
Secuil kisah tentang perjuangan ku yang beberapa hari ini melawan masalah terbaru. Dimulai sejak aku kembali akrab dengan sahabat ku. Sebelum mengatakan "iya" dengan kehendak sahabat ku aku sudah berpikir ini akan lebih berat dari biasanya, maksud ku cobaan. Jadi aku menyisihkan sedikit cahaya kesadaran yang kuat di dalam benak ku bila aku ingin berbuat yang enggak-enggak cahaya itu akan menyadarkan ku seperti kita terbangun dari tidur. Kalau masalah sehari-hari aku tidak perlu menguatkan kesadaran ku, intinya kali ini berbeda dan feeling ku mengatakan kuat. Aku tidak merasa terbebani dengan kehadirannya justru dia memberi ku semangat dengan hanya kehadirannya. Luar biasa walaupun lewat pesan jauh aku bisa merasakan perasaannya.
Di bulan puasa ini musuh manusia adalah dirinya sendiri. Iblis sudah dirantai di neraka. Aku menyadari bahwa kali ini musuh ku memang diriku sendiri, sisi gelap ku. Nah ibarat mencari jawaban matematika dengan rumus yang telah diberi tahu. Masalah kali secermat apa yang bisa ku lakukan untuk melawannya. Aku merasa tertantang.
Aku kembali berhubungan dengan sahabat ku, aku bingung mau mengirim pesan apa ke dia. Mau curhat? enggak ah kan gua cowo,kalau begitu aku hanya menunggu pesannya saja dan membalasnya. Seperti yang kalian lihat aku ini kurang berpengalaman mencari topik pembicaraan makanya banyak yang salah sangka kalau aku ini cowo yang coool haha. Ah sial(tersipu) aku masih memikirkan rencana untuk jalan-jalan dengannya. Pesan dari group tahu bulat, si Yahya yang katanya akan pulang malam ini. Loh? aku kira sore tadi sudah pulang? eh rupanya dia pakai kendaraan sendiri pulang kampung, katanya Travelling. Bulan puasa ini tevelling bikin lelah saja, aku kesal sendiri. Ya teman-teman ku dari group tahu bulat akan pulkam sebelum hari raya ini, aku mengusulkan untuk buka bersama, melepas rindu teman sekampung yang di masa depan entah kapan akan bertemu lagi. Bulan melepas rindu ucap ku pelan tanpa sadar tertoreh senyum dibibir ku.
Yahya lebih dulu pulang kampung jadi esok aku mengajaknya jalan santai ke taman, sebetulnya setiap habis sholat subuh di bulan puasa adalah tradisi kami jalan santai. Tapi jumlah yang minat makin sedikit jadi ku khususkan cuman untuk group ku saja, aku tidak ingin dengan orang lain yang dari luar group, apalagi dengan anak kecil. Besoknya aku bersikap seperti biasa dengan Yahya layaknya ketemu kemarin, ini memang kemampuan ku. Kami jalan seperti biasa dan ngobrol tentang anime maupun game. Kaki ku jadi lebih enak di gerakkan karena sudah lama gak dipakai buat jalan jauh ataupun lari. Aku tidak sabar menunggu yang lainnya pulkam.
__ADS_1
Teman seperjuangan akhirat ku si Hakim juga teman waktu sekolah dasar ku. Selama masa santai ini aku mendalami ilmu agama dengannya dengan berguru ke Guru Danau dan guru Ilmi. Aku banyak mendapatkan ilmu yang bagus dan menyempurnakan sedikit demi sedikit agama ku. Belajar sambil santai itu kondisi paling ideal sekali buatku, enggak kayak di sekolah. Aku bisa lebih fokus memperbaiki diri. Tapi di bulan puasa ini pembelajaran dihentikan sementara, iya itu masalahnya aku tidak bisa mendengarkan ceramah dari guru lagi. Dalam game itu ada hit combo bonus serangan tanpa henti memberikan banyak poin, benar aku tidak dapat hit combo bonus dalam satu bulan ini. Aku tersesat. Terombang-ambing oleh diri sendiri. Apalagi banyaknya masalah baru berdatangan. Sulit tidur, di kacangi oleh seseorang, sifat Hakim yang sulit sekali dihubungi aku jadi kesal. Aku mengelus dadaku untuk sabar. Aku mencoba mengirim pesan untuk Nisa siapa tau dia dapat menenangkan ku. Oke tidak ada balasan, mungkin dia sibuk.
