Monster Labil

Monster Labil
Monster dan Mengantuk


__ADS_3

Kucingku menangkap seekor tokek dan membawanya ke dalam rumah. Aku menyuruh adikku untuk membuang tokek itu tapi dia selalu saja bikin kesal. Adikku tidak mau merampasnya. Penakut dan tidak mau tangannya kotor alasan yang paling aku benci. Kalau aku yang minta tolong gak pernah didengarkan. Aku marah, tentu saja aku marah. Yang awalnya bersikap lembut terhadap binatang kini menjadi sosok yang menakutkan. Dengan kasarnya aku menangkap kucingku agar tidak kabur. Kutarik kakinya lalu ku tangkap tokek di mulutnya memakai kantong plastik. Kucingku tetap tidak mau melepaskannya. Semakin dalam. Semakin jadi. Aku tarik ke atas tokek di mulutnya sehingga membuat kucingku tergantung. Biar gravitasi yang menyelesaikannya. Sudah tak sanggup rahang kucingku bertahan akhirnya terlepas juga.


Eh rupanya bukan kucingku yang mengalah tetapi tubuh tokeknya yang terbelah. Aku merasakan kalau tokek ini masih bergerak padahal tubuhnya sudah terbagi dua.


Hmm.. cepatlah mati sana aku benci cicak.


Ah sial lagi-lagi aku melakukannya. Aku tersadar kembali. Uh.. lagi-lagi setan berhasil membuatku marah dan mengontrol diriku. Aku minta maaf pada kucingku atas perbuatanku yang kasar tadi. Mungkin aku sedang kelelahan makanya mudah marah.


Sulit sekali mengendalikan amarah. Dada serasa terbakar, menjalar ke anggota tubuh lainnya. Tubuh hanya mengikuti cara yang terlintas dipikiran untuk menyelesaikan permasalahan, secepatnya. Ini tidak baik. Aku harus mengendalikan amarahku. Permasalahan yang menguji kesabaran. Misalkan semua karakterku tidak bisa mengontrol kemampuannya itu hanya akan membuatku tambah kesusahan.


Kekuatan yang tidak bisa dikendalikan dari ketiga karakterku Beater, Zheill dan Hapis.


Kalian kira karakter Hapis tidak memiliki kekuatan? kalian salah. Kekuatannya yang bisa mengubah perilaku orang lain di sekitarnya sesuai sifatnya. Dia baik orang di sekitarnya juga akan baik. Kalau dia buruk lingkungannya juga akan buruk.


Pada dasarnya kemampuan untuk menyesuaikan lingkungan. Kunci utamanya terletak pada pikirannya. Naluri yang tajam untuk melihat celah kelemahan dan itu dilakukannya tanpa disadari.


Apakah hanya sampai disitu? tidak.


Bayangkan bagaimana kalau bukan dia yang mengontrol dirinya?


Bayangkan bagaimana jika semua kemampuan karakternya digunakan untuk hal yang buruk?


...


Kalian akan melihat sisi monster yang sesungguhnya..

__ADS_1


Pada tahap akhir dari pembentukan karakter ialah memilih untuk berjalan di jalan yang baik atau buruk. Itu ujian yang cukup merepotkan. Ataukah.. ujian itu sudah terjadi tanpa kita sadari. Hmm.. artinya kita tidak boleh lengah pada tiap cobaan yang sedang menghadang kita karena semua orang bisa jatuh pada anak tangga terakhirnya.


Tidak ada gunanya untuk mencari tahu dimanakah ujian terakhir akan muncul sebab ujian akan selalu datang dimana kewaspadaan kita sedang turun atau dalam keadaan lengah. Jadi sebaiknya kemampuan untuk berpikir jernih harus ditingkatkan terlebih dahulu.


Semua keputusan berada ditangan kita...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mengantuk


Gila ngantuk level maksimal. Sulit sekali untuk memfokuskan pikiran. Sayup sudah mata ini. Kalau begini bakalan sama kayak minggu kemarin ketiduran ketika mendengarkan ceramah. Minuman kopi dingin ini juga gak ngaruh banget. Sesekali saja efek segarnya habis itu hilang. Hmm. Terlintas di benakku cara untuk melawan rasa ngantuk ini. Bergegas aku mengambil hp di dalam tas sling ku. Kemudian aku membuka aplikasi game. Sudah lama aku melatih fokusku agar bisa bekerja secara maksimal dan membuat variasinya.


