
Kali ini aku akan mencoba memaknai arti cinta yang selama ini aku belum sadari.. ya sebenarnya aku pernah suka- lebih tepatnya sering, namun hanya beberapa saja yang dapat membuat ku bereaksi, seperti terpicu mungkin. Aku suka dengan seseorang tanpa ku sadari apa penyebabnya. Apa karena parasnya? Postur tubuh? Atau hal lainya, aku sungguh ingin mengetahuinya. Kali ini aku akan mengulas lebih dalam tentang diriku.
Memangnya cinta butuh alasan?
Mengingat kejadian waktu kecil ketika masih duduk di sekolah dasar, waktu itu zamannya handphone lagi nge-trend. Aku mendapatkan nomor telpon Nadia, ya bisa dibilang cewe tercantik di kelas. Entah darimana aku mendapatkan nomor telponnya mengingat aku ini orang yang pemalu apalagi dekat dengan cewe. Lalu tibalah saling sms-an, ini pertama kalinya aku mengirim sebuah pesan ke cewe. Tanpa basa basi aku langsung mengirim pesan kode, aku masih ingat waktu itu hujan deras sekali. Aku berbaring menunggu balasan darinya, tersenyum ga jelas. Sebagian yang paling aku ingat dari pesan kode tersebut "H&N" ya! H itu nama ku dan N itu dia, jelas sekali tapi entah kenapa setelah itu tidak ada lagi pesan balasan darinya. Aku pikir dia menyadarinya.
Berita baru datang ketika aku sedang mengunyah pentol. Bukan berita sih lebih tepatnya gosip kalau Nadia pacaran sama.. sama siapa ya? Aku lupa namanya yang jelas kami sekelas. Aku kurang mengingatnya karena kami tak terlalu akrab. Wait.. what? Anak sd pacaran!! Yah itu hanya gosip. Terlintas dalam pikiran ku kalau aku gak mungkin bisa menang dengannya, jadinya aku merelakan si doi. Perasaan itu langsung melekat sebagai tanda kalau si doi sudah dimiliki, yah itu hanya gosip sih.
__ADS_1
Hari berjalan seperti biasa aku kadang dimarahi guru karena kelemahan ku dalam bidang pelajaran dan yang anehnya aku suka sama si doi yang lebih pintar.
Aku merasa janggal.. kok bisa?
Aku bersiap-siap untuk les karena sebentar lagi ujian kelulusan. Aku berdiri di depan cermin untuk memilih baju, ada baju hijau yang mirip baju kemeja sering ku pakai dan baju baru. Ibuku merasa aneh dengan anaknya ini yang lebih memilih baju hijau kumuh, saat itu aku merasa sangat bersemangat sekali dengan senyum tulusku.
Seperti biasa masih belum banyak orang, aku melangkahkan kaki di lapangan sekolah yang bedebu. Tak sengaja aku melihat siswi sekelas ku nongkrong di pohon mangga yang besar. Aku menghampiri mereka dan ikut nongkrong diatas. Tidak ada yang spesial saat itu, hanya saja rasanya memang biasa saja di dekat doi. Aku bertanya..
__ADS_1
Pendaftaran siswa baru telah dibuka, aku mendaftar di SMPN 1 Tanjung. Aku terbelalak melihat banyaknya orang yang ingin mendaftar. Di sinilah kaka ku dulu, bersekolah. Aku merasa kagum mencoba membayangkan sebagai siswa terbaik tanpa tes. Yah begitulah berbanding terbalik. Rumput ilalang banyak sekali di halaman sekolah ini, suasana sejuk dan mendung memberi khas tersendiri.
Masih ditakdirkan untuk mendekati Nadia. Dia mendaftar di sekolah ini juga, mungkin karena di sekolah ini ada kelas akselerasi bagi siswa yang berprestasi. Perasaan masih biasa saja tidak ada niat untuk mendekatinya.
Ibuku tidak bisa tidur semalaman memikirkan apakah aku akan diterima di sekolah tersebut, aku meyakinkan ibuku lagi agar tidak perlu khawatir, aku akan lulus kok soalnya tes di sekolah tersebut mudah sekali dibandingkan dengan ujian kelulusan. Keesoknya secara ajaib aku melihat nilaiku di papan pengumuman "80" woh nilai yang sangat langka aku dapat.
Kemudian hari-hari baru dan teman-teman baru aku dapatkan. Seperti pergi ke sekolah menaiki sepeda yang aku beli dari tetangga sebelah rumah. Saat itu aku masih sendirian berangkat sekolah lewat jalan Loyang tiba-tiba saja Nadia disampingku dengan sepeda perempuan yang memiliki keranjang di depannya. Kehadirannya memang mengejutkan tapi yang lebih mengejutkan lagi kalimat yang baru saja ia utarkan. Katanya "aku ikut berangkat bersamamu.. aku takut kemarin seseorang berkendaraan memegang paha ku saat di perjalanan" sontak saja aku kaget mengingat jalan Loyang ini perumahannya masih sedikit. Aku pun mengangguk terdiam seribu kata.
__ADS_1
Sebetulnya aku kasihan dengannya kenapa gak orang tuanya saja yang mengantarkannya ke sekolah, apa Nadia tidak menceritakannya. Ini masalah serius tapi aku tidak bisa berkata-kata, Nadia hanya berada di belakang ku mengikuti ku setiap lewat di jalan ini hingga akhirnya aku menyadari kalau dia tidak lagi mengikuti ku ataupun bertemu, mungkin saja orangtuanya yang mengantarnya.
Perasaan masih biasa saja mungkin karena aku hanya menyukainya saja..