
Hujan gerimis..
Aku memancing di sungai seperti biasa. Ditemani musik dari hp seperti biasa. Dan karena terlalu seperti biasa tibalah giliran masalah datang untuk mengujiku. Kehadiran seseorang yang rupanya menjadi masalah atau mungkin menjadi kaca kehidupan untuk mengenali diri sendiri.
Ah.. tak perlu basa-basi langsung ke konfliknya saja haha.
Permasalahan bermula ketika seorang pemancing di pinggiran sungai meminta bantuanku untuk mengambil ikannya yang tersangkut di antara reranting pohon di tengah sungai.
Aku pikir itu mustahil..
Kenapa mustahil?
Coba pikirkan perasaanmu ketika orang tak dikenal menyuruhmu untuk berenang ke tengah sungai demi ikannya?
Tak sopan. Tak punya perasaan. Dan tak berpikir.
Permintaan konyol macam apa itu, menyuruh orang lain demi kepentingan diri sendiri. Memang aku bisa berenang tapi aku mana mungkin mau mengabulkan permintaannya.
Jawaban pasti. Aku abaikan saja permintaannya. Itu permasalahannya sendiri. Harusnya juga berjuang sendiri.
Ya, aku bukan orang yang sangat baik untuk menerima permintaan seperti itu.
Namun dia memintaku lagi.
Keras kepala juga.
Segitu berharganya kah satu ikan kecil itu? Dan harus membuat orang lain repot? Kalau aku jadi dia mending aku lepaskan saja. Relakan daripada merepotkan orang lain.
Pengalaman dan ilmu yang sedikit. Melihat dari tindakannya saja aku sudah tahu seberapa jauh perbedaanku dengannya.
Iya, aku tahu posisiku. Tapi tetap saja permintaannya konyol, aku tak mau berkorban segitu jauhnya demi ikan yang sangkut di sana. Apa imbalannya?
Tampang wajahnya seperti orang luar daerah. Jawa kah?
Cihh aku mulai menerka kepribadiannya.
Sampai ke tiga kalinya dia meminta, aku mulai termakan emosi.
__ADS_1
Aku mendayung lanting punya pak Kisaragi ini ke arah rerantingan, ke ujung tali pancingnya yang sangkut. Tetapi rerantingan seperti batang bambu susah sekali aku singkirkan dengan tongkat kayu. Hilang konsentrasi, aku salah dorong membuatku jatuh ke dalam sungai. Lumayan dalam. Refleks, aku langsung naik ke lanting. Teringat handphone-ku yang ada di dalam tas juga ikut masuk ke dalam air.
Kesal sekali..
Pada akhirnya aku juga harus masuk ke air. Apakah ini balasan atas tindakanku?
Tapi tetap saja ini salahnya.
Sudah lebih setengah jalan usaha menolong mending aku teruskan saja daripada gak ada hasil sama sekali.
Aku lempar tas dan alat pancing ke darat lalu melanjutkan usaha untuk diriku sendiri.
"Kalau aku gak bawa ikan pulang nanti bakalan masalah" katanya.
Apa-apaan coba. Yang punya masalah diri sendiri seharusnya selesaikan sendiri juga.
Aku marah dan ku lampiaskan ke tenaga untuk mendorong batang bambunya.
Melihat aku berusaha sendiri, dia memberanikan diri masuk ke dalam air secara perlahan. Seharusnya dari tadi dia melakukannya lagian kalau tenggelam aku bisa saja menolongnya tak perlu harus orang lain yang lebih dulu direpotkan. Sedikit lega soalnya ikannya masih tersangkut dikail pancing. Lega karena usahaku yang sedikit ini ada hasilnya tapi aku masih emosi.
Bilang "terima kasih"..
Sayangnya aku semakin jauh melangkah dan meninggalkan orang itu.
Hebat sekali, sudah bikin orang repot dan ingin menyalahkanku. Tiba-tiba terlintas bayangan apa yang akan terjadi nantinya. Dia akan bilang kalau orang sini gak ramah.
Konyol sekali.. membohongi diri sendiri.
Yaa itu hanya bayanganku saja sih bukan kenyataan.
Sampai ke rumah aku langsung menyalahkan handphone-ku. Memastikan apakah rusak atau tidak. Hasilnya? Jelas rusak. Layar sentuhnya bergeser.
Uhh.. padahal ini handphone kesukaanku karena bentuknya kecil.
Kesukaan? Ahh jadi begitu..
Inilah akibat jika kita terlalu mencintai dunia melebihi cinta kepada Sang Pencipta. Ya begitulah, jadi tindakan selanjutnya yang harusku lakukan adalah mengikhlaskan handphone-ku.
__ADS_1
Ya udah deh.
Tapi.. aku masih kesal dengan orang tadi. Sumpah ngezeeliiiin. Aku berharap agar dijauhkan oleh orang-orang yang seperti itu. Masalah banget. Habis mikir gimana kacaunya.
Setelah hari itu sebisa mungkin aku mempelajari pola rusaknya handphone-ku. Memang masih bisa nyala tapi layarnya bergeser membuat bagian tertentu tertekan terus menerus. Aku pelajari. Sayang banget nih handphone kira-kira belum satu tahun aku memakainya. Syukurnya handphone ini adalah handphone bekas dan dijual seharga 380 ribu. Kalau mahal yaa.. cinta duniaku makin membuatku susah mengikhlaskan. Tak boleh, tak boleh haha.
Emm? Di ujung bawah handphone-ku terdapat lecet.
Simulasi kejadian sebenarnya langsung muncul dalam benakku.
Uahhh
Salahku sendiri eyyy!!!!!
Olah TKP!!!
Sebelum si monster labil melempar tasnya ke darat rupanya ia lupa menutup tasnya!!!
*Uohh!!!
Ia berpikiran mungkin handphone-nya sudah rusak karena terkena air. Padahal.. tidak!!!
*Uohhhh!!!
Penyebab sesungguhnya mengapa handphone-nya rusak adalah.. kuatnya benturan dengan tanah. Tanpa pelindung masuk akal saja kalau handphone-nya bisa lecet.
*Whathe--!!!
...
...
...
Yaa.. dari awal salah aku sendiri sih yang menolak permintaan orang itu makanya bisa kejadian seperti ini.
Ah pusing.. tak perlu dibahas lagi.
__ADS_1