
Sejak dulu aku tidak pernah memiliki keinginan besar untuk melakukan sesuatu. Cita-cita pun aku tidak punya. Di dunia ini tidak ada karir yang membuatku berminat. Ataukah aku tidak berusaha untuk mencarinya? untuk apa aku berusaha.. mungkin hidupku juga tak lama lagi. Aku tidak terkena penyakit mematikan atau sejenisnya walaupun memang ayahku dulu meninggal karena komplikasi penyakit, tapi penyakit bawaan kurasa semacam itu tidak ada di dalam tubuhku.
Kecuali untuk kakakku. Jantungnya lemah dan aku pikir waktu magang dulu aku memiliki penyakit yang sama, rupanya tidak, aku hanya kelelahan. Hidup yang singkat hanya firasat ku saja.. ya hanya sebuah firasat.
Sebaiknya apa yang akan aku lakukan nanti.
Aku masih tidak tau cita-cita ku atau mimpiku. Kemana arah aku akan pergi, aku tidak tau.
Aku menulis biodata untuk jurusan yang ku pilih. Aku memilih jurusan IPA karena ku pikir akan bertemu teman baru yang ramah seperti di kelas ini, X-1(sepuluh satu). Masalahnya adalah cita-citaku. Aku harus mengisinya dengan baik-baik, misalnya cita-cita yang normal seperti jadi dokter atau astronot kan membosankan😅.
Hmm.. sebenarnya aku ingin konsultasi sih dengan seseorang mengingat kakakku tidak terlalu membantu dan ibuku tidak ada di rumah. Tidak ada motivasi dan dukungan, aku harus melakukannya sendiri. Kira-kira alasan apa ya agar bisa meyakinkan para guru. Lumayan lama aku berpikir akhirnya aku dapat alasan bagus yang dapat meyakinkan para guru. Harus menulis dengan perasaan gembira.
"ingin membuat robot"
Umm rasanya kurang menarik.. Sedikitku tambah hiasan.
"ingin membuat robot 😁"
Sebuah emot. Nah dengan begini lebih meyakinkan. Membuat robot pastilah berhubungan dengan pelajaran IPA sebab itu alasan membuat robot sangat tepat, beda dari yang lain dan lebih meyakinkan.
Setelah itu aku benar-benar masuk ke kelas jurusan IPA. Uahh rasanya berat sekali. Aku melihat namaku yang di urutan hampir terakhir. Mungkin sesuai nilai rata-rata rapot susuan dari daftar murid yang masuk jurusan ini. Sedikit menyakitkan fakta ini. Kelas IPA 3, hanya ada satu teman yang dari kelas ku dulu, dia si Helda, aku tidak terlalu akrab dengannya. Huah berat.. aku tak menyangka akan sangat berat seperti ini.
Sesungguhnya aku sangat menikmati berteman dengan teman baru di kelas IPA. Aku juga bertemu dengan doi baru. Tapi dalam lubuk hati terasa sangat sepi. Semester pertama ku lalui dengan pas-pasan. Motivasiku sudah terkuras habis untuk memperbaiki nilai pelajaran. Tak ada harapan.
Raga dan Rama menghampiriku. Berjejerlah kami memandang lapangan sekolah sambil membicarakan tentang kegiatan bulan puasa kemarin. Percakapan biasa seperti ini terlalu alami untukku. Seharusnya aku lebih bahagia, ceria dan bersinar akan tetapi setelah berpisah dengan mereka kelas lama sangat membuatku kesepian. Rasa pahitnya realita ini harus ku telan bulat-bulat, aku harus menerimanya. Langit mendung di pagi hari ini sesuai dengan suasana hatiku.
Sifat labilku yang satu ini juga sangat berdampak pada lingkungan sekitarnya. Kelemahannya terletak pada emosi terpuruknya. Bila Zheill sudah masuk dalam mode kesedihannya ia akan menghamburkan aura kesedihannya ke mana-mana. Itu karena inginnya ia untuk diperhatikan dan dimengerti. Terlalu egois.
