
Dua minggu sudah ku lewati dibulan puasa tapi tetap saja kesulitan mengatur waktu. Mengingat apa yang sering orang bilang disetiap keadaan sulit ialah "jalani aja dan nikmati" begitulah, terus melangkah maju. Perhatikan baik-baik dan pilihlah pilihan dengan bijak.
...
Ketika aku sedang membersihkan gelas-gelas minuman kemasan Nini anum berbicara padaku tentang ibuku. Awalnya bertanya padaku apakah ibuku akan pulang dibulan puasa ini. Sepertinya suasana hati Nini anum lagi ceria jadi aku balas saja dengan santai kalau ibuku rasanya mungkin tak bisa pulang dibulan ini karna sibuk.
Nini anum tetangga terbaikku, ia selalu memberi makan kucingku bila kami tak ada lauk ikan. Aku sudah pastikan ia orang baik yang tak mungkin menjerumuskan atau membicarakan buruk tentang keluargaku makanya aku lebih terbuka. Walaupun aku sudah terbuka mengenai informasi pribadi tapi ia tetap sopan dan gak seenaknya bertanya mengenaiku.
Pasti ada alasan lain kenapa tiba-tiba bertanya padaku tentang ibuku.
Membalas jawabanku, Nini anum bilang kalau tetangga-tetangga kita ingin sekali kehadiran ibuku dan Pak Iin kembali kemudian seperti tahun yang lalu orang tuaku bagi-bagi uang. Tambahnya lumayan kata mereka buat nambah modal berdagang. Nini anum pun sedikit tertawa. Yaa suasana hati lagi bagus.
Mengingat dari pengalaman, aku juga pernah melakukannya, parahnya terkadang aku menyinggung hati.
Dengan cermat karena sudah paham situasi Nini anum aku melakukan simulasi percakapan mereka dalam benakku.
Posisi Nini anum sebagai pendengar di antara mereka yang ahh bisa dibilang berbincang-bincang, mungkin.
Kemudian ada yang bertanya ke Nini anum mengenai ibuku. Nini anum agak berat menjawab karna mungkin mereka akan berbicara buruk. Jadi Nini anum menjawab "nahh aku tidak tahu"
Langkah selanjutnya dari dia yang bertanya tadi lalu ditambah alasan peluang Nini anum berani bertanya padaku mengenai ibuku adalah keadaan yang tak biasa yaitu mereka berbicara baik, tidak bersangka buruk.
"waahh mudah aja Ibunya Hafidz pulang dan bagi-bagi uang lagi, kan lumayan buat modal dagangan"
Begitu mungkin..
Hmm.. yaa ini hanya perkiraan saja.
Btw aku tahu siapa yang suka bertanya keberadaan ibuku, spesifiknya dia adalah pedagang.
Heh! mulai dari SMP pun sudah sering menanyaiku. Aku kesal dan tak mau lagi belanja di warungnya.
Grrr...
__ADS_1
Tapi tindakan pak Iin juga memang mengundang banyak perhatian.
Ahh.. aku maklumi saja.
Aku sedikit tertawa menanggapi Nini anum.
_
Aku punya firasat kalau keluargaku akan datang untuk buka bersama di rumah. Tubuhku masih sulit menerima mereka. Butuh waktu lama untuk bisa memaafkan.
Sedari kecil aku selalu pilih-pilih mencari teman. Aku lebih suka berteman dengan teman yang ramah. Banyak. Daripada pintar tapi nakal.
Sudah jadi darah daging tubuh ini akan selalu menghindari terhadap orang-orang yang yaa.. bisa dibilang kalau bergaul bakalan ketularan dengan sifat mereka. Apalagi aku yang jadi korban -_-
Aku menyelimuti tubuhku dengan aura penolakan agar aura mereka tak bisa menyentuhku. Jijik tau. hahaha..
Kemudian hari itu datang juga, mereka beneran datang.
Waktunya beralasan.
"Sholat" ucapku
Yaa~ setelah berbuka aku tak langsung makan-makan tapi mau sholat dulu. Sore tadi aku sudah beli minumanku sendiri, tak mau aku mencicipi makan dan minuman mereka. Hahaha..
Di tengah perjalanan aku teringat kalau niatku salah. Seharusnya berniat untuk beribadah bukan alasan untuk kabur.
Uahh..
Aku ulangi niatku.
Setelah sholat ba'da maghrib hari masih hujan, aku bersyukur banget bisa berdiam sedikit lama di sini.
Sebetulnya aku tahu, yang aku lakukan ini salah. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak sekuat orang-orang hebat yang mampu menerima rasa sakit demi menjaga hubungan.
__ADS_1
Hanya tekad tertentu saja yang mampu membuat mereka bertahan. Tekad itu masih belum bisa aku gapai. Terlalu tinggi..
Hujan sedikit mereda. Sebaiknya aku pulang dan menikmati minumanku.
Sesampainya di rumah. Aku menikmati minumanku saja. Tak mau makan bareng mereka.
Aku sedikit terkejut dengan kakak Yudhi yang berbeda dari biasanya, seolah-olah merendahkanku.
Kok bisa ya?
Apa yang telah terjadi?
Hahh~
Ku kira Kakak berbeda, rupanya sama saja seperti mereka.
Tak ada alasan untuk terus berhubungan, kalau aku teruskan, hanya akan ada konflik dan perasaan tak suka, saling hina.
Aku akan menjauh.
Kemana?
Oh jelas, aku ingin ke tempat ibadah.
Di sana lebih adem.
Uang untuk imam sewaan sudah aku bawa.
Masalahku dengan mereka sangat susah terselesaikan, butuh waktu lama sampai benar-benar hancur sifat buruk mereka. Sebelum itu tiba tubuhku akan sulit menerima kehadiran mereka.
Berpura-pura akrab padahal sebenarnya menusuk. Orang-orang seperti mereka ingin menundukkan ku?
Bertapa naifnya..
__ADS_1
...
Kekeliruan terbesar ketika kita melupakan hal yang penting untuk dijaga...