
Keteguhan
Akhirnya aku ikut juga.
Tidak ada jalan untuk kabur lagi.
-__- labil..
Aku, kakakku, istri kakakku, adikku, keluarga 2 orang dan 2 orang luar. Keluarga ku itu tuh yang dulu tinggal dekat rumah ayahku. Panggilan julak untuk adik nenekku dan kaka Adi anaknya.
Kaka Adi yang menyupir.
*Uhh
Sudah ku duga, aku belum siap ditanyai banyak pertanyaan tentang keadaanku sekarang.
*hoekkk
Belum 5 menit aku sudah mual. Syukurnya aku sudah beli antimo!
"haha hafidz mabuk kendaraan ya" julakku
"hhaha" kaka Adi tertawa kecil
"hafidz ini memang mirip ibunya yang mabuk kendaraan" kakakku menambah.
*Aku teguk obat antimonya
Uuh.. ini kali pertama aku minum obat antimo.
Serius? yaa kalau gak salah sih haha..
Setelah beberapa menit ada reaksi di perutku. Agak hangat. Mungkinkah? keracunan karna habis sholat tadi aku minum kopi?! uhhh..
Beberapa jam perjalanan Imel atau istri kakakku ingin buang air. Aku lebih suka manggil Imel daripada kaka soalnya umurnya masih muda dibawahku. Ya suka aja sih, sempat ditegur ibuku kalau harus panggilnya dengan sebutan kaka. Imel gak keberatan jadinya yaa aku panggil aja begitu.
Pas banget kami singgahnya di mesjid.
"tunggu sebentar aku juga mau turun" ucapku
"oh iya, hafidz pengen sholat sebentar" kakaku ingat apa yang aku ucapkan sebelum pergi tadi kalau aku mau sholat Dhuha sebentar.
Kaaa! asemm.. seharusnya tak perlu diperjelas soalnya sudah ada alasan lain buat turun dari mobil.
"sembahyang apa?" kata temen kakakku
-___-;
"sunnah Dhuha" kaka balas
Hatiku langsung berkecamuk karena dibisiki setan.
*cie cie overproud
*cie cie anak alim
grrr... kalau setan tu keliatan udah gua tabok dari dulu..
Luruskan niat. Luruskan niat. Luruskan.. dan abaikan..
Yang kulakukan hanyalah biasa saja, bukan hal yang hebat kok.
Sehabis sholat sunnah yang lain pada makan, uhh.. aku malah cepet-cepet tadi sholatnya.
Hampir tiap kampung sepanjang jalan menuju tujuan pasti ada relawan yang menyediakan makan, minum dan tempat istirahat buat rombongan haul.
Keren..
Mungkin banyak pahala mereka daripada kami. Alasannya tak perlu ku terangkan, kalian pasti bisa menghitungnya.
Waktu Dzuhur hampir sampai, kami malah terjebak macet.
Hatiku mulai gelisah. Sembahyang menghormati waktu saat berpergian aku belum pernah mencobanya. Sulit dengan keadaan seperti ini. Keadaan dekat dengan orang lain. Kalau sendirian mungkin aku akan melakukannya.
Jadinya keputusan terletak pada si supir dan itu kesalahan fatal yang telah aku buat.
Akupun mengoreksi diri.
Dimana kesalahan pilihan yang telah aku buat.
Sebelum pergi.. Ataukah aku yang lambat mengutarkan kehendak..
__ADS_1
Keputusan kak Adi pula tergantung ibunya. Julak gak bisa jalan jauh, faktor usia. Terpaksa mencari mushola atau mesjid yang dekat dengan jalan.
Terpaksa?..
Gawat.. aku mulai berpikir negatif.. segitunya menyepelekan sholat tepat waktu. Aku tak mau jika tekad juang ku lemah. Keutamaan kewajiban ku junjung tinggi walaupun itu akan menyakiti diri. Sampai habis pilihan baru aku pasrah.
Sial.. aku mulai emosi..
Dapat! akhirnya kami menemukan tempat yang tepat. Kak Adi sempat bimbang takut terjebak macet lagi kalau terlambat. Aku sudah turun sambil membawa baju kokoh. Bergegas aku menyeberang menuju mesjid.
Ketika aku menunggu untuk antri berwudhu kaka ku bilang kalau gak jadi sholat di sini. Duh kenapa lagi ini ucap ku dalam hati. Alasannya karena julak gak bisa jalan jauh.
