
Aku selalu mengabaikan hal yang penting. Aku selalu acuh dengan urusan orang lain. Di sana adalah daerah milik orang lain. Aku tidak boleh memasukinya apalagi sampai ikut campur. Memang informasi itu sangat penting untuk mengetahui keadaan sekarang tapi kalau sampai ikut berkomentar buruk apa yang dialaminya, itu sangat keterlaluan.
Gosip
Kalau aku sedang digosipkan oleh teman-teman itu lebih bagus daripada menusuk langsung dari depan atau sampai kontak fisik, hatiku terlalu lemah untuk menahannya. Tusuklah dari belakang. Memang sakit. Namun aku bisa berpikir melanjutkan tindakan apa yang sebaiknya akan aku ambil.
Kalian meminta aku menjauh? akan aku lakukan
Kalian minta aku menyesal? akan aku lakukan Apapun selain bunuh diri.
Aku bukan budak. Setidaknya aku ingin merasakan apa yang kalian rasakan dengan menghukum diriku ini. Aku memang payah yang terlalu membanggakan diri.
Sms masuk
Isinya menyatakan kalau ibuku harus berhenti untuk menggoda ayahnya. Hah? aku kaget sekali. Pesannya cukup lebar dan detail. Kemarin kaka dari perkumpulan anak yatim meminta nomor hp ku. Mungkin saja ini pesan darinya. Auranya memang berbeda dari biasanya. Ketika aku bertanya untuk apa lalu dia menjawab pokoknya penting.
Perasaanku campur aduk. Ini di luar jangkauanku. Aku menyerahkan ke kakaku. Raut wajahnya langsung berubah serius. Ini tidak bagus. Aku tidak bisa menangani hal ini. Sebaiknya aku menjauh.
Aku menjaga jarak dengan kaka itu bila ada kegiatan bersama yang lain. Rumahnya dekat pasar Jangkung. Pasar? kalau tak salah ibuku ke pasar malam beberapa hari yang lalu.
Siapa yang salah dan yang benar aku tidak tahu. Jangan berpikir! sebaiknya aku lari.
Zheill: Berpikirlah!
Ketika aku absen sekolah guru matematika yang tinggal dekat rumahku menggosipkan kegiatanku ketika mandi di sungai. Kata Syarif guru kemarin bilang kalau kamu mandi di sungai air sungainya menjadi keruh. Untuk yang mencuci pakaian di sungai menjadi tidak menguntungkan. Aku terdiam.
Beater: kau taukan yang mana orang yang baik dan yang tidak. Di lihat dari luar pun kau sudah bisa menebaknya. Lalu apa? kau ingin berhenti bermain di sungai hanya kerena masalah ini.
Hapis: Aku yang salah. Nanti aku akan meyakinkan teman-teman ku agar kami bermainnya tidak berlebihan.
Ulangan olahraga semester akhir. Aku pasti bisa mempertahankan permainan bola voli ku agar tidak jatuh. Aku mulai membanding-bandingkan kemampuanku dengan teman yang lain. Aku jauh lebih baik, aku tidak akan menjadi yang terakhir. Tapi apa yang terjadi adalah sebuah hukuman atas pikiran sombongmu. Aku mendapat nilai terendah.
Beater: Kerena kau memang payah!
__ADS_1
Zheill: Gunakanlah otakmu, caramu yang salah.
Ujian akhir telah berakhir dan aku lulus SMP, tinggal melanjutkan sekolah tujuan. Tapi aku tidak punya tujuan. Aku tidak tau harus kemana. Aku hanya mengikuti arus. Kemana temanku pergi aku mengikutinya.
Pagi hari tanpa tujuan yang jelas datang ke sekolah aku juga ikut-ikutan mereka. Saat di warung makan mereka sarapan pagi. Kalau aku hanya duduk dekat mereka karena sudah makan di rumah sebelum berangkat. Aku akan menunggu mereka selesai.
Ibu pemilik warung menyinggung kehadiranku. Katanya kalau tidak pesan apa-apa mending pergi sana. Kasar sekali. Aku tidak menyangka.
Zheill: tentu saja kehadiranmu tidaklah menguntungkan.
Beater: tidak berperasaan dan bahasa yang kasar, lagian hanya kita yang menjadi pelanggan pagi ini, masih banyak bangku yang kosong. Sumpahi saja warung ini agar bangkrut, doa mu pasti terkabulkan.
Hapis: tidak berperasaan, sebaiknya aku pergi saja.
"kukira kamu orang yang pintar dilihat dari tampangnya rupanya enggak" seseorang dari kelas sebelah yang datang lalu bilang begitu.
Yang awalnya aku ceria saat bercanda dengan teman kelas langsung dibuat diam oleh perkataannya.
Beater: bela-belain datang hanya untuk mengatakan itu betapa buruknya sifatnya.
Hapis: Sebaiknya aku abaikan.
Guru ekonomi bilang padaku kalau nilai akhir SMP ku di dapat dari hasil yang curang. Aku mengerti apa yang dimaksudnya. Aku langsung menjawab iya dengan jujur. Tak ada yang perlu disembunyikan.
Zheill: bedanya kau dengan yang lainnya adalah usaha dan niatmu. Aku bisa melihat bakat mu, kaunya saja yang malas.
Hapis: demi membanggakan dan menyenangkan ibuku saat pembagian rapot.
Aku mendapatkan ranking 12 semester kedua kelas 10. Aku kira akan lebih tinggi lagi. Salah satu teman kelas yang curang malah dapat ranking lebih tinggi dari aku. Tapi yang membuat hatiku lebih sakit, ibuku tidak bisa hadir ketika pengambilan rapot. Padahal aku ingin menunjukkannya.
Beater: semua gara-gara si brengsek itu kan..
Zheill: itu pelajaran untukmu bahwa kenyataan tak selalu sesuai keinginan kita..
__ADS_1
Beater: ...
Hapis: apa yang kalian mau?
Zheill: selamanya dengan pendirian bocahmu tak akan merubah apapun..
Hapis: tidak juga..
Beater: kau lemah, saat seseorang yang kau cintai disakiti kau malah tidak bisa berbuat apa-apa..
Hapis: kau benar, aku lemah..
Zheill: tidak perlu berharap dengan orang lain sekalipun itu temanmu..
Hapis: kecuali ibuku..
Beater: bungkam mereka yang menyakitimu dengan kekuatan kita..
Hapis: tidak usah, nanti mereka akan jatuh dengan sendirinya..
Zheill: tidak perlu menjadi terkenal..
Hapis: kau bisa membuatku seperti kabut..
Beater: tidak perlu berbaik sangka demi kesempurnaan..
Hapis: manusia tempatnya salah, tidak perlu pertahan yang tebal semua sudah diatur..
Zheill: tidak ada celah jika kau bersungguh-sungguh..
Hapis: aturlah kondisi idealnya untuk serius..
Beater: akhirnya kau menerima kami..
__ADS_1
Zheill: terlalu banyak waktu yang telah terbuang..
Hapis: iya.. perlahan kita akan menjadi orang yang lebih baik lagi..