
Rasa yang seperti ini pernah aku alami ketika bersama teman-teman sewaktu sekolah dulu. Bercanda tawa dan saling berbagi kisah agar mengenal satu sama lain.
Bedanya, sekarang ini aku bergaul dengan orang-orang dewasa yang sudah berkeluarga. Tetap menyenangkan. Tidak ada perbedaan walaupun beda usia.
"tak apa nih kalau dilanjutkan bisa terjerumus loh??" suara hatiku.
Hal yang sering dialami ketika aku bergaul sampai lupa diri karna terlalu senang yaitu menyakiti orang lain dan ketergantungan.
"tenang saja, sudah ada cahaya pengingat"
Aku melihat ke papan daftar nama guru dan pegawai di sekolah ini. Ada yang sampai 8 tahunan seperti pak Iban dan bu Helda. Lama juga, tak disangka.
Melihat sampai ke bawah untuk mencari yang siapa saja belum sampai setahun. Banyak juga seperti pak Wahyu yang duduk di sampingku, baru masuk 2 bulan. Sebelumnya ketika aku baru masuk pak Wahyu bercerita kalau dirinya lah yang baru menikah sekitar sebulan lalu di rt sebelah. Wah! aku kaget sekaligus merasa bersalah soalnya aku paling males ikut ke acara pernikahan apalagi melihat pasangannya. Terkhusus untuk orang lain "masalah siapa kalian apapun tentang hidup kalian bukanlah urusanku" aku hanya akan mengenal jika itu dapat membantu kehidupan kalian.
__ADS_1
Kalian tak tahu beratapa bahayanya jika bisa merasakan sekaligus membaca keperibadian seseorang jika pikiran negatif yang mengambil alih tindakan. Kau menginginkan dirinya tersesat, jatuh bahkan sekalian saja menghancurkan kehidupannya.. semua bisa dilakukan. Makanya aku lebih memilih menyendiri dan jangan sampai pikiran kacau. Semua akibat akan kembali padaku diriku sendiri.
Suatu kejadian yang sungguh merubah suasana ruangan ketika pak Wahyu berbicara dengan logat daerahnya. Bukan, tapi ulah dari ust Ma'mun dan pak Riza yang selalu mengungkit sebagai bahan candaan. Awal-awalnya memang biasa saja tapi jika terus terusan bercanda seperti itu bisa saja masuk ke dalam hati, menjadi benci.
"berarti jika pak Wahyu marah nadanya juga sama yaa lemah gemulai.." katanya
Dan terus berlanjut sampai lewat seminggu.
Sampai aku merasa hawa marah dari pak Wahyu.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, salah-salah aku juga bakal kena.
Suara dari luar hati berucap "kok seorang ustadz kelakuannya begitu.."
__ADS_1
Informasi tersimpan kemudian membandingkan dengan ilmu tentang berbicara.
Aku tepis pikiran negatif untuk melihat lebih dalam tentang ust Ma'mun. Jangan sampai anggapan sendiri menjadi acuan menilai orang lain walaupun itu benar. Tak boleh ada keperibadian labil.
Ada satu cara ampuh yang setiap kali aku lakukan ketika ada orang lain yang tersakiti.
Yaitu..
Aku akan lebih dekat dengan korban dibandingkan dengan yang lain.
Hehehe.. apalagi jika status tinggi, cara itu bisa jadi sangat ampuh merubah pandangan orang-orang. Karna kebanyakan orang menilai dari luarnya saja sama halnya denganku sendiri. Maka dari itu pikiran atau anggapan orang-orang bisa kita kontrol sesuai yang diharapkan lewat tindakan yang mampu terbaca. Cara berpakaian, tindakan, ucapan, ekspresi dan hal lainnya.
Aku ingin yang menguntungkan untuk semua pihak. Pelan tapi pasti, juga tidak menguras tenaga.
__ADS_1
Hasilnya tidak ada yang tahu pasti karna hidayah hanya untuk orang-orang yang dikehendaki-Nya.
Kalau lagi kondisi bagus begini memang enak pikiran, gak ada niat yang jahat atau semacamnya.