Yahya mau menemani ku ke Expo Center untuk membeli tas sling bag cowok. Sudah lama aku ingin membeli itu tapi sering kelupaan, ini kesempatan. Kami kesana sekitar 10 menitan. Sesampainya aku kaget karena banyaknya orang. Pakaian mewah, tidak memakai kerudung, rambut di semir, ada yang sedang pacaran dan banyak lagi. Tempat ini adalah tempat yang paling ingin ku hindari. Terlalu ramai. Ugh kepala ku jadi sakit.
Kami langsung saja ke toko yang Yahya maksud. Aku membeli harga yang termurah karena ruang dari tas sling ini cukup lebar untuk memasukkan sejadah, aku ambil ini. Setelah membeli tas aku mentraktir Yahya minuman dan kami duduk dekat parkiran.
Aku sadar, tadi hampir saja terkena perangkap pesona dengan sengaja tante tadi menunjukan skillnya. Aku beruntung bisa keluar dari pesonanya karena tak sengaja melirik bungkusan tadi, sebetulnya aku hampir saja mengangguk mengisyaratkan untuk menerima tawarannya saat beberapa detik terpana oleh tubuhnya. Tempat ini sungguh berbahaya. "uhh kepala ku pusing"
__ADS_1
Minggu ini layaknya komplikasi puncak masalah. Sebentar lagi bulan puasa berakhir. Aku tidak tau lagi harus dimana untuk menghancurkan semua masalah ini. Aku perlu istirahat dan menenangkan pikiran, terlalu ceria dan tawa sangat tidak bagus untuk jiwa ku maupun karakter ku. Sulit sekali. Masalah tidak memberiku jeda untuk bernapas. Serangan tanpa celah saat kondisi ku tidak bagus. Tubuhku bergerak dengan sendirinya, tubuhku tidak bisa menuruti yang diinginkan akal ku. Bagaimana bisa? padahal aku sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Aku melirik jam handphone ku, masih jam 02:31.
Aku bangkit, aku tidak boleh marah, bersedih ataupun menyalahkan diri sendiri. Aku pun sholat taubat dengan sungguh-sungguh minta maaf kepada Sang Penerima Taubat dengan kondisi lemah. Aku mencoba mencari apa kesalahan ku di kasus baru ini. Sesaat memikirkannya terlintas begitu saja saat pertama kali aku berhubungan dengan sahabat ku. Aku- rupanya aku salah menempatkan dia di dalam dinding pertahanan ku. Aku terbuai. Aku tau sahabat ku ini cewe seharusnya dia tidak harus berada di dalam dinding pertahanan ku. Kehadirannya di dalam dinding memancing para penjaga pertahanan ke dia. Sial! sejak awal aku telah terpedaya, akibatnya aku harus mengulangi kesalahan besarku.
"ughh"
Aku harus kembali menyusun semuanya, lelah sekali. Kali ini aku menempatkan sahabatku di luar pertahanan dan kembali membuat benteng. Aku tidak ingin kecolongan lagi, aku harus lebih kuat. Aku tidak boleh emosi, tetap tenang dan percaya permohonan taubat ku diterima oleh Yang Maha Kuasa. Tiap cobaan adalah anak tangga untuk mencapai tujuan akhir, walaupun berulang kali aku terjatuh aku tidak boleh menyerah.
__ADS_1
"jika kita ingin meminta ridha kepada-Nya, maka kita juga harus ridha apa yang telah Allah tentukan" begitulah Ajaran Ridha Rabi'ah Adawiyah yang teman ku share di FB yang bertepatan sekali dengan kesalahan yang telah ku perbuat, jelas sekali aku ditegur, aku menghela napas dan tetap tenang. Pandangan ku kembali lagi, aku ingin kuat tanpa celah dan cermat dengan serangan mematikan. Semoga aku bisa merubah semuanya dan berlari bersama-sama menuju tempat yang lebih cerah.