
Banyak sebagian orang yang berubah karena telah mendapatkan pengalaman berharga dalam hidupnya. Bahagia, rasa sakit, sedih, dendam dan lainnya, semua menjadi pondasi terbentuknya sosok karakter yang berbeda-beda. Tapi ada juga yang murni bawaan dari lahir. Atau.. keduanya bawaan lahir dan kumpulan pengalaman, inilah kasusku. Ya~ enggak hanya aku juga sih sebab ini umum.
Dengan sudut pandang seperti ini kita bisa melihat bagaimana orang tua berusaha membantu anaknya menjadi orang besar. Dari kecil mendapatkan pendidikan hingga dewasa sampai lepas tangan. Anaknya bisa terbang sendiri, menjalani kehidupan seorang diri. Orang tua yang sukses.
Melihat pada diriku sendiri apakah orang tuaku atau ibuku gagal mendidikku?
Jawabannya..
Benar, juga, tidak..
Kompleknya tiap orang-orang pasti memiliki masalah berbeda-beda walaupun sedikit juga adanya kesamaan.
Pada kasusku, ibuku terpaksa harus bekerja atau mencari seseorang untuk menafkahi kami karena ayahku meninggal ketika aku masih kecil. Ahh kalau flashback pasti teringat si b*ngsat, penyihir s*nting. Singkatnya ibuku mendidikku dengan cara memberikanku ruang agar bisa belajar sendiri. Namun jika ada masalah yang pelik ibuku berusaha menghentikan ku. Tapi.. aku orangnya percaya diri karena aku bodoh dan polos. Hapis.
Percaya diri disaat yakin, bodoh saat mengabaikan perkataan orang-orang dan polos berusaha menjauh dari hal yang mustahil.
Naluri dan hati.
Aku bisa merasakan yang tak bisa aku lihat dan memiliki hati menjadi orang yang bijak. Tapi kadang menyimpang karena ingin belajar. Selama ada motivasi dan keyakinan sesulit apapun situasinya Hapis takkan pernah menyerah.
>>Sorot mata yang menjanjikan keberhasilan dan auranya mengundang rasa suka pada orang-orang yang ada di sekitarnya<<
_
__ADS_1
Ibuku pulang ke rumah dan keluarga juga berdatangan. Suasana jadi rusuh, tentu saja aku tak terlalu suka. Supaya diri tetap tersadar aku lebih memilih berdiam dan tak banyak bicara. Sengaja diri terbawa suasana bisa menyebabkan diri lupa dan respon berusaha mengikuti arus agar tetap stabil. Kesenangan ibarat berenang ke dalam kolam, semakin ke tengah semakin jauh untuk kembali ke darat. Rasa lelahnya pada pikiran. Semakin lelah maka kesalahan semakin meningkat. Respon asal jawab pun terjadi. Ini yang aku takutkan.
Karna sering sekali aku mengalaminya aku pun berusaha meningkatkan kesadaranku. Kalau gak salah waktu bersekolah SMA dulu kayaknya aku sudah meningkatkan kesadaranku yang bersamaan melengkapi kemampuan Beater. Angin hanya jadi sumber tenaga api. Kekurangan Hapis dapat dilengkapi dengan kemampuan Beater.
Fungsi kesadaran hanya diri kita sendiri yang tahu.
Ibarat memakai topeng.
Mengenai topik pembicaraan ketika keluarga berkumpul gak terlalu pasti. Pertanyaannya apakah mereka akan membicarakan tentangku?
oh, kemungkinannya kecil sebab mungkin saja mereka sudah membahasnya lewat telpon.
Aku percaya dengan ibuku dan ku yakin ibuku juga percaya denganku jadi kenapa harus takut.
Merasa selalu tertekan akhirnya adikku mengadu pada ibu. Tentu saja ia mengharapkan diperlakukan baik dengan mengadu pada ibu.
Masa iya? perilaku buruk yang dimiliki adikku itu perlu didukung?
Dia tak pernah hormat denganku, menyalahkanku, apabila benda miliknya lecet saja sedikit gara-gara ku ia memarahiku.. penyayang harta, bikin enek. Di dalam dirinya itu, sifatnya itu yang ingin aku lenyapkan. Aku saja sewaktu kecil tak pernah sepertinya, yaa aku tahu itu. Sudah habis pikir bagaimana cara agar bisa merubahnya.
"fidz jangan begitu sama adik, kalau berantem terus nanti mama gelisah di sana.."
"habisnya, kelakuannya itu selalu bikin orang emosi, tak pernah hormat, tak pernah menghargai orang yang lebih tua"
__ADS_1
Siapa juga yang mau bersikap kasar kalau bukan ada yang salah padanya. Sedari dulu selalu saja bikin aku sakit hati. Yaa wajar saja darahnya itu berbeda dengan aku dan kakak.
Ibu sedikit menasehatinya.
Benar juga. Selama ini aku selalu memaksa orang-orang agar menyadari sendiri kesalahan mereka karena aku tahu jika kita sendiri yang menyadari kesalahan maka peringatan itu akan membekas dan menjadi cahaya pengingat terbaik yang akan membantumu berkembang. Akan tetapi sebagian orang ada yang tak bisa menyadari sendiri kesalahan mereka. Kenapa begitu?
Syukurnya ada ibu yang menjadi perantara agar adikku menyadari kesalahannya. Sebuah tumpukan PR yang sangat sulit. Aku juga mendapatkannya.
"fidz kamukan sudah bisa berpikir sementara adik belum.."
Nah itu cocok banget.
"baik-baiklah, nanti mama gelisah di sana"
hmm.. aku hanya terdiam, ini sulit sekali, kemungkinan aku akan melanggarnya.
Ketika sedang berkumpul di luar kaka Rida, suaminya dan anaknya datang bersilaturahmi.
Singkat saja silahturahminya dan langsung hendak ke rumah. Saat bersalam-salaman kaka Rida memegang tanganku, seharusnya bukan muhrim, aku tak sempat mengelak. Lalu kaka Rida berbicara pelan padaku.
"tunggu ya fidz nanti kaka akan usahakan supaya bisa diterima kerja"
Aduh golok golok. Ada aja orang kek gini. Sumpah emosiku naik lagi.
__ADS_1