
Seandainya dan seandainya.
Terlalu banyak berangan juga gak ada gunanya. Padahal aku yang paling paham tentang ujian hidup tapi saat masalah datang aku malah terbutakan oleh emosi. Gimana mau berpikir jernih kalau yang salah itu mereka. Enggak keluarga enggak orang luar sama saja mengganggu. Aku berharap punya rumah sendiri, hidup sendiri yang jauh dari keramaian.
Iya mungkin ini cita-cita ku haha!!
Emmm... aku melakukannya lagi..
Rasanya sulit sekali untuk keluar dari masalah besar ini. Aku tahu caranya untuk bisa keluar, aku tahu caranya agar bisa menang dan mengubah orang-orang namun.. tubuhku tidak bisa melakukan apa yang seharusnya ku lakukan.
Kondisinya begini.
Adikku, aku hanya perlu mengajarkan padanya banyak hal.
Nenekku, aku bisa menggunakan kharisma ku untuk mengingatkannya untuk lebih giat beribadah.
Aku bisa saja mendapatkan pekerjaan kalau aku mau sedikit usaha untuk keluar rumah.
Aku bisa saja menjadi orang kaya kalau aku mau usaha kerja.
Aku bisa saja memaafkan orang yang paling aku benci kalau aku ikhlas.
Beater: gak boleh
Hapis: -___-;
Keluarga yang lain, aku hanya perlu memberanikan diri untuk menerima pendapat mereka dan menceritakan apa yang aku alami.
Semua masalah bisa saja aku selesaikan, aku hanya butuh beberapa langkah. Agama sudah memberikan caranya untuk bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan sempurna. Sayangnya aku tak bisa bergerak mengikuti apa yang seharusnya ku lakukan. Jin dalam tubuhku sudah aku perbaiki, dia sudah bisa membisikkan ku untuk melakukan hal yang baik-baik, tapi tetap saja rasanya sulit. Apa yang kurang dariku?
Elu banyak dosa eyy
*ewww
Kurasa benar juga.
Banyaknya dosa membuat tubuhku sulit berbuat baik.
Dendam, sombong, suka mencari-cari kesalahan orang lain, pemalas, merasa yang paling tinggi, merasa paling bisa melakukan segala hal. Banyak sekali penyakit hatiku. Dan aku juga tahu bagaimana caranya untuk membersihkan dosa-dosa itu. Sekali lagi, tubuh ku tetap sulit bergerak.
__ADS_1
Tapi kenapa harus selalu aku? Kenapa harus aku yang akan melakukan semuanya?
Seolah-olah hanya aku doang yang jadi tokoh utamanya!!!!
Beater dan Zheill: idih..
Grrr.. Merepotkan.
Huh..
Kalau terus seperti ini, hanya selalu aku yang jadi terbaik. Eh? Ahh lagi-lagi aku melakukannya, penyakit hati, merasa yang paling hebat.
Alasan bodoh menjadi yang paling belakang
Siapa yang betah ketika ada seseorang yang selalu ingin memaksakan kehendaknya terhadap mu. Lewat gerak gerik kecil yang terlihat seperti sindiran keras. Begitulah kelakuan kaka ibuku dan keluarga lainnya kecuali kaka Yudhi.
Aku ini sangat perasa dan bisa membaca jalan pikir orang lain. Bagiku untuk membaca pikiran orang terdekat ibarat menghitung 1+99 gampang sekali. Tapi aku sudah belajar untuk tidak berpikiran negatif tentang mereka. Sering ku latih. Namun anehnya balasan dari tindakan ku terhadap mereka tidak akan pernah menyadarkan kerasnya dinding hati. Aku juga selalu menghindar tiap kali mereka datang. Kalau sudah terkena black-list aku harus jauh-jauh dari mereka yang terkena. Kalau tidak. Kuping ku akan merasa sakit tiap kali mereka berucap. Kata demi kata yang masuk dalam telinga ku langsung menggambarkan sifat mereka. Begitu saja melintas dalam bayangan pikiran. Sakit sekali ketika aku mencoba menepisnya.
Menjauh adalah tindakan terbaik.
Buat apa aku menolong mereka. Toh mereka juga tidak suka dengan ku. Tindakan mereka hanyalah sebuah rasa pelampiasan untuk menenangkan hati. Bukan untukku. Mereka tidak tahu apa-apa tentang ku. Sebaliknya aku yang paling tahu tentang mereka dari pada orang lain. Ironis sekali. Aku mau menerima pendapat mereka? yang tidak tahu apa-apa soal kekurangan ku? berlagak paling mengerti untuk menjatuhkan ku sebagai percobaan.
Terus adakah cara lain?
ada.. tapi..
Aku harus mengalah menerima pendapat mereka. Untuk jatuh lagi?
