Monster Labil

Monster Labil
Hikmah


__ADS_3

Misalkan kita tahu jika esok kita akan mati tanpa setetes pengetahuan tentang akhirat, pasti kita hanya akan meratapi nasib malang dihari yang akan terjadi.. Dan kemudian orang-orang akan berkata "oh kasihan.." mungkin begitulah. Hal ini pernah terjadi padaku, tepatnya pada salah seorang teman kerjaku yang terkena penyakit herpes. Aku diberitahukan oleh keluarga ku yang punya kenalan dengan keluarga mereka.


Sore itu tentu saja aku langsung bergegas ke rumah sakit. Aku biasa memanggil almarhum dengan sebutan paman soalnya alm sudah memiliki istri. Paman adalah orang yang baik menurutku, murah senyum dan cara bicaranya yang sopan. Perasaanku campur aduk, akan kah kondisinya baik-baik saja.


Telah sampai di depan rumah sakit aku langsung masuk dan bertanya pada orang yang lewat di mana ruang penyakit dalam. Ketika aku menelusuri ruangan yang dituju, aku kaget kenapa sendal-sendal atau sepatu harus dilepas dan yang lebih mengagetkanku adalah pasien yang banyak. Ruangannya tidak mencukupi banyaknya jumlah pasien. Pasien yang tidak mendapatkan kamar terpaksa membawa perlengkapan sendiri dan tidur di luar, teras ruangan. Apa setiap tahunnya memang seperti ini soalnya sudah lama aku tidak ke rumah sakit ini semenjak teman SMP ku sakit. Setelah menyusuri setiap ruangan akhirnya aku menemukan ruangan penyakit dalam. Aku masuk di salah satu ruangan dan menemukan sekujur tubuh dan wajah yang ku kenal.. Perasaanku jadi tak karuan lagi melihat kondisi paman. Dia hanya bisa berbaring kerena penyakit yang dialaminya. Mata ku mulai berkaca-kaca dan rasanya sesak sekali.


"Kenapa wajah mu seperti itu fidz?"

__ADS_1


Aku tahu apa yang dimaksudkan paman dan mencoba mengontrol emosi ku supaya tenang. Katanya penyakitnya sudah lama ada semenjak pelatihan las selesai, sekitar 2 bulan kalau tidak salah. Hal itu tidak penting, yang sangat ku khawatirkan ialah kondisi paman saat ini, apa yang akan terjadi dengan paman setelahnya?.. Tapi aku tak boleh berpikiran jauh. Sebisa mungkin aku harus menghibur paman dengan kemampuan komunikasiku. Kami bercerita banyak.


Paman mengusulkan ingin bertemu dengan teman-teman yang lain sekaligus bertemu guru las juga. Aku mencoba menghubungi yang lain dengan handphone paman. Tentu saja yang bicara paman sendiri, aku sudah sangat malu bertemu mereka apalagi dengan guru las. Aku melirik tasbih dan buku yasin di samping lengan kanan paman yang sudah tak bisa digerakkan, tubuhnya kurus sekali.


"Pulsanya habis? Biar aku saja yang belikan" ucapku


Hari menjelang malam aku berpamitan ingin pulang dan mengenai reuni besok mungkin aku tidak bisa pergi, aku malu atas kesalahan yang telah aku perbuat. Bau khas rumah sakit menghias memori ini. Penghuni pria tua di kamar sebelah tadi telah mengalami sakaratulmaut. Keluarganya menangis dan wajah dokter yang pasrah ditutupi masker.

__ADS_1


Aku berjalan ke luar dan terus menjauh meninggalkan lokasi. Di perjalanan perasaanku sangat kacau. Sakit, sedih, malu dan bersalah. Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini?


Mencari makna tentang hidup..


Aku tahu Tuhan berusaha berkomunikasi dengan kita lewat ilmu dan hikmah disetiap peristiwa yang kita alami agar kita bisa lebih baik lagi. Supaya menjadi yang diharapkan.


Hari ini aku diingatkan lagi...

__ADS_1


__ADS_2