
Bagian 7. Cinta Sejati
"paman ubinya 2 kilo berapa?"
"15 ribu kalo 2 kilo"
"oke nih paman ubinya"
Paman penjual ubi ini sangat teliti memperhatikan berat timbangannya agar pas 2 kilo. Sangat teliti. Ubi ukuran besar yang lain kalau digabungkan malah melebihi 2 kilo. Sisa yang 2 ini saja lagi yang hampir pas timbangannya 2 kilo.
"ah paman gak papa, kurang sedikit saya ikhlaskan kok" aku juga ingin menghemat waktu
"ah makasih banyak, kalau gak ikhlas bakalan repot nanti haha"
Wah pamannya sangat adil dalam berjual beli. Auranya baik.
"hehe gak papa kan cuman sedikit, tukar paman!"
Sosok seperti paman ini yang selalu bikin aku kagum. Penampilan sederhana, diajak bicara enak, sopan dan ilmu berdangangnya bagus.
*uhhhh teriak dalam hati 😆
Aku merinding semangat!
Semoga rezeki paman lancar!
Banyaknya pengalaman tentang kepribadian yang telah aku alami membuka pandangan baru untukku melihat sebuah kebenaran. Kemampuan observasi Beater awalnya aku gunakan untuk melihat keburukan orang-orang. Dengan melihat sisi buruk mereka dapat meningkatkan peluangku untuk bertahan dari seseorang yang memiliki niatan jahat. Ya~ alasan bangkitnya sang Beater kan dari lemahnya kekuatan dan pertahanan. Namun setelah melewati proses panjang perbaikan diri kegunaan dari kemampuan-kemampuan karakter labil telah dapat digunakan untuk hal yang positif, untuk sendiri ataupun orang terdekatku. Kuncinya hanya jangan terbawa emosi saja. Oleh karena itu kemampuan Zheill untuk berpikir jernih dan ketenangan hati adalah inti dari semuanya. Mendukung karakter lain dari balik layar.
Jika Beater dapat melihat sifat buruk seseorang begitu juga sebaliknya, aku bisa melihat sifat baik mereka.
Seseorang yang melakukan tindakan baik sangatlah keren bagiku. Mataku terfokus kepada mereka. Mereka bersinar. Walaupun nilai tindakan baik mereka tidaklah besar tapi di sana di dalam hati mereka terdapat sebuah ketulusan.
Ketika di pasar di tengah keramain aku berpas-pasan dengan seorang wanita yang berjalan lumayan cepat mendahuluiku. Aku abaikan saja dia, mungkin dia sedang terburu-buru. Namun mataku terfokus lagi padanya saat dia mencoba memberi sedikit rezeki untuk seorang pengemis cuman cara dia memberikan uangnya cukup unik. Beater tersenyum kecil. Dengan langkah yang masih cepat dan pandangan lurus ke depan dia mendekat sangat dekat ke pengemis itu kemudian memberikan uangnya dari tangan kirinya tapi karena terlalu terburu-buru uangnya jadi jatuh meleset dari tangan si pengemis sontak saja si wanita tadi refleks mengambil dan memberikannya lagi dengan cara biasa. Niat dia memberi dengan cara seperti itu tentu saja agar tidak terlihat oleh orang lain.
Itu kasus seseorang yang sudah paham untuk menyembunyikan niatan baik mereka. Ketulusannya bercampur dengan sebuah keyakinan. Caranya saja yang membuat aku suka. Aku tidak bisa memastikan apa dia benar-benar tulus atau tidak, auranya samar-samar, ya~ soalnya dia mencoba untuk menyembunyikan niatnya sih. Seandainya aku bisa melihat reaksi wajahnya mungkin aku bisa tahu.
Kemampuan pengamatan Beater juga ku gunakan untuk pertahanan. Telah banyak kasus yang aku alami saat seseorang memiliki niatan yang cukup merepotkan. Misalnya di dekati oleh cewek caper(cari perhatian). Saat aku menunggu minuman pesananku aku berdiri menunggu di dekat kerumunan cewek, salah seorang dari mereka banyak tingkah. Tebar pesona dan mencoba mendekatiku. Sayangnya gelembung love love nya gak mempan dengan pendirian Beater. Alasan bercanda dengan temannya dia cari kesempatan ntuk mendekatiku tapi aku sudah waspada sejak awal, aku menjauh darinya dan mendekati paman penjual minuman.
__ADS_1
Ha! skakmat! kalau masih mau mendekat lagi emang keterlaluan.
Cewek sepertinya yang suka cari perhatian adalah yang paling aku benci dari salah satu sifat wanita. Kenapa? karena inginnya diperhatikan berawal dari hawa nafsu.
Ibaratnya permen yang tidak berbungkus pasti akan di dekati oleh semut-semut. Bukanlah tulus sebuah cinta melainkan satu keinginan kecil yang berdampak besar untuk dianggap semua orang. Biarpun semua pria di dunia ini telah menganggapnya keinginan tersebut tetap akan berkembang seperti penyakit tumor, belum puas.
Aku tahu karena aku pernah mengalaminya.
Aku duduk di bangku menghadap kelas sementara Aulia duduk di sebrang. Kalau tidak ada kelas aku sering duduk di luar menghirup udara segar, di dalam kelas pengap. Tak ada angin tak ada hujan seseorang dari belakang memanggilku lalu bilang I love U
HEH!? tentu saja aku kaget. Aku sempat terbata-bata mau ngomong apa. Tapikan aku sedang suka dengan Aulia. Aku melihat ke arah Aulia untuk memastikan apa reaksinya dan keputusannya. Tidak ada reaksi! Ah dia terlalu fokus dengan laptopnya. Ini canggung. Aku pun lari masuk ke dalam kelas.