Kenapa harus selalu aku yang mengalah? Kenapa?
Ketika aku sakit. Aku pasti tahu apa yang paling diinginkan tubuhku untuk lekas sembuh. Aku jarang minum obat. Saat sakit aku lebih sering membutuhkan makanan atau minuman yang bisa menyenangkan tubuh. Sebagai penyemangat gitu. Yahh soalnya pas sakit lidah kita kan mati rasa.
Pacar mana pacar sebagai penyemangat?
lol pacaran dosa eyy
*savage
__ADS_1
Masalahnya pas sakit aku pasti kesulitan mau beli belanjaan. Berdiri saja sempoyongan. Aku meminta adikku untuk membelikannya. Tapi gak semudah yang ku kira. Dia menolak permintaan ku. Malahan marah kepada ku.
Kenapa? apa dia gak paham tentang situasi ku?
rasanya sakit sekali, aku telah memberikan apa yang dia mau. Pas dia sakit juga pasti aku yang membantunya. Kaka ku juga. Semunya apa yang aku lakukan tidak pernah ternilai kah? bodohnya aku juga terlalu berempati dengan mereka. Bisakah dari kalian sedikit saja berusaha lebih baik dari aku??
Usuhu ku dan keluarga lainnya.
Seharusnya mereka paham apa yang sering di alami anak muda. Labilnya kepribadian. Seharusnya mereka terus berusaha membujukku untuk sadar. Tapi kenapa malah aku yang dimusuhi. Aku berbalik mengejar mereka sedikit demi sedikit mencoba menyapa mereka. Tapi aku diabaikan. Seharusnya.. emm..
Nenekku.
Kenapa harus memperbesar rumah sih? sayangnya uang mending di wakafkan. Kalau nenek meninggal aku gak bakal bisa mengurus rumah ini, tenaga ku gak sekuat orang lain. Mama juga gak bakalan pulang ke rumah. Dan nanti aku pasti akan pergi dari rumah.
Aku mencoba menjelaskan hasil usaha yang aku dapat tentang agama. Amalan-amalan ibadah yang mungkin akan membanggakan ku sebagai cucunya. Lalu aku mencoba menyangkut pautkan tentang pekerjaan khusus agar amalan ibadah ku tidak lepas. Tapi malah nenekku hanya fokus pada pekerjaan.
Apa nenek tidak dengar ungkapan hatiku? jarang-jarang aku bisa curhat langsung pada orang lain. Harapan ku yang seharusnya aku inginkan malah.. diabaikan.
Aku langsung pergi meninggalkan neneku.
Ahh rasanya sakit, selalu tersakiti.
Nek.. apa aku harus kaya untuk melemparkan semua uangnya ke wajah kalian? bukan itukan yang kalian inginkan dariku. Aku juga tidak sedang membutuhkannya untuk saat ini.
Apa sih yang kalian pikiran? uang? jabatan? harga diri? kesombongan untuk membungkam tetangga?
Kenapa selalu aku yang harus melakukan semua itu?
Ibuku saja memberikan ku kebebasan.
Aku tak takut terjatuh aku punya Tuhan ku. Aku tinggal minta apa yang aku mau pada-Nya, Dia Yang Maha Kaya lagi Maha menguasai bumi juga langit.
Tapi jika aku minta sesuatu hanya untuk berbuat dosa mana mungkin terkabulkan. Kesal.
Aku marah. Aku sakit hati. Aku selalu ingin sendirian. Menjauh dari kalian. Aku muak melihat kalian.
Aku tahu.. hidup ini hanyalah panggung sandiwara. Tiap orang memainkan perannya masing-masing. Begitu pula dengan ku. Rasa sakit ini, rasa kecewa ini, rasa terhina ini, semuanya yang ku terima hanyalah palsu. Begitu juga rasa yang lainnya. Tuhan hanya menilai tindakan kita dalam menanggapi suatu cobaan. Hebat atau tidaknya tergantung perjuangan kita.
Pernah melihat seseorang begitu gembira setelah melakukan tindakan yang baginya luar biasa namun di mata kita, sudut pandang kita, tindakan tersebut hanya biasa saja. Itu.. apakah karena kita sudah pernah melakukannya ataukah hanya ingin meremehkan bahwa kita jauh lebih hebat? Ya.. berapa kali pun kita mencoba sadar kalau poin pentingnya dari masalah seperti ini bukanlah fokus pada hasil tindakannya tapi pada usahanya.
__ADS_1
Begitu kau menyadarinya, kau akan tersenyum tulus seperti ku.
Lalu apakah aku harus membuang semua kelemahan ini begitu saja. Hoho gak semudah itu ferguso tetap akan ada perjuangan dan ujian baru menanti.