
Tiap jumat pagi aku selalu pergi ke pasar membeli kebutuhan di dapur. Di rumah yang tinggal hanya aku, nenek ku dan adik ku saja lagi. Kakak ku sudah kawin dan tinggal di rumah asli kami yang awalnya dijadikan rumah kontrakkan. Yah sudah lama sih walaupun kakak ku ada di rumah peran ku masih sama seperti sekarang. Pagi jumat ini terasa berat karena tubuhku masih menyesuaikan jam biologis baru. Sebab aku pulang ke rumah jam 12 malam lalu sholat isya. Berat tapi harus ku paksa.
Hari ini Yahya balik ke tempatnya kuliah lagi kah.. kasian sekali aku teman-teman dari group "agen tahu bulat" sudah balik kuliah semua, padahal kemarin asyik-asyik main dota sama Yahya udah win 6 kali berturut-turut. Aku rindu. Tapi yah mau bagaimana lagi harus berkorban.
Di pasar Jangkung ini aku sudah terbiasa belanja bahan- bahan makanan. Sudah terbiasa dalam artian dikenali oleh banyak orang, memang malu sih ada anak muda yang beli bahan makanan ke pasar tiap minggu pula dan tidak kuliah, terbiasa mendengar kritikan orang-orang yah~ walaupun hanya perasaan ku saja sih mendengar suara itu. Mungkin itu sebabnya ada doa masuk pasar supaya dilindungi oleh berbagai hal negatif. Jangan tanya aku belum mengamalkannya😑.
Di pasar atau diperjalanan kadang aku berpas-pasan dengan istrinya ushu ku. Aku ingin memberi senyum tapi dicampakkan. Pernah ku bilang kan mode Beater itu ibarat pedang bermata dua. Ushu dan istrinya mencampakkan ku mungkin saja istrinya sudah bercerita kebiasaan buruk ku ke keluarga yang lain yang tinggal dekat rumah asli ku. Jadinya keluarga yang di sana menatap ku dengan pandangan berbeda. Aku masuk ke karakter Beater untuk menanggapi target karena mereka tak menyadari kalau aku pernah disakiti dengan kebiasaan buruk mereka. Mental ku ini lemah dan sangat sensitif dengan perubahan perilaku seseorang yang ku kenal. Makanya perbedaan sekecil apapun bisa ku sadari.
Oh iya pandangan ku bisa melebar 160 derajat jadi aku bisa memperhatikan banyak gerakan maksimal 7 titik sekaligus. Di tambah pengetahuan tentang kepribadian membuat ku sangaaatttt mudah mencari kesalahan orang lain. Iya sangat teramat. Cobaan terumit untuk seorang pemikir seperti ku. Pilih diam atau cari solusi diantara bisikan setan. Sedikit emosi dapat menjerumuskan pikiran ku ke hal negatif. Diam memang bagus tapi mencari tahu lalu mengambil langkah positif jauh lebih bagus agar pikiran terbiasa berpikir baik. Tidak boleh suudzon tepatnya. Menyikapi hal ini adalah wajar, dampak negatif dari Beater. Menghindari diri dari cobaan yang tidak bisa diselesaikan. Tidak juga, seharusnya yang hidup jauh lebih lama pasti paham apa yang di alami pemuda sekarang ini, yaitu kondisi labil untuk memilih tujuannya. Ah aku mulai berpikir kesana lagi, bisa saja ushu ku tidak mengambil kepingan ini untuk dijadikan pandangan dasar menyikapi anak muda. Ingat fidz yang memahami itu adalah kamu lalu yang bertindak juga kamu.
Merepotkan~😑.
Hari ini aku memakai kendaraan sendiri agar lebih cepat pergi sholat. Aku merasa gak enak tiap kali memasuki cafe ini. Entahlah rasanya samar-samar aku belum bisa memastikan, aku harap bukan hal yang besar, hal yang besar? apa aku akan memecahkan piring? atau cangkir? uwah a-atau meledakkan cafe!?? ahh aku harus sangat berhati-hati.
"hei Mel sudah sembuhkah?"
