
Aku sedikit khawatir jam segini adikku belum pulang memancing. Pagi tadi sebelum aku ke pasar ia sudah pergi ke sungai untuk memancing ikan Patan/Hadungan. Kini aku sudah pulang dan masih belum pulang. Aku takut kalau terjadi hal yang buruk padanya. Jangan salah sangka. Aku peduli demi diriku sendiri. Aku masih belum mengakuinya sebagai adikku. Aku hanya ingin bertanggung jawab pada diriku yang punya jangkaun luas.
Ya! Benar begitu kan?
Misalnya telah terjadi hal yang buruk pada orang-orang di sekitarku apalagi pada orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan hubungan ibuku aku akan sangat merasa bersalah bila tak sempat bertindak.
Aku harap ia baik-baik saja.
Teringat dengan cerita mistis yang terjadi pada Atah tetangga seberang yang sedang mandi di sungai sendirian. Si Atah kaget karena ada yang berusaha menariknya ke dalam sungai. Ya! itu setan. Tapi syukurnya Si Atah masih bisa menyelamatkan diri. Di sungai lokasi yang paling tidak ku suka yaa di belakang rumah Atah, di lokasi adikku mancing.
Kalau sampai terjadi hal buruk pada adikku yang disebabkan oleh setan.. aku akan membalasnya lebih dari yang mereka perbuat. Awas aja..
*tap
*tap
Perlahan dan tepat aku melangkah menuruni tangga yang terbuat dari bebatuan dan kayu yang licin.
Syukurnya tak terjadi apa-apa pada adikku. Tapi kenapa lama sekali.
"Hey lamanya mancing"
"Tunggu bentar ni lagi rame"
Bikin khawatir aja apalagi ia sedang memancing di pinggiran sungai yang dalamnya sampe pinggang. Tindakan yang cukup ceroboh karna memberikan peluang buat setan untuk mengganggu. Iseng yang kelewatan sampai nyawa melayang. Tak tahukah sungai dan hutan itu tempat yang berbahaya. Jika tak punya insting untuk merasakan bahaya jangan coba-coba pergi ke hutan ataupun mandi ke sungai yang airnya dalam. Apalagi sendirian.
Aku menyuruhnya supaya lekas naik. Adikku pun naik ke darat. Badannya gemetar karena kedinginan. Ya ampun, bagaimana kalau kaki kram terus terpeleset ke dalam air. Bagi yang belum mahir berenang pasti panik. Pernah kejadian orang meninggal tenggelam akibat badannya kram saat menjaring ikan malam hari sendirian. Sampai jasadnya ditemukan masih dalam posisi memegang jaring ikan. Sedikitpun jangan sampai lengah dengan tindakan yang ceroboh.
Kami pulang dan sebagian ikan tangkapannya diberikan kepada tetangga yang berniat ingin membeli.
__ADS_1
"Gak usah nek, ikannya kami berikan aja" aku berusaha menolak bayaran.
Kau tahu kenapa aku yang bicara seolah-olah tu ikan adalah hasil tangkapanku?
Bagi adikku memancing hanyalah hobi. Ikan hasil tangkapannya kalau gak nenek yang memakannya atau aku sendiri. Adikku? Whohaha seperti kucing kalau nangkap tikus. Cuman dimainkan doang. Ngeselinkan? Apalah gunanya memancing kalau hasil tangkapannya gak dimakan sendiri atau dijual. Makanya aku berusaha memberikannya saja. Membaca gerakkan adikku sepertinya ia ikhlas saja. Daripada gak dimakan mending diberi ke yang membutuhkannya.
Hubunganku dengan adikku tak sebagus seperti kebanyakan orang. Alasannya, sepenuhnya sudah terjelaskan di episode Kelemahan dan Aku Tak Bisa. Bagai air dan minyak yang takkan pernah menyatu. Berbanding terbalik dengan kepribadianku. Kami tak pernah selaras makanya aku sering berkelahi dengannya. Bukan berkelahi fisik.
