
"huh senin esok cepatnya.. senin depan kan?"
"senin esok hiks"
"uhh"
Kesempatan untuk jalan-jalan dengan Nisa tidak ada lagi karena minggu ini atau besok aku bersama teman cowok ku liburan ke Goa Liang Tapah Jaro. Sebelumnya hari raya aku bertemu dengannya setelah sholat. Aku tak bisa menatapnya atau pun bicara dengannya aku terlalu malu. Sabtunya aku kelelahan dan ingin istirahat. Kesempatan untuk menepati janjinya hilang sudah. Hmm.. bagaimana kalau aku menunda rencana kami? iya betul juga soalnya mereka pasti bakalan setuju dengan pendapatku(bisik jahat) ya menurutku tiap peran kami dalam pertemanan sama-sama penting misalkan gak lengkap satu tentu asyiknya juga kurang! yes aku menunda dulu. Tapi apa aku yakin harus menunda rencana kami? sekali saja mungkin gak papa. Okeh aku coba meyakinkan mereka.
"ah gimana kalau senin aja kita pergi liburannya? soalnya aku masih capek?"
Disisi lain aku sudah kelelahan sejak hari-hari terakhir sebelum hari lebaran jadi aku tidak berbohong. Disisi lain lagi aku masih bisa memakai tenaga cadangan Beater(hehehe) strategi bagus. Akhirnya yang lain setuju saja kalau rencananya ditunda. Nice! lemparan ku akurat. Aku langsung saja memberitahu Nisa kalau esok aku bisa jalan-jalan dengannya.
"Nis esok kita bisa jalan-jalan"
"jam berapa haha, oke okee bangunkan aku subuh" 3 pesan beruntun
"kamu bisanya jam berapa, mana bisa terdengar -_-"
__ADS_1
"jam 6 subuh, tapi aku gak bawa sepatu jadi pakai sendal haha"
"ayok kita pakai sendal aja"
Kami memutuskan untuk joging besok di Pendopo padahal Nisa nya mau di Islamic Center tapi aku gak yakin. Subuhnya aku miss call dia lewat Line jam 5, lalu aku tertawa. Perubahan rencana kami memakai sepatu.
Aku sudah sampai di depan rumahnya. Sekilas aku melihat ayahnya di dalam rumah lagi ngobrol. Ahh aku baru ingat, hubungan kami pernah renggang dan selama itu aku gak pernah lagi berkunjung ke rumahnya, mungkin aku bakalan diintrogasi nanti. Ahh bukan kah ini kencan. Akhirnya muncul juga Bapaknya sama Ibunya dan pertanyaan pertama keluar.
"mau kemana fidz"
uahh hanya itu alasan yang bisa aku cari. Orang tua Nisa menanyakan pertanyaan itu dengan ramah tapi nusuk, dalam hatiku aku paham kok apa yang dimaksud hehe. Woh Nisa nya keluar, ah syukurlah aku ingin kita cepat soalnya kalau dilihat teman dari Group Traveling bisa gawat, masa nunda rencana cuman buat jalan sama cewe. Benar! aku ini pemikir keras hal-hal kecil tidak pernah ku abaikan bahkan sampai poop ayam saja ku pikirkan. Kami pun siap-siap berangkat. Sebelum aku pergi ingin sekali bilang kalau Nisa nya aku culik dulu gitu ke orang tuanya.. mana mungkin bisa!
Kami pun berangkat.
Diperjalanan maupun saat joging kami ngobrol banyak seolah-olah tiap Nisa membahas sesuatu pasti aku punya sesuatu juga yang akan di bahas, dekat denganya membuat ku nyaman. Kadang kami kesakitan terinjak kerikil tajam karena tak pakai sepatu, terapi begitulah.
"Nis hati-hati nanti jatuh loh, paritnya dalam tuh" aku memperingatinya untuk tidak berjalan meniti di atas parit itu. Di jarak segini sih aku masih bisa menjangkaunya kalau jatuh. Sepertinya kaki ku juga tambah sakit tiap kali melangkah. Setelah empat kali putaran kami memutuskan sudahan joggingnya kemudian untuk mencuci kaki kami pergi ke mesjid yang tak jauh dari sini. Aku- tentunya mencuci kaki ku di wilayah wudhu pria. Wah airnya dingin, hmm.. sekalian aja aku berwudhu disini, toh kami gak bersentuhan juga. Selesainya aku menghampirinya yang sedang memasang sepatu. "Lihat kemari Nis aku sudah berwudhu, sekarang aku sudah ganteng maksimal!" dalam hati aku bicara. Biasanya kalau cowok habis berwudhu tingkat ke gantengannya maksimal haha tapi dia gak noleh ke kesini. Aku duduk disebelahnya kadang aku curi pandang. Kami sahabatan kok gak lebih haha.
__ADS_1
"eh Nis 16 agustus nanti kita ikut Erpan ke gunung yok?" aku membujuknya
"ayok fidz, udah lama aku pengen mendaki gunung" nada suaranya agak meninggi
"tapi kebanyakan cowok sih yang ikut, tenang aja aku hebat kok soal berantem" aku percaya diri
"gak sampai kesana juga fidz"
Yah pokoknya aku akan melindunginya kalau ada yang gak beres. Hehe jangan remehkan aku , maksimal kecepatan ku telah meningkat setelah banyak latihan. Misalkan seekor singa dewasa yang menyerang ku dalam kondisi siap dan sebuah pisau aku bisa menanganinya, aku juga punya insting survival yang tinggi apabila terdesak kemampuan ku akan meningkat drastis, perbandingan kekuatan sebesar itu dengan tangan kosong pun aku bisa menangani 3 bocah berandalan yang menyerang secara bersamaan. Bela diri sangat dibutuhkan apalagi dimasa depan nanti setidaknya memberi sedikit peluang untuk bertahan hidup.
Udara pagi sangat dingin apalagi sore kemarin hujan lebat sampai tengah malam yang membuat suhunya jadi super dinginnya. Tangan ku serasa membeku. Kami berdua mencari tempat makan. Di perjalanan kaki ku tak sengaja merasakan kakinya Nisa, "hangat~" apa perlu tas sling ku diputar ke depan saja ya? aaa- duhh apa yang ku pikirkan! aku kan sudah berjanji untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Kami menemukan tempat makan, sahabat ku ini ingin nasi goreng tapi sudah habis jadi kami pesan soup saja. Mungkin masih banyak yang sedang mudik memilih makan dulu di warung dekat terminal ini, tentu saja nasi adalah makanan pokok orang Indonesia. Penjualnya ramah juga, aku berbincang sedikit dengannya sementara Nisa masih menyantap makanannya. Aku tidak terlalu lapar.
*tuttt "tutt
Handphone Nisa berbunyi lagi, pasti Waida katanya dan setelah dilihat betul sekali. Heran juga Nisa punya teman yang berisik kayak dia, kalau aku sudah ku campakkan orang itu haha. Aku tidak suka suara berisik apalagi cowok yang berisik. Sempat aku mendengar percakapan mereka Waida bilang jalan sama siapa lalu aku mencuri kesempatan meninggikan sedikit suara ku di telpon Nisa "sama pacarnya.." Nisa pun tertawa.
Pagi ini adem sekali, rasanya beban di pundak ku sedikit berkurang setelah memenuhi janji ku dengan sahabat ku. Sudah ku katakan kalau dekat dengannya membuatku nyaman.
__ADS_1