"lumayan kak"
Memanaskan bumbu ayam dan juga membuatnya tugas pertama hari ini. Sedikit bantu-bantu Meli memotong wortel. Dia memotongnya dengan cepat layaknya koki handal. Katanya dia sudah belajar memasak saat berumur 8 tahun. Dan juga menasehati ku kalau cari istri orang jawa saja soalnya pandai masak. Hoh! entah kenapa kurang pas dengan usulannya, kurang sreekk gitu mungkin cara pandangan kita yang berbeda.
"gantian Mel aku yang belajar motong"
Meli meng-iyakan mau ku. Aku memotongnya sangat pelan, kadang pisaunya terpeleset potongannya jadi melengkung. Dilihat mudah tapi pas mencoba rasanya lumayan sulit tangan ku masih kaku. Hanya masalah jumlah pengalaman akan terbiasa seperti Meli.
"Kak cobain dong bumbu ayam blackpapernya"
__ADS_1
Aku mencicipi sedikit dengan sendok kecil tapi masih panas.
"ahaha kaka ditiup dulu lah"
"hmm enak kok"
"heh serius?" terdiam
Yahh aku gak tau harus jawab apa soalnya baru kali ini aku mencobain bumbu ayam ini jadi takaran rasa standarnya gak tau.
"baru dua orang termasuk kaka yang bilang masakkan ku enak"
Soalnya aku menghargai apalagi ada yang sampai memasak untuk ku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malamnya pelanggan mulai meningkat daripada semalam. Aku jadi ikut panik. Oh iya saat ini aku belum memakai satupun karakter ku. Masih belum saatnya. Aku masih menyesuaikan keadaan. Uh kepala ku sakit. Banyak hal yang ku pelajari tentang memasak di sini. Aku telah bisa memasak Kentang Goreng, Tahu Crispy dan Pisang Keju.
Yey! tepuk tangan buat gua 😂. Naik level jadi koki kelas teri.
Dalam dua hari ini hanya itu yang bisa ku buat sisanya menjadi helper, bantu-bantu dalam hal lainnya kecuali mengantar pesanan ke meja. Aku gak punya tenaga sebanyak itu tiap kali aku harus berbaur dengan orang-orang aura ku akan menyesuaikan dengan aura mereka. Mungkin ke sisi introver. Mau tahu bagaimana ukuran tenaga yang ku pakai? sama halnya dengan lari dengan tanaga penuh dalam 10 detik. Yang lelah bukan fisik tapi DJIWAA. Saat membaur pikiran ku akan mengubah pola kebiasaan agar tak lain supaya mereka gak kecewa. Iya aku masih ingin jadi orang baik untuk itu aku hidup. Rintangan yang kita lalui memang menuntun kita agar jadi menjadi orang yang baik. Sejauh mana pun kamu jatuh masih ada harapan untuk kembali. Ikuti cahaya kecil itu perlahan, jangan terburu-buru untuk berlari. Kalau dalam kasus ku cahayanya itu sudah berdampingan dengan ku hanya saja cahaya itu ada yang menjaganya, siapa? dia adalah sisi gelap ku. Sudah berkali-kali aku bonyok setelah melawannya.
*gehhhh
Kembali ke cerita.
__ADS_1
Hari sabtu! dan malam ini adalah malam minggu. Malamnya anak remaja yang lagi kasmaran. Aku jadi cemas. Aku harus fokus dan memperhatikan se detail nya. Jangan terbawa suasana. Tapi hari ini Diyan dan Herry sedang tidak enak badan. Saat ku tanya Herry dia baik-baik saja, dia masih bisa bertahan walaupun sedang tidak enak badan. Aku juga tidak bisa menggantikannya karena aku fokus bagian dapur. Pemilik cafe ikut membantu begitu juga ibunya pemilik cafe. Sumpah banyak pelanggan aku jadi panik. Tapi aku disuruh fokus bagian pesanan kentang goreng dan tahu crispy. Masa iya aku tidak ingin sesantai ini menunggu pesanan datang. Aku ikut membantu Meli yang bolak-balik membuat pesanan. Dia sangat fokus dan bicara seperlunya saja. Aku merasakan aura keseriusan. Aku membantu membuat piscor dan roti panggang. Aku membuat kesalahan pertama saat memecahkan telur, ah ya ampun ritme ku tambah rusak saat melakukan kesalahan kedua dan seterusnya. Pemilik cafe menegur ku. Ah sial aku jadi blank.
