
Seandainya kalian punya seseorang yang paling kalian benci di dunia ini, apa yang akan kalian lakukan?
"Menjauh darinya sejauh-jauhnya"
Seandainya cara tersebut tidak berhasil apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?
"aku akan mencoba menerimanya dengan melihat kebaikannya"
Sayangnya dia jarang memiliki kebaikan malahan sering membuat mu tambah sakit, apa yang harus dilakukan?
Begitulah pandangan dan keadaan ku terhadap adikku. Sudah sedari kecil aku tidak menyukainya. Berusaha menerimanya pun percuma. Bagaimana bisa aku menerimanya sementara di dalam tubuhnya mengalir darah si ***. Sifat dan sikapnya selalu membuat ku marah dan sakit hati. Dia kelemahan terbesar ku.
Pertama kali aku ingat kalau ada yang salah dengan keluarga ku saat Ushu ku bilang adikku bukanlah dari ayah yang sama dengan ku dan kaka ku. Aku kaget, mencoba memahami apa yang telah terjadi waktu dulu. Benar juga.. mana mungkin ibuku bisa hamil kalau ayahku lebih dulu meninggal.
Ingatan ku tidak terlalu banyak saat di masa lalu. Dan ku pikir kejadian itu memang kesalahan ibuku sendiri.
Satu-satunya orang tua ku hanya ibuku makanya aku harus mempercayainya, apapun pilihannya. Entah dia mau menikah lagi atau apapun itu aku akan siap.
Iya aku tahu itu.
"Ki malam ini mungkin orang bugis itu mau datang lagi ke rumah ku, bantuin aku menjebaknya!, kemarin tuh orang mulai berbuat gak senonoh" aku meminta pertolongan dengan adik sepupu ku.
"ayok! kita hajar dia!" balas adik sepupu ku dengan cepat.
Dengan rencana jahat yang telah aku pikirkan aku memasang plester terbalik di ganggang pintu luar rumah lalu meludahinya.
"nah begini oke, mampus tu orang kalau balik lagi"
Sayangnya orang itu gak kembali lagi mungkin malu atas apa yang telah dilakukannya. Jebakannya gagal.
Apapun keputusan ibuku tidak akan membuat pikiran ku tentangnya goyah.
Sampai datang sms dari orang yang tak dikenal mencela ibuku sebagai pelakor.
Aku.. tak tau harus marah kepada siapa..
Siapa yang patut disalahkan?
Cobaan tahap baru datang lagi.
__ADS_1
Bertambah satu orang lagi, orang yang paling aku benci di dunia ini. Ayah tiri menceraikan ibuku dan lebih memilih bersama pelakor tersebut.
Ibuku seharian tidak makan. Hanya bisa menangis sakit hati. Padahal aku pikir dia ayah tiri yang baik, rupanya enggak, sama saja dengan si *** yang menelantarkan anaknya sendiri. Aku marah sekali. Hidup ku runyam.
Tiap kali pembagian rapot sekolah aku hanya bisa teringat dengan ibuku yang kian jauh dari keluarga, lebih memilih bersama ayah tiri baru lagi. Melihat teman lain bahagia karena ada orang tuanya menemaninya.
Aku.. hanya bisa memandang dari jauh merasakan iri hati.
Siapa yang patut disalahkan?
Aku mulai bosan sekolah.
Dan lagi.. tiap kali ibuku hendak pergi ke tempat suami barunya adikku pasti merengek nangis tanpa mempedulikan sekitarnya. Bikin kesal. Tapi aku tetap percaya pada ibuku kalau ini demi kami.
Tak peduli berapa banyak uang yang diberikan oleh ibuku padaku setelah kawin dengan pak Iin, rasanya tidak membuatku senang, aku tak peduli dengan uang. Aku hanya ingin ibuku sering-sering pulang ke rumah agar aku masih bisa sayang dengannya.
Sedikit demi sedikit mulai terlihat inti dari masalah yang membuat keluarga ku berantakan. Ketika ibuku pergi ke orang pintar untuk menghilangkan santet penunduk dari mantan ayah tiri ***, si orang pintar menemukan santet lain dalam tubuh ibuku.
