
Pengalaman paling terburuk ku saat aku magang dulu. Memalukan sekaligus penyesalan. Pada waktu itu sepanjang bulan ramadhan aku menggunakan kekuatan ku berlebihan.
Aku ingin hasil yang terbaik, aku tidak ingin terlihat lemah, aku ingin lebih membahagiakan disekitar ku. Keluarga, tempat kerja, juga agama aku mengincar semuanya akibatnya tubuhku melewati batas, muka ku serasa bengkak, dada kiri ku sakit, kurang tidur, dan rasa kelelahan karena semuanya ditingkatkan dalam waktu singkat. Ceroboh sekali, aku terlalu tergiur untuk melakukan hal yang baik secara bersamaan.
Hasil kerja ku memang bagus dan atasan ingin memperpanjang kontrak ku tapi aku tidak sanggup lagi, rasanya sakit sekali, tiap kali jantung ku berdetak serasa ditusuk jarum, hanya rasa tanggung jawab yang membuat ku bertahan dari rasa sakit itu.
Aku memutuskan untuk berhenti, aku takkan bertahan lama. Secara terpaksa Fahmi teman magang ku menggantikan untuk perpanjangan kontrak, aku akan dibencinya selamanya, gak, tapi semua teman kerja ku. Senjata makan tuan. Kekuatan Beater ibarat pedang bermata dua, semakin lama menggunakannya semakin banyak bayaran yang harus ditebus.
__ADS_1
Keluarga ku curiga dengan ku, mungkin aku memang orang yang pemalas yang ingin bersantai di rumah, begitulah mungkin. Di lihat dari luar pun aku tau semua sifat buruk keluarga ku, jika baru bertemu pun demikian. Apa sih salah ku? bahkan ibuku tidak pernah membenci ku, tatapan itu membuatku sakit hati, tidak ada yang peduli dengan ku. Teman ku memang hanya bisa dibawa asik bukan tempat untuk menyembuh kan rasa sakit ini, jadi pilihan ku hanya mengubur rasa bersalah dan penyesalan ini. Aku ini hina sekali ya. Siapa saja tolong aku. Aku dibenci. Jika aku bunuh diri pun pasti tidak akan ada yang menangis untuk ku, jika orang itu ada dia satu-satunya adalah ibuku. Aku tidak tau lagi untuk apa aku berjuang selama ini, semuanya yang ingin ku perbaiki malah diserang balik. Aku dikucilkan sebagai balasan apa yang telah ku perbuat. Hampa.
Aku pernah berpikir untuk lepas kendali. Aku sangat marah. Tapi aku tidak punya kekuatan lagi, butuh waktu lama untuk pulih. Tenang saja aku masih bisa mengontrol emosiku. Ah lupakan.
Hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan belum berakhir. Ketika merenovasi rumah, nenekku menyewa tukang bangunan dari keluarga ku. Aku membencinya. Kenapa? soalnya dia itu suka menggosip, tua, banyak omong kosong, agama lemah dan ingin menegurku. Padahal dibayar untuk bekerja bukan untuk menegurku. Mengganggu sekali, tiap kali aku berbuat salah tatapannya seolah-olah sedang merendahkan ku. Aku sudah mulai terbiasa dan aku putuskan dalam diriku untuk tidak memaafkannya, sekali pun sampai nangis darah.
Aku masih ingat pesan teman kerja ku disana, katanya aku harus memperbaiki agama ku. Saat istirahat aku sering mengobrol dengannya, tentu saja dia sudah tua dan sudah punya anak. Emosinya stabil sekali, dia tau bagaimana cara berbicara dengan orang lain, membuatnya nyaman dijadikan tempat untuk curhat. Naluri ku mengatakan kalau dia sudah tau apa yang sedang aku sembunyikan saat itu. Sesibuknya dia masih sempat menghargai orang lain. Aku menghargainya dengan mengikuti sarannya.
__ADS_1
Kenapa aku mengungkit pengalaman buruk ku? mungkin dengan mengungkitnya dan memberitahukan ke sebagian orang dapat membuatku move on. Atau kah dengan menebusnya?
Jujur rasa bersalah dan penyesalan ini membelenggu ku. Bukan hanya dari satu pengalaman saja. Banyak pengalaman buruk yang meninggalkan rasa bersalah dan penyesalan. Akibatnya aku menjadi trauma, membuatku ragu untuk melangkah.
Kalau sudah terpuruk begini rasanya sulit sekali untuk maju, dan juga semakin banyak aku memiliki keinginan menambah kesulitan untuk menginjak langkah pertama. Kalian tahu dulu bila lulus sekolah SD, SMP aku tidak pernah berencana untuk memilih sekolah yang akan ku lanjutkan, maksudnya aku hanya mengikuti alur saja. Eskul pun juga ikut-ikutan teman.
Aku tidak memiliki motivator dalam hidupku. Bila masalah datang aku akan bersedih dan terus bersedih, bila marah akan terus marah, bila ceria akan terus ceria. Begitu saja roda kehidupan ku berputar tapi aku menikmatinya.
__ADS_1
Aku tidak berencana untuk seperti ini selamanya. Apa gunanya memperbaiki diri kalau masih punya kelemahan. Tapi yahh ini merepotkan berhadapan dengan masalah kelemahan kita, ibaratnya bertempur gak pakai pelindung cuman modal senjata doang. Takut iya gua takut. Kalau salah bakalan terpuruk lagi. Terombang-ambing lagi. Jadi ya intinya bagaimana cara aku berpikir dan bertindak dalam menghadapi masalah. Terus berputar-putar berpikir mencari solusi terbaik.