Monster Labil

Monster Labil
Masalah


__ADS_3

Semakin dalam rasa haus akan pengetahuan ku tentang agama dan dunia. Aku yang sekarang ini sudah sangat berbeda dari yang dulu, yang pemalas ingin belajar. Berbekal semangat yang tinggi aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Hampir setiap hari aku selalu menonton ceramah di tv. Acara "Islam itu Indah" tiap pagi aku dan nenekku bersama-sama menontonnya. Ilmu agama itu penyeimbang dalam segala aspek kehidupan. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari belajar agama apalagi dengan ustadz ataupun guru yang ilmunya tinggi. Bisa atau enggaknya pelajaran yang bisa kita ambil itu tergantung hidayah-Nya. Tapi jangan juga beranggapan "ah nanti juga paham sendiri". Tak ada niat untuk mencoba memikirkannya dan mempelajarinya pasti lah bakal sulit. Sulit karena tak tahu bagaimana cara untuk mengatasi masalah yang akan datang.


Tema tentang pekerjaan. Aku ingin sekali menghindari mendengarkan ceramahnya bersama nenek. Kenapa? Entah kenapa aku merasa triggered atau tertekan seperti merasa bersalah gitu. Ya iyalah. Seharusnya aku sebagai lelaki bekerja bukannya nganggur. Tapi kenapa harus kerja dulu sementara niat gak ada dan kepribadian yang masih labil. Sama saja salah. Jalan sebenarnya yang harus diambil adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Ya kan?


Keinginan jiwa dan insting tak pernah bohong. Karnanya aku memilih jalan dari pilihanku sendiri. Tapi kenapa baru sekarang aku yakin?


Ya itulah masalahnya..


Ceramah kali ini aku tak mau kabur soalnya ustadznya berceramah tentang tujuan mencari nafkah.


Yep! Baru sekarang aku menyadari tujuan dari mencari nafkah itu apa?


Kenapa? Karena aku sedang tak ingin memikirkannya.


Singkatnya dalam ceramah tadi aku mendapatkan pelajaran penting untuk nanti bila ingin kerja. Pertama yang penting niatnya. Jika aku gabungkan dengan banyak ilmu dari berbagai sumber. Aku mengurutkan niat dari pilihan terbaik yang pernah ada. Pertama niat untuk menaik hajikan orangtua tapi dalam hal ini perlunya pekerjaan yang tetap dan waktu yang lama untuk menabung uang. Semoga aja gak keduluan mama ku sendiri yang berniat naik haji. Kedua niat mencari nafkah untuk ibadah. Makanan, pakaian, harta benda apapun yang akan dihasilkan tujuannya hanya untuk ibadah. Kata Guru Danau coba modal sendiri untuk mencari ilmu(pergi ke pengajian) pasti enak. Gak ada beban dan berasa lebih berkah. Kalau kita beribadah dari orang yang memodali kita, kata ustadz, yang alimnya ialah yang memodali bukan kita(gua) yang beribadah. Akupun ingat dengan ibuku. Bagus dong. Tapi tentu saja tak selamanya aku akan terus seperti ini. Jelas tindakan ku masih kurang tepat.


*gehhh!


Lagi. Aku ingin ilmu yang lebih banyak lagi.


Hal yang paling terpenting bagiku adalah agama. Aku tak mau pekerjaan menghalangi ku beribadah dan mencari ilmu.


Kemudian, tenaga ku sedikit dan mudah lelah. Sedari kecil kegiatan ku tak pernah menentu. Makan hanya ketika aku lapar atau lagi ingin. Bermain tak kenal waktu dan istirahat hanya pada saat aku merasakannya. Akibatnya tubuhku berkembang dan tumbuh mengikuti apa yang harus ditingkatkan. Beda dengan keluarga anak dari keluarga lain aku punya kebebasan.


Aku harus memberi syarat untuk pekerjaan bukan pekerjaan yang membelenggu. Mungkin aku perlu kursus mengemudi. Mengikuti perkembangan zaman, pekerjaan yang mungkin bakal tetap bertahan di masa yang akan datang. Emm.. akhir zaman kan sebentar lagi pasti bakalan perang. Musim kemarau selamanya dan- ahh kalau ingat masa depan pasti jadi teringat akhir zaman. Dunia tempatnya manusia untuk diuji. Dengan pengetahuan yang ku dapat ujian bertujuan untuk meningkatkan iman dan taqwa manusia. Ada atau tidaknya merasakan akhir zaman tergantung pencapaian. Jangan sampai merasakan. Kalau bisa lebih dulu meninggal daripada harus merasakan akhir zaman. Duh malah membahas ini.


Ya intinya aku hanya buang-buang waktu memikirkan masalah yang mungkin atau tidaknya bakalan ku alami.


Bersama kesulitan pasti ada kemudahan..


