Monster Labil

Monster Labil
Serang Balik


__ADS_3

Sip aku sudah hafal wirid sebelum sholat subuh. Sengaja aku lebih cepat daripada imam di langgar agar aku sempat dan tepat waktu ke sana. Tepat sebelum iqomah. Jujur aku masih takut megang mic begitupun mau adzan dan iqomah. Melihat ke masa lalu.


Waktu di SMP kelas 7, aku yang konyol tak tau apa-apa begitu semangat pengen sholat di saf pertama. Ketika hendak waktunya aku disuruh iqomah. Padahal aku gak hafal. Dan lebih konyolnya aku mau melakukannya.


*Ajshsjakdvh


Semua menertawakanku.


Teman sekelas.


Sampai guru yang jadi imam mengumumkan pelajaran tambahan dipelajaran agama buat semua siswa harus hafal dan bisa adzan.


Sumvah aku mati rasa.


Sampai sekarang aku masih ingat guru agama itu.


Pengalaman kedua waktu di TK Al-Quran. Ahh ujung-ujung sama. Bikin nge-down.


Tapi syukurnya dulu aku konyol. Sekali main game sama teman aku bisa lupakan hal-hal buruk yang menimpaku.


Aku ceria lagi.


Aku ingin sekali menghindari hal yang bikin aku murung seharian. Ini bukan tantangan, aku trauma. Kata Daniel "masa elu gak hafal adzan?". Aku sudah hafal tapi pas mau mengucapkannya dan terbayang reaksi orang-orang kepalaku jadi pusing, jantung berdetak kencang, gemetar dan berkeringat dingin. Apa benar aku telah trauma?..


Aku tahu tak selamanya aku harus seperti ini. Kasian bapaknya Parid, sudah adzan, wirid an dan jadi imam. Kuat banget beda denganku yang cepat bosan.

__ADS_1


Aku harus menemukan solusinya. Bagaimana caranya keluar dari trauma?..


Perlahan saja tak usah buru-buru.


Esoknya..


Sengaja aku datang lebih awal setelah imam adzan. Selesai sholat sunnah sebelum subuh yang pahalanya sangat besar jauh lebih besar dibandingkan dunia ini  aku bilang ke bapaknya Parid biar aku saja yang baca wiridnya.


Mu-mungkinkahh!! kau!!!


*Aku mengangguk


Yaa~ serahkan saja padaku..


*ehem cek sound, oyeah baby..


Serius eyy..


Yap aku berusaha menyesuaikan suaraku agar terdengar walaupun tubuh berasa ingin pergi dan menyerah. Ini langkah awal terbaik saat ini agar aku bisa menyesuaikan diri.


*bapaknya Parid meninggalkanku ke luar menuju rumahnya yang lima langkah saja dari sini.


Dalam hatiku senang.


Uwwahhh emang pengertian banget, ia tahu kalau aku perlu menyesuaikan keadaan sekitar makanya ia pergi. Tak ada orang di sini, nah dengan begini aku bisa fokus.

__ADS_1


Baiklah akan aku coba cara itu!!!


Untuk menghilangkan gugup aku perlu mengendalikan tubuhku.


Zetsu!


*nahan napas, melemaskan diri dan-


*huft! huah!


Oy oy oy kalau gitu caranya aku akan kesulitan bernapas.


Suaraku jadi kacau karena kurang bernapas.


Catat dulu. Bagian tahan napasnya aku rework nanti.


Wirid selesai begitu juga doanya.


Ahh aku merasa lebih lega.


Aku mendapatkan pelajaran kalau bisa keluar dari trauma aku perlu langkah kecil untuk bisa memulainya, melawan rasa takut. Dan juga pelajaran berharga kalau aku tak perlu pengalaman bertubi-tubi untuk bisa melakukannya, aku hanya perlu mengetahui selak-beluknya, memahaminya, menyatukan diri dengan sekitar dan melakukannya sesuai cara terbaik yang aku tahu.


Setelah itu perlahan aku sudah terlepas dari traumaku. 


Langsung saja ku jadikan kebiasaan. Setidaknya ini bisa meringankan beban bapaknya Parid.. -eh tunggu kalau gitu mah salah niat nanti, tujuan untuk beribadah bukan meringankan beban. Aku camkan itu dalam lubuk hati.

__ADS_1


__ADS_2