Ketika pelanggan berkurang Meli menyemangati ku, dia bilang ini bukan salah kaka karena baru tiga hari kerja di sini dan juga barunya pengalaman memasak. Katanya lagi aku masih bisa serius daripada ini. Aku mulai tenggelam dalam rasa bersalah. Semangat Meli memang memberiku sedikit tenaga. Keraguan menjadi-jadi dalam hati ku. Aku menepisnya dengan fakta ini hanya soal waktu dan tenanglah. Aku masih belum menunjukkan kemampuan ku.
"Mel kalau aku berhenti gak papa kan?"
"gak papa kok, kalau kaka gak hadir langsung diganti"
Aku mengungkapkan keraguan dalam diri ku ke Meli, saat ini memang hanya dia yang bisa di ajak bicara. Pelanggan berkurang. Inginnya aku melihat jam hp kenapa? apa aku merasa gak enak dengan kesalahan ku. Suasana berubah jadi hening. Yang lain merasa kelelahan termasuk Herry dan Diyan. Aku sih masih ada kekuatan Beater. Aku melihat jam sudah pukul 11, sebentar lagi. Sebaiknya aku menyuci piring dan lain-lain.
Seandainya aku bisa lebih fokus tadi tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk fokus. Padahal bagian ku hanya menggoreng kentang dan tahu crispy malah jadi ikut-ikutan bikin nasi goreng. Aku terbawa emosi untuk melakukan yang seharusnya tak kulakukan. Jadi gak enak dengan yang lain. Diriku merasa sangat kikuk setelah banyaknya melakukan kesalahan. Ini kelemahan ku makanya ada karakter lain untuk menutupi tiap kekurangan terbesar ku namun aku tidak memakainya. Entah terlalu banyak pelajaran untuk hari ini, tidak ada waktu untuk memikirkannya aku mesti fokus menyuci. Pemilik cafe lewat aku langsung reflek menanyakan untuk meminta izin berhenti. Sial lagi-lagi aku mudah menyerah. Jawaban pemilik cafe lebih mengejutkan ku.
"ibu gak minta kamu berhenti loh ya?"
"saya tahu diri kok bu haha" sambil tersenyum maksa
Rasanya memang diberi lampu hijau untuk berhenti setelah melihat kesalahan yang ku perbuat. Aku sangat merasa lega. Ya entah kenapa semua beban di pundak terangkat semua. Jauh dalamnya aku berpikir saat ini memang lebih baik berhenti. Misalkan aku tak berhenti berapa banyak waktu yang diperlukan agar bisa mahir memasak. Dua hari saja mustahil terkecuali memang sudah bisa memasak. Mungkin ini akibatnya kurang niat kerja. Aku harus pamitan dengan yang lainnya dengan sopan.
Dinginnya angin malam berserta suara protes dari perut.
"you're nothing iya you're nothing.. apanya yang berbakat hah!" Ah aku mulai stres. Cari makan dulu ah.
Kalau melihat hasilnya sih untungnya 40% mungkin. Rugi paling besar menurut ku adalah kesempatan puasa 6 hari setelah bulan ramadhan hilang pas hari kamis kemarin, aku pikir hari terakhir bulan Syawal masih bisa puasa dan rupanya aku salah perhitungan, aku menyia-nyiakan kesempatan itu. Untungnya aku lebih percaya diri dan beberapa kelemahan ku sedikit teratasi, hanya butuh puluhan pengalaman saja lagi untuk sampai menyempurnakan karakter ku. Sampai sini saja kah aku berjuang. Aku tak ingin merugikan lebih banyak lagi 😑.
Tetap tenang, kegagalan memang menyakitkan, aku sudah tahu itu. Baiklah isi perut dulu.
__ADS_1