Sip. Aku dapat motivasi buat keluar dari zona aman dengan penyelesaian yang tepat. Secercah harapan tanpa ada keraguan. Sama pada saat aku ingin  menggambar ide-ide berlian membanjiri pikiranku. Aku hanya perlu percaya diri. Aku masih masih punya peluang besar untuk berkembang.


Ya itulah kehidupanku..


Aku punya kehidupanku sendiri..


Masalah akan selalu datang merusak, menjadi kanker dalam kehidupanku..


Kakakku datang padaku membawa berita yang bagiku saat ini adalah berita buruk. Kaka Rida menyuruhku untuk membuat surat lamaran kerja untuk pekerjaan yang aku sendiri gak mengharapkannya.


Segera! Mumpung kaka Rida sudah membujuknya. Kata kakakku.


Gak ah!


Aku berpaling darinya. Selanjutnya bisa dibayangkan sendiri bagaimana ngeselinya seseorang.


Jawabanku sudah tetap. Tak ada lagi niatan. Jika aku niatku setengah-setengah lagi hasilnya hanya akan sama seperti aku magang dulu.


Sepekan hampir tiap hari kakakku datang memaksakan diriku. Bukannya aku tak ingin keluar dari zona aman tapi kenapa harus disaat seperti ini, saat aku punya kemauan sendiri untuk membuat kehidupanku lebih baik.


Aku sendiri..


Punya kehidupanku sendiri..


Puncak masalahnya pada hari minggu ketika kaka Rida, kaka ibuku dan anaknya datang.


Kasar.. aku sudah kasar memanggil keluarga seperti memanggil orang asing.

__ADS_1


Sehabis Dzuhur aku mencoba untuk istirahat memulihkan tenaga tapi konflik mulai terjadi. Setelah kaka Rida bertanya pada pada anak kaka ibuku, di dapur langsung heboh. Ahh sebagian sudah tak ku ingat.


Rasanya sangat mengerikan. Lebih mendingan di pukul-pukul atau di cakar-cakar di seluruh tubuh. Mental yang lemah seperti diriku sangat sulit bisa bertahan. Jadi inikah pembullyan. 


Nenekku jadi ikut-ikutan namun suaranya pelan. Tipe orang munafik yang suka berbicara dari belakang.


Aku tak mau jadi seperti itu. Aku dapat pelajaran bahwa aku memang solo player yang tak boleh membangun hubungan dengan orang lain.


Jadi ketahuan sifat asli semuanya. Hanya memperjelas karena pada dasar aku sudah tahu kalau sifat itu sudah ada. Sedikit curiga untuk kaka ibuku tak seperti anaknya. Hmm.. mungkin karena kejadian dulu waktu kakakku nikah aku sempat memperlihatkan karakter amarah Beater ku padanya dan itu membekas.


"Kenapa gak kaka Hakim aja yang melamar" kata anaknya


*Pfft


Sekejap aku langsung ketawa sedikit. Aku sudah bisa membaca langkah selanjutnya.


Entahlah rasanya aku ingin keluar dari situasi ini dengan cara mengalihkan perhatian.


Kondisi ku kali ini sangat buruk sekali. Badanku panas dingin. Tanganku gemetar. Bernapas pun susah.


Gawat.. kalau seperti ini terus aku bisa sakit. Aku harus mengaktifkan efek Enchanter. Kalau lagi down imun tubuh juga ikut menurun.


Aku mencoba mengepal tinju. Lagi alirkan tenaga. Sekilas dari penglihatan lebarku aku melihat horden bergerak. Seseorang akan masuk tapi refleks ku menurun.


Rupanya kakakku perlahan dia menjengukku.


Oh coba lihat dia dengan ekspresi suramnya. Tubuh tak pernah bohong merasakan kesalahan.


Ingin sekali aku berkata kasar. Sudah lancang masuk dan juga menyalahkan sumbu api konflik apa sebaiknya caraku untuk memperlakukannya. Aku kehabisan cara. Memukul mereka semua adalah tindakan konyol tak berdasar. Sifat mereka semua yang perlu dihajar.


Jangan tanyakan kondisiku. Selalu saja bergerak tanpa berpikir bikin kezel.


Hampir jam setengah empat. Aku mendengar adikku dari balik dinding kayu. Tak sengaja aku memanggil adikku.


Kenapa?


Ah iya.. pada saat seseorang terpuruk pasti orang itu ingin mencari harapan lewat ahh sepertinya aku salah jalan. Kalau sudah terlanjur mau bagaimana lagi aku teruskan saja meminta tolong padanya. Aku minta agar adikku menanyakan apa-apa saja yang harus aku lengkapi untuk surat lamaranku.


Ekspresinya seolah-olah tak ingin bergabung denganku. Ya begitulah.