Yaa.. sesuatu yang mustahil untuk dihancurkan ataupun diubah dari dalam dirinya.
Kehadirannya benar-benar mengganggu. Aku pernah berpikir jika seandainya hanya ada aku dan kakakku sebagai anak ibuku mungkin keluarga kami akan damai. Ketika aku masih kecil, aku sudah berusaha menjauhinya.
Dia kesepian..
Bertemanpun sulit..
Kemudian menginginkanku karena dia tahu aku bisa menjadi tempat yang akan membuatnya senang dan mengenal apa yang namanya pertemanan. Tapi akunya yang tak suka. Aku akan sakit jika terus-terusan berurusan dengannya. Aku menghindar. Dia harus bisa melakukan seperti apa yang aku lakukan.
Keadaan makin parah setelah ibuku nikah dengan Pak Iin. Setahun sekali kami sekeluarga baru bisa melihat ibuku. Aku kira ibuku benar-benar meninggalkan kami. Aku sempat pasrah saja karena itu keputusan ibuku. Apa yang ibuku inginkan aku hanya bisa menurut.
Tapi teringat awal mula masalah ini terjadi karena ayahnya adikku. Kini ayahnya juga meninggalkan anaknya sendiri, kenapa harus kami yang mengurusnya? Sungguh ingin ku patahkan lehernya kalau sampai berani muncul di hadapanku.
Merepotkan..
Sekarang di rumah hanya ada aku seorang yang bisa. Tapi aku aku tak suka melakukannya karena di dalam dirinya mengalir darah si .
Kenapa harus aku?
Kami takkan pernah selaras. Hobi, kesukaan, pemikiran dan segala macamnya. Gimanapun caranya tetap saja salah. Selalu bertengkar.
__ADS_1
Ketika adikku minta aku untuk isikan formulir data dirinya aku langsung menolak. Masa mengisi formulir saja tidak bisa? Si itu memang bodoh sekali ya..
Data nama ayahnya belum terisi membuatku makin yakin untuk tidak berurusan dengan adikku. Jangan sampai aku yang harus mencari tahu nama ayahnya. Menjengkelkan.
Dia tak bisa sendirian..
Tak punya kegiatan yang bisa membuatnya berkembang..
Prestasi payah..
Kakakku hanya peduli dengan dirinya sendiri. Selalu aku yang dicari.
Bagai dua keping koin yang memiliki 2 sisi.
Di satu sisi aku punya hati. Di sisi lain aku tak suka dengan adikku.
Aku harus bagaimana?
Sedari kecil hanya satu ini saja permasalahannya. Tak pernah habis-habisnya.
Aku sadar perlakukanku terhadap adikku juga keterlaluan. Mungkin sebagian kesalahan pada dirinya itu ulah dariku. Bagaimana juga mau bersikap baik, bila aku berbuat baik padanya dia selalu meremehkanku. Aku ingin mengajarinya banyak hal dia malah bersikap sok tahu dan menolakku. Kami tak pernah selaras. Kepribadian kami saling berlawanan. Aku yang masih bocah mana tahu cara mengajari anak kecil. Memperlakukannya. Kenapa harus aku lagi? Sangat menjengkelkan.
Uahhh.. aku tak punya pilihan solusi yang bagus.
Aku tak bodoh. Makanya aku tak ingin sakit lagi gara-gara berkorban demi seseorang yang aku sendiri tak menyukainya.
Ini ujian yang paling merepotkan.
Sekarang mungkin masih belum bisa. Tapi suatu saat nanti pasti ada harapan. Saat dimana aku bisa menjadi lebih baik lagi. Atau adikku sendiri yang bisa berubah jauh lebih baik dariku.
__ADS_1
Bukan hanya adikku tapi semua orang..
Selama ada perjuang pasti akan selalu ada harapan...