Hah?
Terpaksa kalau gitu. Sudah sholat sunnah sebelum dhuzur ketinggalan, sholat wajibnya telat pula. Aku mulai termakan emosi. Beater aktif.
Karena keputusannya begitu aku langsung pergi belanja sebentar membeli minuman dingin terus nunggu di dekat mobil.
Duduk lama menunggu aku merasa penglihatanku memburam. Yaa soalnya diawal aku sudah gak enak badan.
Minuman ku habis namun yang lain tak kunjung datang.
Asemm.. katanya gak jadi, kok malah gak balik-balik. Aku mencari mereka di mesjid tidak ketemu. Masa mareka lagi makanan di rest area?
Cihh.. kalau gini mending aku sholat saja.
Setelah sholat aku duduk lagi menunggu dekat mobil dan akhirnya mereka kembali.
Kakakku memarahi ku kebingungan kemana aja dari tadi katanya. Mereka kesusahan mencariku.
"katanya tadi gak jadi? makanya aku nunggu lama di sini" ucapku marah
"makanya jangan berpisah, kami tadi makanan di rest area" balas kakakku
Dalam hatiku, bukannya tadi sudah makan. Apa perut jauh dilebih pentingkan daripada sholat. Marah aku marah. Adikku juga ikut-ikutan memanaskan ku.
"emangnya ini piknik? ini acara haul, bukan piknik"
Aku sempat ragu kenapa aku mengutarkan kalimat itu.
Apakah ini untukku atau mereka? namun sedikit ada perasaan kalau pernyataanku merujuk ke arah julakku.
Ahh aku kelelahan terlalu mudah emosi.
"nih makan kata kakakku" kakakku memberikan nasi bungkus.
Satu saja yang ku inginkan dalam perjalanan ini yaitu tetap menjunjung tinggi kewajiban, dengan begitu aku bisa menjadi Hapis yang penuh ceria. Hatiku akan sangat gelisah kalau aku terlambat sholat. Jika terlambat sholat maka sunnah-sunnah yang lainnya akan melonggar karena menyepelekan kewajiban.
Sekalipun akan berkorban banyak aku tetap mengharuskan diri untuk melaksanakan kewajiban.
Sampai di tujuan atau lebih tepatnya mesjid yang akan dipakai buat acara. Alasannya sama karena julakku gak kuat jalan jauh jadinya yaa begini aja terus.
Waktu Ashar akan tiba. Terdengar rekaman mengaji dari mesjid. Masih sama apa yang harus aku lakukan disituasi seperti ini. Kakakku membujukku agar tetap dalam kelompok.
Aku berontak. Emangnya mau ya? tanggung jawab jika di akhirat alasan ku telat sholat karena tetap dalam kelompok supaya gak kesasar.
Dadaku hangat. Tenaga dari Beater yang terkumpul oleh tekad yang tak terbendung, mengalahkan bayangan resiko yang akan aku hadapi.
Tersasar dan yang lain akan mencampakkan ku.
Sekalipun semua memusuhi ku aku tetap akan teguh dengan pendirian ku karena ini satu-satunya alasan mengapa aku ada.
"tunggui di pos situ nanti kalau aku sudah selesai"
walaupun aku sudah pasrah akan ditinggalkan.
Tetap maju dan lupakan dunia sejenak. Apa gunanya jika aku melepaskan keteguhan yang sudah aku latih selama ini untuk alasan seperti itu? yang ada aku akan rugi terus dengan mengulang kejadian yang sama.
Mungkin ini jawaban dari firasat ku kemarin malam.
Beban berkurang setelah sholat.
Huahh.. aku sudah lebih lega dan syukurlah tadi aku masih sempat sholat berjamaah, mengingat antrian di wc begitu banyak, banget. Kalau telat memutuskan pilihan sudah pasti ketinggalan.
Nahh sekarang tinggal santai menunggu maghrib.
Berkeliling mencari yang lain, aku bertemu kakakku di depan mesjid. Kami memutuskan untuk sholat di luar karna aku ingin lihat layar yang langsung disiarkan dari sana.
Maghrib tiba..
Aku baru menyadari kalau kami hampir dikelilingi perempuan. Kakakku mengeluh ingin sholat ke dalam mesjid. Dalam hati, aku ketawa. Gak tahan rupanya haha.
