
"Nih, kamu mau gak menghadiri undangan sebagai masyarakat di acara penyuluhan pemilu nanti?"
"Eh kenapa aku?"
"Sisa satu aja lagi undangannya nih, nanti bakal dapat bayaran kok"
Njirr ngotot banget. Aku gak peduli sama bayarannya, emangnya aku mudah dibeli dengan uang, dasar..
"Ngapain aja di sana?"
"Duduk aja kok mendengarkan penjelasan"
"Sampai jam?"
"Gak lama paling"
Hoohh malah dianya gak tahu.
Aku punya firasat gak enak sih tapi sepertinya ini acara yang bagus untuk dihadiri. Tujuanku ingin mencari pengalaman dan informasi.
Di undangannya tertulis hari Rabu nanti. Kurasa hari itu aku senggang, mungkin.
"Okelah, aku mau"
Aku ingin belajar siapa tahu dapat pengalaman berguna.
"Nah gitu dong, daripada nganggur di rumah"
Wahhh sok kenal yaa.
Aku sudah sering lihat nih orang karena tinggal sekampung tapi belum pernah terbesit untuk menerka kepribadiannya soalnya tampilan luarnya memang ramah. Tapi sekarang aku sudah tahu kepribadiannya dengan sekali cerna ucapannya.
Tukang kepo.
Aku tak bisa marah karena aku dalam kondisi baik, kalau enggak? Yaa kemungkinan besar aku tarik lagi kata-kataku untuk menerima tawarannya. Dasar..
Hari Rabunya.
Euhh.. badan ku gak enak ditambah suhunya dingin dan kurang tidur.
Batalkan? Kah?
Kayaknya jangan deh. Kalau gak hadir sama aja kayak ingkar janji. Paksa sedikit mungkin gak papa.
Aku telah sampai di tujuan. Ku lihat ada seseorang menunggu dekat parkiraan. Wajahnya agak familiar. Aku ingin bertanya dengannya apakah ia juga mendapatkan undangan. Aku sedikit khawatir kalau saja aku salah tempat tuju hehehe..
"Ah jadi gitu.."
ok telah dipastikan ini tempatnya.
Lumayan lama menuggu sampai sekitar jam 8 an akhirnya kami disuruh masuk untuk mengisi absen.
Wah pakai absen dan dapat tas juga.
Di dalam tas ada kertas berisi susunan acara. Berusaha aku melihatnya dengan mata sayup. Ku lihat acara akan berlangsung sampai sore hari.
Aaah.. ku kira sampai setengah hari aja.
Duh gimana nih pekerjaan rumah belum selesai pula.
Ngisi absen yang kedua ku lihat ada nominal bayaran yang akan di dapat setelah acara selesai. Seharian dapat 75.000 Rp saja? ucapku dalam hati. Aku merasa tak puas. Tapi teringat bagaimana jika nasi bungkus 10 ribu untuk 3 kali makan sehari sisanya 45 rb bisa untuk ditabung, masih banyak untung ini mah. Apalagi kalo cuman makan mie hah!
Emm masalah sebenarnya bukan pada bayarannya tapi apakah aku bisa bertahan sampai acara selesai?
Gak yakin
Masuk lagi aku memilih tempat duduk di tengah barisan.
__ADS_1
Di sebelah kanan ada laki-laki seumuran kakak ku mungkin yang masih lajang. Aku tahu dia tinggal di RT sebelah namun tak tahu namanya dan aku tak akrab.
Di samping kiri sama laki-laki agak lebih tua dari yang disamping kanan tadi. Identitas sama sekali tak ku tahui.
Ah pokoknya gua di kelilingi laki-laki yang lebih tua dariku lah. Om ya? Atau paman? Entahlah
Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya aku langsung siap-siap mau menggambar. Tapi sebelum itu.. orang-orang yang duduk di kursi atas sana sedikit membuatku terganggu. Sama kayak orang-orang yang duduk di kursi DPR. Apa tampang orang-orang politik memang seperti itu ya??
Sedikit ku menelaah karakter mereka untuk mencari informasi terkait kepribadian. Cara mereka menelepon, berinteraksi dengan sesama, tatapan mereka, emm.. ahh aku mengantuk dan juga ruangannya ber-ac, harinya udah dingin tambah udara ac pula. Pengen pulang.. uhh..
"Wah eyy lihat gambarnya keren" seseorang dari belakang menanggapi gambaran ku.
Aku tetap menggambar. Pujian kek gini udah biasa ku dapat.
"Lu lagi nge-gambar apa bro?"
"Ah ini robot" aku pengen bilang lagi gambar Genos sih tapi mereka gak mungkin tau apa yang ku bahas.
"Kenapa kepalanya belum di gambar?"
"Uhh aku gak gak bisa gambar wajah :>"
Benar! Gambar wajah itu susah. Dibanding dengan menggambar full detail badan robot nge-gambar wajah sangat sulit.
Ada satu hal yang menggangguku dari tadi. Tentang orang yang disamping kanan ku sedari tadi gak bisa diam sama sekali. Kadang menulis gak jelas. Kadang kakinya gerak-gerak, bersila dan turun lagi. Kadang ngibas poni. Sok angguk mengerti. Beruntun hampir tak ada jeda. Kami yang berada di dekatnya juga merasa kejanggalan terkecuali orang yang telah kenal dengannya.
Aku membaca begitu banyak niatan dari dalam dirinya. Ingin dilihat dan merasa lebih. Baru kali ini aku ketemu orang yang sepertinya. Kenapa bisa begitu?
Hyper aktif? Kurasa bukan.
Ah!
