
Mendengar kata dunia apa yang pertama kali terlintas di benak kalian?
Apakah tentang luasnya? Keindahannya? Ataukah tentang nasibnya?
Kalau aku, pertama kali yang ku pikiran merespon dari kata dunia adalah tentang luasnya. Walaupun terpikirkan demikian, sebenarnya, aku belum sepenuhnya paham arti dari kata luas itu jelasnya seperti apa. Mengangguk paham tanpa menyeledikinya.
Di perjalanan kali ini sedikit ku pahami bagaimana luasnya dunia dengan membandingkan usaha untuk melakukan perjalanan jauh. Tiap tempat dan daerah kami lewati. Bagiku yang pertama kali menyadarinya masih merasa perjalanan itu jauh dan melelahkan. Otak masih mengunduh memori tentang tempat dan segala macam hal yang telah direkam lewat indra penglihatan.
Aku bukanlah orang yang sangat teliti. Namun ada beberapa alasan yang membuatku harus memperhatikan sedetail mungkin. Salah satunya untuk menemukan..
Jawaban atas keraguan.
Aku ingin menganalisis semua tempat yang ku lihat dalam perjalanan kali ini untuk memastikan apakah ada keraguan tentang dunia yang kita tinggali ini. Maksudku cacat.
Peraturan mutlak.
Bahwa Tuhan itu Maha Segalanya.
Artinya tidak mungkin ada kecacatan pada dunia yang telah Tuhan ciptakan.
Aku perjelas lagi. Aku hanya ingin memastikannya untuk mengokohkan diri.
Mulai dari membahas manusia.
Aku pernah berpikir bagaimana cara kerja manusia yang jumlahnya berjuta-juta bahkan lebih dengan banyaknya perbedaan?
__ADS_1
Pertanyaan tersebut datang saat pertama kali aku mengetahui kalau kita, tiap orang memiliki 7 kembaran.
Kelas 1 SMA, ketika guru matematika atau wali kelas kami menduga kalau aku mirip kaka kelas yang pernah dijumpainya. Aku jadi gugup karena jadi pusat perhatian setelahnya aku tenang, aku berpikir menanggapi pertanyaannya.
Masih sekolah kah?
Tujuh kembaran? Apakah berbeda tempat? Apakah dengan hitungan aku dan enam lainnya? Kembaran fisik sajakah? Ataukah sama, kembaran menyeluruh, fisik, kepribadian, materi dan lainnya?
Pertanyaan demi pertanyaan mulai berdatangan. Otakku mulai mengolah informasi. Menghitungnya dengan informasi dari berbagai aspek kehidupan yang aku ketahui.
Memilih tiap kepingan puzzle yang saling berhubungan untuk disatukan.
Sembari menikmati hidup aku mengumpulkan informasi tiap informasi.
Dan pada waktunya saat dimana ku merasa akan mendapatkan jawabannya.
Sangat beragam.
Segala macam hal aktivitas yang kian detik, menit dan jam akan terus berubah membuat cerita masing-masing.
Aku melihat pola.
Budaya dan Teknologi...
Dari cara kita berpikir akan membentuk suatu kebiasaan yang sama dari tiap orang. Apa yang dihasilkan dari pikiran untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Puncaknya pikiran.
__ADS_1
Semakin luas.
Daerah, provinsi, negara dan seluruhnya yang ada di muka bumi.
Jika kesamaan tiap kembaran sama keseluruhannya? Maka ada pola tertentu yang akan meminimalkan pencarian keberadaan lainnya yaitu fisiknya. Asia, Barat, Timur...
Tapi apakah hanya tentang fisik saja?
Pernah ku dapati kejadian dimana seseorang menemukan kembarannya.
Ketika sekolah temen kelas si Intan dengan guru geografi. Fisiknya hampir sama bedanya adalah umurnya. Sama kayak kejadian Aulia.
Selanjutnya, anak sosmed yang mengabadikan momen dimana dia bertemu kembarannya. Wajah sama, baju sama, gaya rambut sama. Yang lain tak ku perhatiankan karena ya tak terlalu penting.
Jika ditanya apa yang seharusnya membuatku tertarik? Ya tentu saja menyeluruhnya termasuk kepribadian dan pengalaman hidup.
Mungkin arti dari kata kembaran hanya merujuk pada fisik seseorang. Misalnya terdapat banyak persamaan itupun tak seluruhnya. Sebagai contoh seseorang yang sama fisiknya juga sama memiliki kekayaan materi namun beda pengalaman.
1.1.2.3.3.4. Kembaran 1.1.3.2.3.4.
Melihat banyaknya manusia di muka bumi ini bukan tak mungkin sih adanya persamaan yang hampir menyeluruh.
Pertanyaan baru muncul.
Apakah ada limitnya? Batas dari perbedaan tiap manusia?
__ADS_1
Penyakit, ras baru, cacat, anomali dan hal lainnya.
Mungkin takkan pernah ada ya.. dan itu sangat luar biasa. Sangat terancang.