"Santet lain?.."tanya ku dalam hati
Santet dari orang tua adikku.
Seharusnya aku tahu hal itu.. mana mungkin ibuku sering sakit kepala karena kelelahan.. mana mungkin ibuku berbuat tindakan bodoh yang hanya mencelakakan diri sendiri..
Satu persatu kejadian saling berhubungan membentuk alur cerita yang bisa diterima akal.
Ibuku terkena santet dari ayah adikku hingga ibuku mau diajak bermaksiat. Sampai adikku lahir dia si *** malah kabur.
Ketika persalinan, ibuku sendirian saja tak ada keluarga yang mau datang menemani. Hingga ada satu tetangga yang mau membantu ibuku.
Kami anaknya mana bisa membantu dan waktu itu aku masih kecil bahkan ingatan sebelumnya tidak bisa ku ingat, siapa saja yang sudah menyakiti ibuku dengan mengacuhkannya. Syukurlah ibuku bisa melahirkannya dengan selamat. Setelah adikku lahir ibuku masih terbaring kelelahan, adikku sudah dibawa ke bidan oleh tetangga tadi. Dalam kondisi seperti itu ibuku masih sempat mengkhawatirkan kami.
"tidur nak sudah malam"
Terlalu singkat memori waktu kecilku. Tentang ayahku pun hanya satu memori.
Memori lain muncul lagi. Aku sadar dan tahu-tahu kami pindah rumah ke rumah nenekku. Aku berjalan kaki bersama ibuku. Kenapa kami harus pindah?
Aku mencoba memahami lagi. Kalau misalnya ibuku memang diusir dari kampung sana, aku tak akan memaafkan mereka semuanya yang di sana. Paman ku, Ushu ku dan keluarga lainnya. Itu berlaku jika tebakan ku benar. Mau sebanyak apa uang yang diberikan keluarga ku kalau menimbang dengan tentang semua usaha ibuku gak akan pernah sebanding.
__ADS_1
Kata ibuku aku yang paling mirip dengan ayahku dibandingkan kaka ku, tinggi badanku juga hampir sama, rasanya senang sekali.
Siapa yang bisa keluar dari sebuah perangkap santet dengan cara normal? kecuali memang Allah swt. yang menghendakinya.
Aku tak percaya santet tersebut masih ada dalam tubuh ibuku. Itu yang membuat ibuku sering sakit kepala hebat. Dan aku sangat menyesal jarang mau memijatkan kepalanya saat reaksi santet itu muncul.
Tapi..
sepenuhnya itu bukan salah ku.. tapi dia, si ***!!!
Bagaimana kalau aku Beater ingin bertemu dengan mu lagi??
Aku tak peduli dengan iblis jenis apa yang sedang melindungi mu, aku juga bisa menggila dengan kemampuan ku sendiri untuk mengakhiri hidupmu??
Tak peduli siapa yang akan menghalangi.. rasa sakit kami akan aku bayar bila bertemu dengan mu..
Woy!
Aku sedang bicara padamu..
Pasti salah satu kenalan kalian bisa membaca pikiran dari orang yang akan mengancam keberadaan kalian kan?
Kau pikir aku akan membiarkan mu keluyuran begitu saja atas apa yang kau buat?
Berani sekali muncul lagi dalam keluarga kami.. dulu aku belum siap.. sekarang aku sudah siap. Merobek tubuh mu dan menarik tulang belakang mu sampai keluar mungkin dapat mengurangi gejolak amarah ini..
Hey aku bilang aku sedang bicara dengan mu.. Kau dengar deklarasi perang ini tidak?
Aku marah!!!
Melihat adikku sama dengan melihatnya. Tubuhnya, sifatnya, semuanya tentang dirinya aku membencinya..
Agama mengharuskan ku agar bisa memaafkan orang yang telah menyakiti ku.. namun..
Bagaiamana bisa? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan mereka? Jika aku memaafkan mereka itu artinya Beater akan menghilang selama-lamanya.
Ini menyakitkan untuk diterima apa yang telah mereka perbuat.
Aku tak bisa.. aku belum bisa..
__ADS_1