Monster Labil

Monster Labil
Lewati Batas


__ADS_3

Aku suka sekali berolahraga bila kondisi lagi fit. Biasanya tiap sore aku berolahraga karena suhunya enak. Setelah lelah, beristirahat lalu menulis.


Aku berolahraga sekedar gerakan pemanasan karate saja, yang pernah diajarkan oleh guru saat aku bersekolah dulu. Yep, cuman itu saja tapi aku tingkatkan sampai sekarang. Beruntung kan guru punya murid seperti aku atau kita yang memakai ilmunya untuk kebaikan. Beginilah cara berterimakasih yang benar oleh kita untuk guru-guru kita dengan memakai ilmu yang diajarkan mereka.


Teringat dulu kenapa aku berhenti ikut karate padahal udah sabuk kuning. Alasan simpelnya hanya karena adik kelas cewek tahun baru yang ikut bergabung.


Apa?!! Aku punya hubungan dengan mereka ?!!


Tentu saja tidak ada hubungan atau semacamnya, hanya saja aku gak enak kalau kelihatan gerakan yang lucu oleh mereka. Bagaimana dengan Galuh? Yaa dia kan teman sekelas jadi gak papa. Intinya gak suka dilihat dan.. Aku gak suka memakai baju karate, kegedean sementara badanku kurus.


Alasan yang konyol kan?


Setelah aku berhenti  Raga juga ikutan berhenti. Alasan kami berdua hampir sama. 


Aku memang labil. Namun dibalik semua alasanku itu terdapat jawaban yang tersembunyi, yang aku sendiri tak pernah menyadarinya.


_


>>>Tekad<<<


Sehari sebelum memasuki bulan ramadhan aku mendapat rintangan yang lumayan berat. Dari pagi sampai malam aku berusaha sekuat tenaga memaksakan diri.


Ceritanya aku mulai setelah sholat ba'da dzuhur, aku terpaksa harus memenuhi permintaan pak RT untuk minta-minta ke tiap rumah di lingkungan RT kami. Sukarela, berapa saja asalkan ikhlas. Uangnya akan digunakan untuk menyewa imam tarawih nanti. Wajar di kampung kami kekurangan imam. Niatnya siang ini aku ingin tidur pulas tapi apa daya jika aku menolak permintaan sama saja seperti orang yang anti sosial. Tak apalah, hitung-hitung cari pahala.


*crak


Aku memakai sepeda adikku yang kecil. Mengayuhnya sampai di bibir jalan.


Aku memulai dari sebelah kiri soalnya perumahannya sedikit, sedikit karena di seberang jalan lahannya tak memungkinkan untuk membangun rumah, pinggir sungai dan curam.


Aktifkan mode ramah tamah. Sekali lagi aku terpaksa bersikap manis.


Rumah Abdi, Nisa, Erpan, tetangga, Meli, Hakim, Nayai dan terakhir bapaknya Gafur.


*tok tok


Assalamualaikum..


Terdengar langkah kaki dari lantai kayu rumahnya bertanda ada seseorang yang mendekati pintu. Aku mundur sedikit.


"ada apa ya?"


"ah ini ulun minta sumbangan buat menyewa imam tarawih, sukarela aja"


Tak terlalu jelas apa yang dikatakannya, pendengaranku memang agak buruk.


Aku rasa bapaknya Gafur tak ingin menyumbang. Aku menangkap kalau katanya kita gak perlu menyewa imam.


Ah yaa..


Kalau gitu sebaiknya aku lanjut saja.


_


Nah baru ke sebelah kanan. Aku akan memulainya dari seberang jadi aku bisa berputar dan finishnya langsung ke rumah. Sebelum nyebrang tetangga terdekat dulu.


Hari lumayan terik. Aku tak keberatan kepanasan, yang sulitnya itu ketika aku harus menghadapi tiap tetangga yang berbeda-beda. Solusi terbaiknya memang harus bersikap ramah murah senyum, selanjutnya menanggapi reaksi berbeda hanyalah dengan bersabar.


Ada yang reaksinya baik, pintunya gak dibukain padahal aku tahu orangnya ada di dalam, ada yang pelit tapi yaa sukarela juga siiih jadi gak bisa memaksa..


*psst! itu si Aisyah, si cewek cantik, ayo cari perhatiannya

__ADS_1


Yaampun cari kesempatan melulu.


next!..


Assalamualaikum..


Nah yang keluar adik cantik..


*le gua  -_____-


"Oiii, bro!" suara yang ku kenal dari belakangku.


Ohh pak Sabri, dia horang kaya lohh..


Aku langsung dapat firasat kalau pak Sabri ingin memberiku uang khusus untukku. Pengen nolak langsung kabur darinya masa iya? haha..


"kenapa ya?" pura-pura gak tahu


Pak Sabri mengeluarkan uang dari kantong Doraemonnya. Tebal, ijo, biru dan merah.


"nih buatmu" pak Sabri ngasih aku uang 10rb


"duhh, gak usah deh-"


"gak papa buat kamu aja, lumayan buat beli minum" paksanya.


Minum! bener juga. Ya udah aku terima aja.


Next!..


Ada yang ngasih banyak uang. Gak ditanggapi padahal orangnya kelihatan dari luar huhu..