Aku tak mau seperti itu. Seandainya ada seseorang terpuruk dan sendirian aku pasti akan menemaninya dan menolongnya. Ini sifat Beater. Walaupun seluruh dunia jadi musuh. Tenaga yang bersumber dari amarah dan dendam jadi senjata.


Sebagai gantinya jika adikku mau membantuku aku akan memaafkannya. Tapi jawabannya hanya setengah. Malah menyuruh kakakku yang memberitahukan. Kesel.


Aku bangkit dan turun dari kasur.


Uhh.. lemes..


Ah! Aku teringat. Mungkinkah kondisiku saat ini sedang di dzolimi. Kalau gitu aku minta harapan bedoa minta sesuatu.


Aku ingin laptop gaming!!


*ah konyol ngehabisin waktu


Istri soleh? Kerja dulu..


Ah! Benar pekerjaan. Duh pekerjaan apa coba yang bagus. Em.. emm.. emm.. ah pokoknya pekerjaan yang gak menghalangi beribadah dan belajar mungkin itu aja. Oh oh! Mudahan nanti hafal Al-Quran dan artinya serta mendalami maknanya.


Pengen sih aku mengutuk mereka tapi apa gua tega mendoakan agar orang lain merasakan akibat. Aku masih punya hati. Misalnya aku sukses terus menginjak-injak mereka? Salah juga. Niatan sukses untuk menginjak gak bakalan bernilai ibadah dan lagi kenapa harus berlaku kasar? Mereka pernah membantuku. Jadi teringat kata-kata mutiara

__ADS_1


Setitik hitam di kertas yang putih.  


Ngahhh!! Kenapa aku harus berbuat baik..


Rasa sakit ini menginginkan balasan. Dan aku tahu kalau melakukannya itu sulit.


Sebentar lagi adzan. Aku mempersiapkan diri untuk keluar melangkahkan kaki di bara api yang menyala.


Akhirnya tiba akupun keluar dan harus melangkah ke arah mereka untuk mengambil peci. Euhh..


"Nah hendak sembahyang kah?" Kata anaknya 


Muka dua.


Ekspresiku sulit sekali keluar. Pengennya marah. Tubuhku bergerak untuk mecampakkan mereka. Tak tahu lagi cara seperti apa yang harus kulakukan. Aura samar-samar dari mereka rasa khawatir akan di dengar ucapannya di telingaku. Lah? Emangnya koar-koar gunanya buat apa kalo gak didengar. Ihh.. gua dengar semuanya tak usah khawatir.


Singkat cerita. Mereka semua pulanggg. Aku bisa leluasa bikin surat lamaran kamvret. Ke sana kemari mencari bahan seperti memfoto copy dan lainnya.


Selesai. Aku memanggil tetanggaku.


"Ah Fidz, kaka Ridanya lagi istirahat" kata ibunya.


Kayaknya bohong dah. Paling sakit kepala karena mendengar keributan. Tapi aku gak ikut ribut atau membalas langsung. Eh?


Nah kan jadi merasa bersalah. Makanya hati-hati dalam bertindak.


Aku tak ingin seperti itu.


"Wah fidz tulisan tanganmu bagus" ibunya memujiku.


Buat apa? Oh ingin menenangkanku ya. Gak papa kok. Asalkan jauh dari mereka aku sudah tenang.


Apanya yang tenang. Setelah istanaku dibombardir apa yang bikin tenang. Tak tahu, pikiranku di kelilingi kegelapan. Kenapa selalu saja ketika aku mulai bangkit ingin melangkah pasti dibuat jatuh lagi. Dulu juga setelah aku berjualan baju bekas malah ditertawakan.


Apakah aku salah?..


Aku punya caraku sendiri..


Aku punya kehidupanku sendiri..


Bahkan ibuku sendiri tak pernah mengekangku. Dari dulu aku diberikan kebebasan dari ibuku tak pernah aku gunakan untuk hal yang buruk. Aku tak merokok. Aku tak berjudi. Aku tak memakai narkoba walaupun sekelilingku pernah seperti itu.


Aku belajar sendiri. Aku membangun karakterku sendiri. Aku berjuang sendiri.


Bukan untuk dibanggakan. Bukan sebagai alat. Bukan sebagai pion untuk merusak hubungan tetangga.


Dan aku takkan pernah mau mempererat hubungan dengan orang yang akan terus-terusan membuatku sakit.


Ingin sekali ku ucapkan


"Kita deal saja sampai sini, saling memaafkan dan tidak boleh berhubungan lagi"


Ingin sekali!


Supaya aku bisa leluasa bergerak melangkah.


Kesal. Aku tahu itu salah. Agama mengharuskan hubungan keluarga yang baik dan saling menjaga dari api nereka.


Ahh..

__ADS_1


Untuk sekarang aku hanya ingin pulih supaya beribadah lancar.


__ADS_2