*psst coba lihat di samping mu itu cewek cantik.. 3:>
Oh.. oh!
__ADS_1
Gravitasi yang kuat! aku hampir memalingkan wajah.
-__-
Jika aku langsung berpaling penasaran melihat siapa seseorang yang dimaksud otomatis aku kalah sama nafsu karena tak berpikir 2 kali.
Ini ujian..
Cahaya pengingat aktif..
Aku berdiri ingin melaksanakan sholat. Cewek disamping ku juga berdiri.
*cie cie badan mu tinggi, sepertinya cocok dengannya yang setinggi bahu.. 3:>
-___-
asemm.. kamvret..
Fokus, fokus!! *hatiku berteriak
Masuk mode Zheill, hilangkan emosi, pandangan di sempitkan.
Sepanjang sholat maghrib aku terus berusaha mengabaikan sekitarku termasuk yang di sampaing ku. Aku juga tak menyangka bakal sesulit ini rasanya, sholat bercampur dengan lawan jenis.
Rasa penasaran muncul tentang mereka.
Aku yang sudah membiasakan diri belajar ditiap munculnya pengalaman baru menjadikan rasa penasaran ini sebagai jebakan dari bisikan setan. Repot juga namun aku masih bisa fokus.
Bagian terakhir sholat, "salam", sengaja aku melambatkan gerakan agar kami- eh bukan tapi untuk dia yang di sampingku tak menatapku pas salam.
Kedua, niatku harus benar-benar halus dan alami supaya penasarannya tidak muncul.
Bukanlah momen kisah cinta kayak di film. Aku tak mau dosa dan tak mau membuat orang berdosa. Aku harus teguh.
Walaupun begitu.. wanita tetap makhluk yang menarik. Jika aku melonggarkan pertahanan sedikit saja mungkin aku bakal terjebak lagi.
Dia berbicara dengan teman sebelahnya. Suaranya bisa kudengar dengan jelas.
Kebiasaan cewek selalu ingin diperhatikan lewat gerakan ataupun tingkah yang ia sendiri tak menyadarinya.
Untuk siapa?
Emm entah kenapa aku bisa menangkap niatan yang merujuk padaku.
T_T haha aku rindu dengan diriku yang dulu, yang sangat jago mengacuhkan keadaan sekitar.
Tapi lagi.. karena tak peduli dengan sekitar aku jadi leluasa beraksi dan membuat orang lain menyukai ku.
Serba salah ya.. haha
Habsyi dimulai..
Rupanya dia hafal syair habsyi. Suaranya yang bermaksud untuk didengar oleh yang lain ataukah memang tulus karena cinta, keduanya tetaplah membuatku terpukau. Mengesampingkan pikiran negatif. Dia bisa jadi contoh agar aku termotivasi menghafal.
Aku juga cinta dengan Rasulallah pasti bisa menghafalnya.
Pada bagian tasbih subhanallah sebelum asyraqal kami duet mengucapkannya. Ahh!!! cuman suara kami berdua yang keras seolah-olah kami ini couple!!! masa yang lain kagak ada yang hafal!!?..
*cie cie couple.. 3:>
runyam~
Apa aku yang salah langkah ya? but but.. ah ya sudahlah..
Hendak pulang. Sempat muncul niat mengenalnya. Sekali lagi aku anggap itu nafsu.
Aku berdiri. Kakakku mencari Imel kemudian tak sengaja aku menatap et- ke arah mesjid. Hampir aja!
Namun setelah berakhirnya acara aku melihatnya sekilas saja untukku sebagai bahan pembelajaran.
Eh!? dia juga melihatku. SEKILAS aja guys aku menangkap raut penasaran dari wajahnya.
Sudah kuduga..
Kami pun berangkat pulang..
Yang tadi, yang aku maksudkan sebagai bahan pembelajaran ialah melihat cermin diri dengannya apakah bakalan seperti itu sosok calon pasangan ku nanti?..
Yep selalu diawali dengan sebuah pertanyaan.
Jika dia, yang tadi disampingku merupakan gambaran calon pasangan ku itu artinya aku masih punya banyak kekurangan yang harus aku perbaiki.
Emang aku bisa nikah ya nanti? kerja aja belum..
Belum punya perkerjaan alasan bagus buat menyangkal tawaran seseorang.
__ADS_1
Hehe.. dasar monster..