Kenapa aku lari? dia yang menyatakan suka denganku adalah teman kelas ku dulu dari kelas X-1.
Masa cuman karena itu aku lari? tentu saja bukan. Dari cara dia menyatakan perasaan tidaklah benar-benar tulus. Aku justru menangkap perasaan kalau dia hanya akan bermain-main denganku. Kabar burung yang tak sengaja aku dengar menjadi alasan kuat atas tindakanku. Aku juga akan bermain-main dengannya.
Seseorang yang memiliki perasaan tulus tidak akan menyatakan perasaannya dari sebrang gedung sekolah. Yang tulus akan mengambil tindakan tegas dan pastinya aura kasmarannya bisa dirasakan.
Meskipun dia menyatakannya perasaannya dengan cara yang benar aku tetap akan menolaknya. Bukan salahnya kok, aku juga pernah melakukan hal yang seperti itu dulu. Itu wajar saja.
Rasa suka yang lebih..
Apakah rasa suka itu datang dari sebuah ketulusan?
Dengan mengaktifkan sudut pandang yang baru ini aku dapat melihat warna warninya berbagai macam hal. Begitu banyak. Aku tidak menangkap semuanya. Semakin luas pandangan semakin buram penglihatanku. Aku ingin menangkap semua objek yang aku lihat dan mempelajarinya tanpa melewatkan bagian yang penting. Tapi namanya manusia selalu memiliki batasannya. Itu artinya aku harus lebih selektif memilih buah-buah pelajaran untuk dipelajari.
Belajar untuk mengartikan apa itu cinta. Cinta sejati yang tulus. Rasanya seperti minum susu stroberi.
Dalam agama islam terdapat cara untuk memilih pasangan hidup. Bukan dengan cara bermaksiat seperti pacaran. Berpacaran yang islami? konyol sekali sangat tidak logis. Yang namanya pacaran itu maksiat. Bersentuhan saja dilarang apalagi sampai peluk-pelukan.
Dalam benakku aku telah mendapatkan jawaban terbaik untuk mendapatkan pasangan hidup yang tentunya setia.
Pertama, yakin pasangan yang baik jodohnya pasti pasangan yang baik pula. Itu mutlak. Aku sudah sering melihatnya. Seseorang yang telah mantap akhlak dan ilmunya akan memancarkan aura yang bagus. Seseorang yabg telag bagus perbaikan dirinya memiliki banyak kertas memo di otaknya haha.
Pasangan yang kita inginkan pasti dan selalu yang baik akhlak, ilmu dan parasnya. Tanyakan saja pada preman seperti apa pasangan yang dia harapkan pasti jawabannya sama. Yang baik. Berarti si preman tersebut masih memiliki keinginan untuk berubah. Bila preman tadi mendapat pasangan yang sholehah itu artinya si preman punya harapan untuk berubah 180 derajat. Selalu menarik untuk dipelajari rumitnya jalan cerita kehidupan.
Kedua, dipertemukan dengan cara masing-masing. Aku selalu penasaran bagaimana aku akan dipertemukan dengan pasanganku nanti mengingat aku ini selalu waspada dengan keadaan sekitar.
__ADS_1
Apakah dipertemukan dengan berdasarkan akhlak? ilmu? atau hal lainnya? sesuai bagus atau tidaknya kepribadian seseorang.
Si preman tadi tau kalau dia wanita sholehah makanya dia tidak mau menyakitinya ataupun mendekatinya. Rupanya tindakannya telah menarik perhatian si wanita sholehah itu. Sifat baik dibalik sangarnya penampilan.
*gehh so sweet >_<
Ketiga, saling melihat kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kalimat yang tak asing yang sering kita dengar bahwa pasangan hidup itu adalah penyempurna kekurangan kita. Kau adalah belahan jiwa ku! ea
Keempat, mengambil tindakan tegas. Memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan cinta dengan benar dan sesuai agama. Bukan dengan memegang tangannya aau menciumnya. Itu parah sekali.
Itulah kenapa akau selalu ragu untuk bertindak berani dalam menyatakan perasaan. Bukan berpegang tangan, bukan menatapnya, bukan menciumnya atau memeluknya. Rantai aturan agama berguna untuk diri sendiri dan sekitarnya. Menjaga kita dari sifat primitif. Kalau kau menghancurkannya selanjutnya bisa dibayangkan sendiri.
Itu bukan momen romantis karena belum halal. Makanya nikah dulu lalu pacaran. Itu baru romantis.
Benang merah. Sebutan sederhananya.
Terakhir, pasangan setia. Saling mengerti. Saling mengingatkan. Saling menghargai. Saling terbuka. WOW!
Apakah ada pasangan yang seperti itu? tentu ada! itulah wujud dari cinta sejati!
Arti dari cinta sejati bukanlah tentang alasan, kesukaan atau tipe tapi tentang akhlak dan ilmu. Yang berakhlak pasti berhati-hati dan yang berilmu pasti mengerti apa yang harus dilakukannya.
Untuk apa kita memilih pasangan hidup? benar! untuk apa? untuk apa pacaran?
Apakah hanya karena suatu alasan?
Apakah hanya karena suka?
Apakah hanya karena dia tipemu?
Apakah hamya karena dia begini dan begitu?
Itu saja? lalu selanjutnya apa?
Incarlah yang lebih jauh!
Sebagai pasangan dunia akhirat
__ADS_1