Pernah sekali aku terpuruk dan merasa tak dianggap saat kelas berlangsung. Aku orang terakhir yang tidak dapat bagian kelompok. Menganggap hal itu sebagai pengucilan aku pun langsung sedih. Merepotkan😣 ya. Andai saja aku lebih pintar maka tugas kelompok bisa ku selesaikan seorang diri.
Haruskah aku menukar sebuah kecerdasan dengan perilaku baik? itu sangat adil untuk tokoh penyendiri.
Tak tahan melihatku terpuruk guru pun menawarkan ku masuk ke kelompok cowok. Aku pasrah menerimanya. Mungkin teman-teman akan menganggapku sebagai pembuat masalah. Tapi mereka menyambutku dengan baik tanpa mempedulikan apa yang ku alami. Aku tidak tau apakah mereka berbohong atau nanti akan menggosipkan ku tapi sudah tidak papa aku telah sembuh dari kesedihan ku. Kemudian aku menjadi diriku lagi. Dasar bikin repot orang saja 😣.
Setiap kali aku terpuruk dalam masalah selalu saja aku bersedih berlebihan. Kesendirian ditimpa oleh masalah itu sangatlah menyakitkan. Keras, goresan demi goresan di hati menjadikan kepribadian dingin yang tak mempedulikan sekitarnya. Tatapan yang kosong saat melewati banyak orang. Senyum yang awalnya tulus menjadi palsu. Sebetulnya untuk apa aku berbohong ceria? itu karena tak ada pilihan lain. Aku ingin cepat-cepat lulus.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"thousand miles" kata Amal lagu yang dibawakan oleh Aulia.
__ADS_1
Pembukaan acara kelulusan kelas tiga Aulia membawakan lagu itu mana mungkin aku lewatkan untuk menontonnya. Cih murid lain asyik ngobrol bikin kesal.
Rasanya ada yang aneh.. kenapa wajah aau bagitu sedih. Dulu juga saat latihan menyanyi di kelas mukanya juga murung. Seharusnya kita senang kan bisa tampil di panggung akan tetapi aau malah sedih. Makna lagunya juga terlalu deep. Aku jadi tidak enak mendengarnya.
Nada makin rendah tanda lagunya hampir selesai. Tangan kanan Aulia turun perlahan. Raut wajahnya makin membuatku bingung. Tak ada tepuk tangan dari penonton begitu pula dari ku dan Amal.
Apa yang aau harapkan ya?
Habis ini langsung bolos ah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bila terbawa suasana dingin setelah hujan begini dapat meningkatkan peluang ku untuk masuk ke mode Zheill. Menjadi tenang sekali. Aku harap dengan kemampuan tenang dari karakter Zheill ku ini dapat melawan balik rasa gugup ku.
Bulan kemarin ketika ujian praktek sim telah memberi ku inspirasi untuk membangkitkan kemampuan baru dari karakter ini. Saat latihan tanpa sadar aku mengosongkan pikiran ku menjadi tak bergeming dan sangat tenang, lalu aku tersadar karena kaget. Tadi itu mirip jurus Zetsu di serial anime Hunter x Hunter. Zetsu adalah teknik untuk menyembunyikan kerberadaan kita. Oh iya di anime Boku no Hero juga ada teknik semacam Zetsu yang dilakukan Toga-chan saat melawan Midoriya. Tapi apa itu mungkin untuk menghilangkan keberadaan. Hmm.. ambil untungnya aja dulu untuk melawan penyakit gugup ku.
Pertama kosongkan pandangan.
Kedua kosongkan pikiran.
Ketiga tak bernapas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku tau kok kelemahan ku. Rasa ke khawatiran yang akan terjadi bila berurusan dengan hal yang tak bisa ku atasi. Aku selalu ragu bila melakukan sesuatu. Di tambah seringnya aku berbuat salah. Oleh karena kelemahan itulah aku tidak bisa melanjutkan pendidikan ku setelah lulus SMA dulu.
