
Aku tak terlalu mengerti silsilah keluarga dan sebutannya apa. Apalagi pakai bahasa asli daerah tambahnya aku gak ngerti. Akunya juga sering mengabaikan orang-orang, gampang lupa, butuh puluhan kali pertemuan agar aku bisa ingat orang tersebut. Sifat dasarku bila hendak menjalin hubungan butuh proses pengamatan dan pengenalan yang lama. Menentukan apakah dia akan baik buatku atau tidak. Kalau sudah fix sifatnya jelek perlahan-lahan akan ku jauhi. Tua atau muda tak kenal ampun. Kalau anggota keluarga? sama saja, Ushu ku saja aku campakkan, bahkan keluarga lain sampai ikut menyerang balik ke aku. Kenapa sampai nekat berbuat seperti itu? Aku tidak berbuat nekat.
Keluargaku meninggal dunia, neneknya Irfan. Minggu sebelumnya aku dan nenekku sudah menjenguknya saat beliau sakit. Melihat kondisinya kurus dan tua semua orang pun tau kalau umurnya tidak akan lama lagi. Anehnya aku tak merasakan apa-apa. Perasaanku tenang dan dalam. Ini bukan kemampuan Zheill tapi kemampuan Beater. Dulu di episode Hikmah aku mencoba mengendalikan emosiku saat melihat teman magangku sakit parah. Perasaan sedih ingin aku luapkan namun saat alm temanku bertanya
"kenapa wajahmu seperti itu fidz?"
Dengan mudahnya aku memaknai pertanyaan itu kalau aku tidak boleh membuat ekspresi sedih di hadapannya karena saat ini aku harus membuatnya nyaman dengan kehadiranku. Terpaksa di dalam lubuk hati perasaan sedih itu aku redupkan dengan emosi lain. Menjadi tak bergeming. Perasaan yang mati.
Aku tidak tau. Seandainya aku sakit dan teman-temanku atau tetangga datang mengunjungi, ekspresi apa yang aku harapkan dari mereka? kasihan? oh iya ketika aku sakit dulu keluarga malah curiga denganku makanya permasalahan ini sangat sensitif buatku.
Harapanku dan harapan orang lain terhadapku..
Tindakanku dan tindakan orang lain terhadapku..
Seolah-olah aku sedang melihat jurang luas membelah di antara aku dan orang lain. Perbedaan mutlak pandangan dan pengalaman dalam mengolah informasi.
Siapa yang lebih dipentingkan?
Tentu saja orang yang sedang ku tangani. Jadi aku berusaha mewujudkan apa yang ia harapkan dengan caraku? dengan perasaan yang mati? untuk mengontrol emosi? begitukan seharusnya. Untungnya saat emosiku sedang mati pengambilan tindakanku akan lebih efisien begitu pula radar pertahanan tidak akan terganggu. Cara khas dari kepribadian seorang Beater yaitu..
menyakiti dirinya sendiri.
Aku ikut membantu proses pemakaman kecuali urusan gali kubur. Pertama kalinya aku ikut mengangkat mayat. Bersama Irfan dan Saleh. Entah kenapa malah kami yang harus mengurus jenazah bukannya aku keberatan hanya saja tetangga yang lain patut dipertanyakan keberadaannya. Apakah karena takut? dan masalah lainnya adalah ibu yang bisa mengurus jenazah entah siapa namanya hanya seorang saja. Gimana kalau di masa depan nanti gak ada yang bisa ngurus jenazah? ahh aku harus belajar juga.
Setelah dimandikan. Dikafani. Sisanya tinggal memakamkan sehabis Dzuhur nanti. Sekitar 30 menitan lagi. Aku meminta pada nenekku agar pulangnya nanti saja. Nenekku mengiyakan permintaanku. Aku ke halaman rumah duduk menyantap kue. Gak kuat melihat kue nganggur. Nyam nyam.
Singkat cerita setelah sholat fardhu kifayah aku terlambat sampai ke pemakaman sebab aku ke mesjid cuman jalan kaki. Sesampainya aku datang, melihat sudah banyak orang berkumpul mengelilingi, aku mempercepat langkahku. Bergabung dan ikut menyaksikan proses pemakaman. Lama berdiri dan merasa ada yang janggal. Aku mencoba menyelidiki dengan mendekat ke makam. Rupanya kotak jenazah tidak muat dengan kuburannya. Kakekku dulu juga dibuat di dalam kotak kayu besar soalnya makamnya berair. Pengurus gali kubur berusaha melebarkan liang. Tapi kenapa cuman bagian atasnya doang hasilnya tetap sama.
__ADS_1
*bisik-bisik dua orang di dekatku
Salah seorangnya bilang kalau ini azab kubur. Kuburan menyempit gitulah katanya, padahal dilihat dari tampilannya tergolong orang alim, jenggotan juga tapi kenapa langsung menarik kesimpulan bahwa yang dilihat ini merupakan azab kubur. Pak pikiranmu terlalu negatif. Makanya aku benci dengan kampung sini. Dulu ibuku juga dituduh oleh salah satu penghuni kampung di sini. Aura samar-samar yang kurasakan dari tiap orang sama. Lalu aku harus berpura-pura berbaikan dengan orang sini begitukah? Siapa yang ingat denganku? anaknya dari ibuku? mungkin aku bisa langsung kenal orang yang membenci ibuku dengan melihat reaksinya.