Ada yang kali ini ngasih uang banyak dan reaksinya lebih ramah daripada bulan kemarin, bulannya Isra' Mi'raj. Padahal kalian tahukan yang membawa ajaran islam dan menyempurnakannya adalah Nabi kita Nabi Muhammad saw. masa berat sebelah reaksinya. Sebagai pengingat saja untuk kita. Tapi yaa aku juga tak bisa memastikan apa isi hati seseorang, jadi berpikir positif saja, mungkin kali ini dia lebih rileks daripada yang dulu.


Terus sampai selesai, semua- ah anggap aja semua rumah di lingkungan kami sudah aku tagih.


Aku ingin menyerahkan uangnya ke pak RT tapi beliau sekeluarga tak ada di rumah. Sore nanti aja deh.


_


Aku beli minuman dingin setelah sholat ashar.


Tugas selanjutnya yang harus aku lakukan adalah membersihkan Langgar. Aku sendiri yang menginginkannya demi menyambut bulan ramadhan. Sebab aku tahu, kalau bukan diri sendiri yang memulainya, siapa lagi.


Kopi coklat manis yang luar biasa! membangkitkan semangat tempur!


Oke! waktunya bersih-bersih.


Pertama aku meletakkan tirai penghalang ke luar. Baru sejadah, semua sejadah.


Mikrofon dan segala macam yang kecil-kecil seperti tasbih aku letakkan di gudang.


Well, selanjutnya membersihkan dinding dan jendela dari debu dan sarang laba-laba. Pakai sapu aja.


Done. Selanjutnya menyapunya.


Bapaknya Parid datang. Katanya belum bisa bantu karena sibuk mengurus tempat gapuranya yang hampir roboh tadi.


Uah jadi suara keras tadi berasal dari tempat gapura itu ya.


Bapaknya Parid berkata padaku sebelum pergi, katanya nyalakan nyalakan pengeras suara supaya bisa didengar oleh yang lain. Yang dimaksudkan adalah lantunan Al-Quran dari ponselku supaya di dekatkan ke mik.

__ADS_1


Rasa berat hati sih soalnya bakalan banyak orang kemudian membuat kerjaku tak efesien, ah maksudku mengacaukan ritmeku.


beberapa menit berlalu~


-___-


banyak orang apalagi anak-anak.


Ahh!! jadi bingung mau ngapain.


"kita bersihkan saja lantai yang di dalam" kata Parid


*byurr air dari ember membasahi lantai


Huaaa!! basah banget gak bakalan sempat kering, ini sudah jam 5 pula, gak bakalan sempat.


Tapi mereka yakin saja kalau nanti akan kering.


Duh, biarlah, aku sudah cukup kelelahan, sebaiknya istirahat saja.


Keringat badan terus keluar dari pori-pori kulit karena aku banyak minum air gelas kemasan. Ibaratnya air ini adalah oli dan tubuhku mesinnya.


Mode Overheat, yang hanya bisa tubuhku lakukan pada musim kemarau. Melewati batasan penggunaan kekuatan Beater. Kekuatan yang jauh lebih merusak penggunanya.


Tak salahnya kan aku berkorban banyak untuk hasil yang pasti? bener kan?


Tak masalah karena melakukannya, mode Overheat, adalah salah satu keahlianku. Asalkan tak terus menerus dipaksa aku akan baik-baik saja. Esok puasa jadi aku bisa tidur pulas seharian. Oh! tentu saja aku pasti bangun pada jam sholat, bahkan sebelum itu, soalnya biasanya pasti ingin buang angin haha.


_


Aku duduk sebentar di luar datanglah pak Sabri menanyakan keuangan hasil dari pendapatan sumbangan sukarela.


"kalau tak salah sekitar sejuta sekian" rada ingat, uangnya aku tinggal di rumah.


"ambil, biar pasti"


Akupun balik ke rumah untuk mengambilnya dan balik ke langgar.


"nih tambahan" pak Sabri menyerahkan uang yang cukup banyak.


Katanya ini juga buat sekeluarga, perwakilan.


Jadi begitu, tadi rumah yang orangnya ada di dalam namun tak menghiraukan keberadaanku adalah keluarga pak Sabri. Hmm..


Ah aku tak tahu mau bilang terimakasih atau apa, jadi aku simpan saja uangnya dan menulis di kertas laporan.


"kalau bukan kita-kita siapa lagi yang mau mengurus beginian" kata pak Sabri.


Ahh aku agak enek dengar kata-kata itu soalnya mengundang perasaan berbangga diri, sombong. Jikaa kita menangkapnya, terjerat oleh manisnya pujian. Merasa jauh lebih hebat dan benar. Aku sudah belajar dan telah kutancapkan cahaya pengingatnya.


"bro, kamu saja yang peggang uangnya"


"kenapa?" tanyaku.


"soalnya begini.."


Pak Sabri menjelaskan kalau ia kesusahan daftar yang dicatat untuk melihat siapa saja yang menyumbang, tujuannya melihat nilai sumbangan keluarga-keluarganya. Hmm tadi aku juga sempat menolaknya untuk melihatkan laporanku. Apa yang dilakukan pak RT sudah benar, akunya saja yang lembek.


Sekarang terikat oleh amanah, aku tak bisa lagi pindah-pindah sholat tarawih ke tempat lain.


Latihan baru untukku agar tak plinplan.

__ADS_1


__ADS_2