Monster Labil

Monster Labil
Kecelakaan


__ADS_3

Sekarang aku tinggal bertiga saja di rumah. Aku, adikku dan nenek. Setiap ada sesuatu pastinya hanya aku yang bisa diandalkan, contohnya urusan belanja. Bulan puasa ini kami lebih sering belanja makanan karena nenekku gak bisa masak banyak dalam waktu singkat. Ah~ maaf aku gak bisa masak, tapi kalau aku mau belajar serius pasti bisa kok. Masalahnya hanya butuh ruang saja, aku tak butuh komentar orang, siapapun dia.


_


Sore hari setelah belanja di pasar ramadhan aku sempat singgah untuk beli es kelapa. Tiba-tiba terdengar suara keras di dekat kantor pos.


Kecelakaan? tanya ku sendiri.


"bu saya titip makanan saya di sini dulu ya? kayaknya di sana ada kecelakaan"


"oh iya iya, ya ampun"


Bergegas aku lari ke sana. Seperti yang di duga, dua pengendara sepeda motor telah tabrakan. Orang tua dan satunya lagi mungkin seumuran kakakku. Kok bisa sampai tabrakan padahal jalannya ini cukup lebar. Pastinya karena lengah.


Aku melihat orang tua itu merangkak perlahan ke tepi jalan. Sebelum aku menolongnya orang tua itu tiba-tiba saja muntah darah. Banyak sekali darah yang dimuntahkannya. Aku terdiam menganalisa kerusakan tubuhnya. Sedikit mual melihat pemandangan seperti ini pertama kalinya.


Sadarlah! tolong dia!


Tapi bagaimana?

__ADS_1


Orang tua itu bergerak lagi perlahan dan duduk.


Ahhh.. Tak banyak orang yang datang menolong. Sementara yang satunya lagi duduk bersandar di pagar halaman kantor pos. Mengekspresikan rasa sakit. Pura-pura? kalau begitu lebih baik abaikan saja. Pokoknya orang tua itu yang harus ditolong lebih dulu.


Tapi bagaimana!? orang lain sibuk berdiskusi mencari kenalan atau adakah seseorang yang punya mobil agar bisa membawa korban ke rumah sakit.


Kenapa harus nunggu mobil!?


Aku pun lari mengambil kendaraan dan balik lagi ke tkp lalu menghampiri korban untuk membujuknya ke rumah sakit dengan naik kendaraan ku. Tapi dia menolaknya.


Aku tahu pasti rasanya sakit banget naik sepeda motor tapi keadaannya mengkhawatirkan. Tolong jangan mati.


Tak ada yang bisa aku lakukan. Bapak itu hanya duduk saja mempertahankan posisi duduk. Mungkin benturan keras pada perut yang membuatnya muntah darah. Tak ada yang bisa aku lakukan. Seandainya ada kemampuan penyembuhan seperti yang diharapkan.


Mobil lewat!


Kami minta agar singgah dan membantu korban tapi sayangnya dia acuh. Gila, bulan puasa ada saja orang yang seperti itu. Bagaimana jika diri sendiri yang jadi korban, haruskah kami membantu?


Harapan datang..

__ADS_1


Bus perusahaan lewat dan mau menyinggahi korban. Alhamdulillah.


Tapi aku gak berani mengangkat korban ke dalam bus karena dari sini saja aku sudah merasakan sakitnya dia. Hal itu membuatku lemas.


Para supir truk yang kebetulan lewat membantu mengangkat korban dan menemani ke rumah sakit. Supir truk yang lain bersama warga berkumpul menginterogasi korban yang satunya. Sudah bisa berdiri rupanya.


Aku dan beberapa orang membersihkan tempat kejadian. Kendaraan si bapak tadi rusak parah. Padahal katanya si bapak baru saja pulang dari pasar. Aku mengambil makanan batagor bapak tadi dan ku letakkan dekat kendaraannya. Sungguh berat sekali ujian si bapak.


Aku diminta untuk membersihkan darah korban di tepi jalan tadi oleh warga. Aku penuhi permintaan.


Darahnya sudah membeku aku perlu sikat untuk membersihkannya. Di seberang jalan ada warung yang buka, di situ aku minta air dan sikat. Tapi pemilik warung justru meminjamkan sapunya untukku. Dari pada pakai sikat mending pakai sapu saja katanya.


"gak papa nih kalau kotor?"


"iya gak papa"


Selesai membersihkannya aku rasa tidak ada lagi yang harus ku lakukan, sebaiknya aku pulang. Sudah senja. Tak lupa dengan belanjaanku aku kembali mengambilnya. Uhh.. perutku masih mual.


Aku pulang ke rumah dan mengganti celanaku kalau saja ada darah yang masih nempel dan luput dari ketelitianku.

__ADS_1


Mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru telah meningkatkan inspirasiku untuk bertindak lebih teliti lagi.


Pembaharuan karakter semakin meningkat..


__ADS_2