Mungkinkah ilmu kejiwaannya!!!
Aku teringat dengan ucapan Guru Danau tentang sholat, kita harus diam tak boleh gerak di luar gerakkan sholat. Supaya tubuh bisa seirama dengan jiwa pastinya harus mengenal kedua-keduanya. Cara mendapatkannya? Aku tak tahu karena aku hanya mengikuti apa yang mestinya aku lakukan. Tiap orang punya cara tersendiri untuk menyelesaikannya atau mendapatkannya. Sadar maupun tak sadar. Jati diri juga salah satu cara untuk mengenal diri. Ya iyalah..
Sekitar jam 10an tiba-tiba saja listriknya padam. Kok bisa?
Jeda beberapa menit. Rupanya di dekat gedung Serabakawa terjadi konslet dan terbakar. Rumah? Aku tak tahu, sedikit ku dengar saja apa inti permasalahannya. Kami keluar gedung untuk istirahat.
Uhh.. sinar matahari menyilaukan..
Dalam kesempatan seperti ini sebagian ada yang menggunakannya untuk kabur. Gak bisa dipaksa tiap orang punya kegiatannya masing-masing. Bukan hanya aku yang tak mendunga kalau acaranya sampai sore tapi semuanya yang diundang. Hmm..
Listriknya kembali menyala.
Acara dimulai lagi.
Orang-orangnya hilang hampir sebagian termasuk kaum di mesjid kami. Aku ingin sih pulang tapi aku ingin berjuang sedikit. Aku tahu kelemahanku yang mudah menyerah makanya aku harus berjuang owawawa. Nyeh! Menggambar saja gak bikin mata melek. Ngapain coba biar gak ngantuk. Gak ada ide. Lagian dari tadi seolah-olah aku tak menghargai acara ini. Mau bagaimana lagi soalnya aku capek plus ngantuk. Akhir-akhir ini banyak kerjaan.
Huaahh..
Jam 12 lewat.
Anjirr udah adzan eyy..
Masih ada aja yang mau bertanya bapak-bapak pula.
Beberapa tokoh masyarakat/yang diundang bersorak menghinanya karena mungkin aneh diumur segitu masih aktif. Sama kek di sekolah ada anak yang rajin dan enggak.
Woi! Udah adzan!
Aku melihat kesamping kiri di barisan pojok kan ada guru Ilmi tapi ku lihat sudah tak ada. Benar! Kabur aja kan sudah waktunya sholat. Ta-tapi kalau sekarang aku kabur sama aja gak ngehormati. Erggghhh..
Haruskah nunggu seseorang.
Ada!
__ADS_1
Aku langsung mengikutinya. Setidaknya dia yang mulai duluan. Di dekat pintu keluar seseorang bertanya padaku ingin sholat kah?
"Ah iya" sedikit pelan.
"Tuh tempat kalau mau sholat" menunjukkan sebuah ruangan kecil.
Kacanya tembus bisa dilihat dari luar. Payah, siapa yang mendesain tempat sholatnya?
Ogah mau sholat di situ. Mending aku lari menuju mesjid.
Lari jogging.
Dan sampai. Syukurlah masih sempat sholat berjamaah.
Singkat cerita aku balik lagi ke gedung.
Aku melihat semua orang dapat nasi kotak. Buatku? Apakah juga dapat?
Aku mencari ke tempat duduk. Tidak ada. Mungkin kira mereka aku sudah kabur. Duhh gimana ya aku juga lapar nih.
"Coba tanya ke pengurusnya bro?"
"Dimana?" Sebenarnya aku tahu cuman mencari kesempatan kalau dia mau membantuku.
"Di depan tuh"
kurasa dia gak bakal mau.
Bakal repot nih.. aku tak terlalu suka.
"Anu masih ada gak lagi nasi kotaknya" uhh rasanya gak sopan sekali bertanya begitu.
"Eum.. coba kamu tanyaiin sama orang yang di dalam sana" penglihatannya sedikit sulit.
Di sana? Di dalam ruangan yang orang-orang lagi pada makan dan bersenda gurau. Aku seperti pengganggu saja. Ogah ah..
Hendak memasuki ke ruangan seorang wanita mengkritik ku.
Tak terlalu jelas apa yang diucapkannya karena aku menerima niatan merendahkan.
Aku menghiraukannya sambil terus melangkah ke tempat duduk. Malah dia semakin bertingkah dengan orang yang ku tanyai tadi. Alasan kenapa semenjak aku kenal dunia luar aku membenci orang yang punya harta lebih.
Sombong sekali!
Gaya hidup mewah dan gerak tingkah yang membedakan kasta. Idih! Aku gak mau menjadi seperti mereka.
Siapa yang salah?
Hedehh.. apa kerja nanti bakalan terus-terusan menghadapi hal yang kek begini. Aku down. Rasa lelah makin berasa dan emosi naik gara-gara orang tadi. Coba seandainya petugas memberi nasi kotaknya nungguin dekat pintu kan lebih enak. Terserahlah aku sakit kepala mendingan pulang aja.
Setelah memutuskan pilihan ku. Aku sadari kalau aku memang tak telalu suka dekat dengan orang lain apalagi dengan orang yang merepotkan..
Dan alasan kenapa aku mudah menyerah..
Di halaman mesjid aku bertemu orang yang mengundangku.
"Eyy kamu gak marahkan sama aku" katanya
Aku? Yang lain juga?
"Iya aku marah" sedikit kesal sih
"Nah kalau jawaban begitu berarti enggak"
Hah? Serius? Kalau gitu aku marah jadinya karena sok tau.
Ahh...
__ADS_1