


Rupanya seseorang yang lebih tua dari pada aku maksudku lebih mirip kakek-kakek namun bajunya pendek dan kotor, celananya juga sama, dia berjualan? tapi dia berjualan benda-benda aneh dan berbau mistis. Disampingnya ada juga orang yang berjualan akar-akar herbal. Setelah aku bertanya, kakek itu mengajukan beberapa pertanyaan, seketika itu penjual yang disebelahnya bicara, katanya "kamu beruntung" apa aku segitu beruntungnya? lalu si kakek mengajukan pertanyaan


"apa kamu islam?"


jawabku "iya"


"siapa nama mu?"


"hafidz,hafidz rachmadana"

__ADS_1


Kemudian ia bercerita tentang dunia ini, maksudku sisi gelap dunia ini, aku belum tahu apa gunanya dan apa yang ia ingin maksudkan, aku hanya bisa diam dan mendengarkan kakek tersebut, yang ia tuturkan kurang lebih yang kupikirkan selama ini, tapi aku tidak boleh terbawa suasana, aku harus lebih sadar dan berpikir, apa dia ingin menghipnotisku?


Sebenarnya dalam hati ini sudah nyesak ingin mengabaikan kakek ini, tapi yang namanya sopan santun harus dinomor 1 kan. Lalu kakek tersebut memintaku untuk meminjam uang recehan kertas, buat apa kata ku dalam hati, ingin bertanya tapi tidak bisa, sebaiknya menjadi pengamat yang baik, aku cuman punya uang lima ribu, tapi tak apa-apalah, lalu kakek itu mengambil sesuatu dari kotak misterius, rupanya rambut ,eh rambut..


Kemudian lagi ia bungkus rambut itu didalam uang tadi, ia berkata jika kamu ditabrak orang, lalu kendaraan kamu hancur, baju sobek-sobek, tapi badan tak apa-apa, apa kamu akan bersyukur?


Ya jelaslah pasti bersyukur..


Setelah badan kamu tidak terluka dan kamu menyombongkan kejadian itu, apa itu yang akan kamu lakukan jika setelah kejadiannya?


Jelas tidak ucapku..


Lalu dia mengoleskan tanganku dengan air yang berwarna ungu dan ada beberapa ranting pohon aneh di dalam botolnya. Baunya lebih mirip bau minyak urut. Setelah itu ia bercerita tentang dirinya siapa, maksudku agamanya dan masa lalunya. Dari gaya bicaranya dan beberapa ayat yang ia tuturkan aku menduga beragama islam ,tapi tidak, katanya dia belajar dari seorang habib entah habib siapa aku lupa mengingatnya. Katanya ia belajar dari habib itu, lalu ia minta maaf kalau jika ia salah mengucap ayat al-Qur'an. Kemudian ia mengucap ayat-ayat yang tidak pernah ku mengerti, lalu ia memintaku untuk menjawab pertanyaannya dari lubuk hati yang paling dalam agar memberi ia seikhlasnya dari ku maksudnya uang,.tapi aku hanya punya uang ratusan dua lembar, dengan berat hati ku berikan saja selembar untuknya. Apa aku tidak ikhlas? entahlah.. mungkin saja itu bukan rejekiku, anggap saja lagi menolong orang.

__ADS_1


Dari rawut wajahnya si kakek hendak memberiku sesuatu, yang dalam pikirku itu adalah sesuatu yang penting, aku membaca jalan pikirnya dan ucapannya, ia memberiku sebuah kertas dan kain yang bermotif ayat-ayat al-Qur'an dan terselip uang lima ribu beserta botol berisi air ungu tadi. Kata kakek, jika air yang ada dibotol ini habis kamu tinggal menjemurnya saja dibawah terik matahari maka ranting yang didalamnya ini akan menyerap sinar ultraviolet lalu menguap dan akan terisi air ungu lagi di dalam botol ini.


Wah reaksi apa coba sampai keluar air begitu ucapku dalam hati


Lalu si kakek mencoba membacakan sekali lagi ayat-ayat al-Qur'an, setelah itu ia mencoba menanyaiku lagi dengan jawaban dari lubuk hatiku. Lalu aku menjawab "jelas itu" lalu ia mengambil sesuatu. Apa itu paku? Bukan pisau, lalu ia menusukan ke lenganku.


Aaaaa!!!


Teriak aku dalam hati, tentu saja aku kaget dan tercengang, tidak ada luka tapi cuman sedikit sakit, jangan jangan..


Lalu kakek itu memperbolehkan aku pergi. Pastinya aku masih kebingungan, aku lihat orang-orang yang memandangku begitu aneh, aku juga keanehan, aku teruskan langkahku untuk menjauhi mereka, niatku untuk beli sepatu pudar sudah, tapi aku anggap itu bukan rejeki ku, jadinya sisa uangnya ku belikan pembersih wajah saja. Aku sengaja memutari keberadaan kakek tersebut untuk menjauhinya, pastinya, dan pulang dengan beribu pertanyaan.


Diperjalanan aku terus berpikir dan berpikir dan mengotak-atik kepalaku, beruntung, aku beruntung, aku beruntung, beruntung lenganku tidak ditembus pisau tadi, ya aku beruntung, kalo tembus gak apa-apa juga kan paling keluar darah.

__ADS_1


Setelah sampai dirumah aku ganti pakaian dan berbaring untuk menemukan jawaban. Kata pak Abdi orang yang percaya jimat itu sama saja percaya kalau jimat itu adalah tuhannya. Emm... dia memegang tanganku dan membacakan ayat, emm. . . Masalahnya kemana aku membuang benda-benda aneh ini dan juga uang untuk membeli sepatu, dan juga apa alasanku. Aku gak bakal cerita soal ini kekerabat dekatku yang hanya akan membuat masalah, apalagi dengan neneku, bila ada masalah nenekku langsung menyambar. Jelas aku pasti akam dimarahi karna uang ditukarkan sama jimat, aku tahu jimat ini mempunyai khodam yang ya menurutku mudah didapat, aku juga masih ragu untuk membuang jimat ini, mungkin saja setelah aku membuang jimat ini penunggunya langsung marah dan menyerangku, tapi aku juga ingin tau bagaimana cara kerjanya, namun aku tidak menganggap jimat ini adalah tuhanku. Mengenai dia si kakek tadi, setelah aku pergi meninggalkannya aku mendengar ia mengucap dzikir, aneh baru kali ini aku bertemu orang seperti itu. Sebenarnya apa yang ia pikirkan. Dan ada juga yang tadi, sebuah kata yang bikin aku ke bingungan "kamu beruntung" apa aku beruntung setelah bertemu dengan orang itu yang sebenarnya orang yang beruntung itu adalah orang yang rajin sholat ,membekali diri dengan ilmu, menjalankan sunnah rasul dan lain-lain yang sesuai tercantum di dalam al-Qur'an. Aku gak bakal percaya dengan orang seperti dia yang dia sendiri juga kebingungan dengan dirinya, maksudku aku tak mempercayai orang-orang, tapi aku tak menganggap disekitarku adalah musuh, aku hanya ingin berusaha agar tidak kebergantungan dengan orang lain.


__ADS_2