Contohnya fokus versi pertamaku "Fokus Palsu" yang melibatkan 2 hal. Kebanyakan orang lain tak menyadarinya kalau fokus palsu bisa digunakan secara maksimal. Cara kerjanya sama seperti ketika kita sedang berbicara pada orang di hadapan kita namun pikiran justru memikirkan yang lain tentang dia. Singkatnya seperti bertingkah baik diluar, bertingkah jahat didalam. Bedanya? aku mengubahnya jauh lebih efektif didalam daripada diluar. Perbandingan 3:7 tapi karena adanya hambatan menjadi 2:5 ini lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Terpaksa aku harus matikan radar pertahananku.


Lalu apa hubungan dengan game?


Haha pegel cuy


Tapi ya aku memang suka main game. Apalagi bermain game yang kita suka pastilah senang. Nah makanya Fake Focus-nya aku sasarkan pada game yang aku mainkan. Uwahaha beneran melek dan aku bisa fokus. Game Infinitode bisa dimainkan secara otomatis itu menguntungkanku untuk tidak berpikir banyak. Apabila ada kata-kata yang sulit ku cerna aku akan berhenti bermain game dan memfokuskan berpikir. Sebentar saja aku berfokus kalau kelamaan bisa-bisa terjungkir.


Aku melihat di dekat tas sling ku ada seekor ulat berwarna kuning. Wah aku harus hati-hati kalau sampai terinjak atau tertindih kaki ku. Aku menghalangi pergerakan dengan tas sling ku. Eh kayaknya bukan ulat. Aku mendekatkan wajahku agar melihat secara jelas. Belatung!


Kok bisa hidup di karpet gede ini? mungkinkah ada hewan yang mati di dekat karpet ini sehingga belatung ini kesasar. Tapi saat karpet ini digulung pastilah tinggi kemungkinan belatung ini mati terlindas. Uh ribet. Sebaiknya aku abaikan saja asal mulanya.


Belatungnya lolos dan mendekatiku.

__ADS_1


Ah


Aku mengambil secara perlahan belatungnya dan meletakkannya di atas tas ku. Dia makhluk hidup juga pantas merasakan anugerah hidup. Kalau aku masih mampu untuk menolongnya kenapa enggak?


Etdah! belatungnya masuk ke dalam tas, aku lupa menutupnya pas mengambil hp tadi.


uah..


Aku mengeluarkan satu persatu isi di dalam tasku. Perlahan dan pasti sabab tubuh si belatung yang lunak itu terlalu mudah membuatnya terbunuh. Sudah semua isi dalam tas ku ku keluarkan namun si belatung tidak ku temukan.


Oii.. where are you?


apakah terselip di antara kertas sim ku? tidak ada.. atau di sudut-sudut tas? uh gelap..


Aku menyalakan lampu hp ku dan akhirnya aku menemukannya. Syukurlah si belatung tidak terluka. Ku dapati. Lalu aku apakan ya?


Sulit kalau mau keluar dari kerumunan jama'ah. Ew kesadaran radar pertahananku otomatis aktif setelah melihat wajah orang-orang di sekitarku. Hmm sepertinya tingkahku terlalu menarik perhatian. Biarlah. Aku juga tidak mengharapkan perhatian ataupun pujian, aku melakukannya karena aku tidak ingin mengabaikannya. Jika masih dalam batas jangkauanku  aku akan melakukannya. Melihat kesamping kanan ku dapati tong sampah yang berisi penuh. Ohhh rupanya asalmu dari sana ya. Terjawab sudah pertanyaan asal datangnya si belatung. Well aku akan mengembalikanmu ke tempat asal. Jaraknya tak terlalu jauh jadi aku lempar saja si belatung ini daripada menarik perhatian orang-orang lagi.


*hup


*Wtf!!!


Kurang ke arah kiri! Aww.. maaf belatung keseimbanganku agak goyah karena mengantuk. Gagal sudah menyelamatkannya, aku terlalu gegabah. Seandainya aku mengukur dengan teliti  pasti pendaratannya tepat ke sasaran. Atau juga dengan cara beralasan membuang sampah minuman kopi yang ku beli tadi. Terlalu cepat bertindak juga tidak baik, aku terlalu mengandalkan pada ketepatan insting yang masih memiliki resiko. Ini menjadi pelajaran yang bagus buatku untuk menyempurnakan sifat karakaterku.


uhh.. pasti si belatung kesakitan setelah jatuh dari ketinggian.

__ADS_1


Bodohnya aku.


__ADS_2