Ahh kesampingkan itu. Sebaiknya aku meluruskan pikiranku terhadap masalah yang ada dihadapan ini agar tidak salah mengerti. Agama mengajarkan kita agar tidak berpikir negatif.
Menurut pengamatanku ini kesalahan komunikasi dan kurangnya pengalaman si tukang gali kubur. Pas pertama datang aku melihat panjang ukuran makam tidak terlalu lebar dibandingkan dengan sisinya. Mungkin si tukang gali kubur mengira kepala dan ujung kaki tidak perlu memakan banyak ruang, maksudnya beberapa senti saja ruang kosong antara dinding dan tiap ujung jenazah. Sehingga panjang makam tak sesuai dengan penambahan ruang kotak jenazah. Sedikit saja lagi panjang liang kuburnya digali. Tapi malah cuman atasnya doang di bagian bawahnya masih belum. Yang lebih mengejutkanku kotak jenazah dipaksa masuk dengan berat badan beberapa orang yang menaikinya. Tetap gak bisa, malah memperparah, kotaknya sangkut di tengah ke dalaman makam. Kalau gini bakalan sangat sulit menaikannya lagi. Dan lebih parahnya tukang gali pasrah sudah. Ya ampun aku tidak punya informasi apakah boleh jenazah di makamkan seperti itu. Kan gunannya jenazah di makamkan dengan ke dalaman sekian untuk menutupi bau pembusukan pada jenazah. Jika tidak dalam bau busuk bakalan tercium. Sudah di injak-injak pula tadi. Uhh pusing ah.
Pemakaman sudah berakhir. Aku sangat kelelahan. Sejenak aku beristirahat di kendaraanku, btw tadi neneknya Irfan di makamkan dekat rumah Irfan kok makanya ada kendaraanku di sini.
"uy" seseorang memanggilku dari belakang
Aku menengok dan bertanya dalam hati siapa dia?
"gini aja kah kerjaanmu pas nganggur?" maksud dia suka ngelamun.
"cari kerjaan sana!" agak tinggi
Nah datang lagi masalah.
"tau gak BLK?"
"gak tau" tahan emosi
"di jalan Kupang, Pembataan tau gak?"
"gak" berusaha mengabaikan
__ADS_1
Sampai akhirnya tu orang pergi meninggalkan ku.
Siapa sih? bikin emosi aja pas lagi lelah gini pula. Emangnya elu tau apa yang sedang gua lakukan. Terlihat aku memang nganggur tidak mencari uang tapi aku- ah pusing ah. Aku teriak dalam hati. Kalau gua sudah dapat kerjaan pasti bakalan jadi lebih baik dari elu. Terus apa yang elu harapkan dari gua setelah aku dapat pekerjaan. Hedehh sabar..
Raut wajah seperti itu dan reaksinya memaksakan kehendak orang lain sesuai dengan caranya.. sekali lihat, aku langsung tau apa yang diinginkan hatinya. Kenapa begitu jelas terlihat? berkali-kali sudah aku melihat orang yang seperti dia, sangat banyak. Keluarga, saudara, tetangga, teman, orang-orang di jalanan.
Reaksi yang berlebihan, caranya memandang orang lain, hati yang gundah. Semua kekurangan itu mengatakan kalau dia ingin diselamatkan..
Kasihan sekali..
Ketidaktahuan tentang jati diri sendiri, kelebihan, kelemahan dan harapan membuatnya terlalu terikat pada lingkaran insting dan hatinya berteriak adalah aksi protes terhadap dirinya. Akibatnya setiap apa yang ia lakukan tanpa disadari menginginkan sesuatu atau hal yang ia pikir bisa membuatnya tenang. Dengan cara?
Mencari kesenangan sana sini..
Men-judge orang..
Mencari kekasih..
Meluapkan perasaan secara berlebihan..
Membicarakan orang lain..
Semua yang ia lakukan hanya berputar-putar mengulang kejadian yang sama. Sampai akhirnya masalah yang besar datang menampar keras pipinya. Cobaan penentu apakah dia memilih menjadi baik ataukah menjadi semakin terpuruk. Mirip apa yang telah ku alami selama ini.. dan itulah jawaban mengapa aku bisa langsung paham permasalahan apa yang sedang dihadapinya. Tidak akan semudah itu untuk menyelesaikannya. Walaupun dengan kemampuan kharisma Hapis akan tetap sama. Kharismanya hanya sebagai bantuan kecil untuk menggetarkan hati sisanya tergantung diri sendiri. Intropeksi diri lah sampai ke akarnya.
Btw gua males nolongin dia reaksinya aja gitu :v
Hapis dan Zheill: Lah itu kan emang kekurangannya!
__ADS_1