Musuh terbesar ku adalah diriku sendiri.
Kelemahan terbesar ku adalah diriku sendiri.
Tak bisa mengontrol diri itu sangat mengkhawatirkan. Bila saja aku melanjutkan kuliah pasti aku tidak akan tahan dalam segala hal yang akan menimpa ku. Bahkan diriku sendiri saja sudah menjadi beban masih mau menambah beban lagi bisa-bisa aku stress dan bunuh diri. Tidak lucu sekali.
Aku diberi kebebasan dan kecukupan untuk apa kah semua itu?
Walaupun bebas melakukan apa yang ingin ku lakukan tapi tak pernah pikirkan ku dan tubuhku yg lainnya sama setuju melakukan dosa. Kadang memang aku bisa melakukan maksiat tapi ketika aku keluar dan melihat yang bisa menimbulkan dosa reflek tubuhku menghindarinya. Itu aneh.
Aku pun memperbaiki diri dan mengenal lebih dalam siapakah aku sebenarnya. Kemudian agama ku perbaiki juga.
Alangkah ringannya hati ku sekarang yang "lumayan" hasilnya dalam perbaikan diri. Tapi sangat disayangkan telah memakan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Ini masih belum berakhir sampai aku menyempurnakan 3 karakter ku lalu menggabungkannya.
Bila saat itu telah datang aku... Entahlah.. tidak ada yang tau.
Apa yang aku harapkan bila telah menyempurnakan karakter ku?
Benar juga ya. Bahkan cita-cita saja aku tidak memilikinya apalagi harapan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"fidz kamu tau gak tempat ini" bertanya ibunya kaka Linda
"a-haha ulun(aku) tidak tau nama tempat-tempat soalnya jarang keluar rumah"
Aku lebih suka diam di rumah dari pada keluar rumah gak ada tujuan. Makanya nama tempat atau kota sulit diingat. Dulu juga pas mau menuju rumah teman sering nyasar.
"wah bagus tuh jarang keluar rumah" memuji dengan nada santai
Uah kedengaran tulus dari lubuk hati. Dapat dari pengalaman kah jawabannya.
"eh- eh gak bagus perasaan, ulun jadi sulit menghafal nama tempat atau jalan jadinya"
Umm Ibunya kaka Linda memuji bagian aku yang tidak suka bergaul. Supaya tidak terjerumus dengan pergaulan nakal. Sesungguhnya ungkapannya terdengar seperti bersyukur bukan memuji.
"kalau kerja fidz? sebetulnya mau dimana?" pertanyaan lagi
"emm pengennya jadi tukang sapu gitu atau jadi tukang sampah" itulah kesimpulan jawaban apa yang aku harapkan
"ehh! kenapa?! oh supaya bisa di angkat jadi PNS ya?"
"hehhh! masa bisa ya?!" aku sedikit kaget
"ehehh gak tau ulun kalau tukang sapu bisa naik jabatan. Tapi ulunnya mau jadi tukang sapu aja"
Reaksi Kaka Linda dan Kaka Yudhi juga ikutan kaget. Apa yang sedang dipikirkan anak ini ya? mungkin begitu. Jawaban sederhananya berdasarkan pengalaman juga. Aku dulu sering berbuat dosa atau mungkin sekarang pun masih melakukannya tanpa disadari. Jadi ku pikir dengan pekerjaan membersihkan sampah-sampah dapat mengurangi tumpukan dosa ku. Bila telah selesai membersihkan sampah aku akan mengisi waktu luang tersebut dengan aktifitas yang berguna. Tak ada yang komplain bila aku teliti. Tanpa ada resiko. Pekerjaan sederhana saja untuk orang yang hidup sederhana. Bila ada lebihan rezeki bisa ku tabung untuk membuka toko.
Sayangnya masih rencana.
Tenang aja readers!!! aku pasti kerja kok 😅. Waktu luang ini aku mengisinya dengan perbaikan diri.
__ADS_1
*Zheill