
1.Paksaan
Hari raya idul fitri.
Aku memakai baju kokoh pemberian ibuku. Bajunya kecil berlengan pendek. Ibuku salah memperkirakan ukuran badanku. Ukuran begini mah seharusnya buat adikku. Hmm lama gak ketemu sih makanya bisa salah kira. Tapi ya, aku tetap akan memakainya, sebagai cara untuk menghargai usaha ibuku.
Aku berangkat dengan nenekku memakai kendaraan.
Di depan mesjid, tepatnya di samping luar pagar, aku melihat banyak kenalan nongkrong dan bercanda. Aku melihat ada Hakim juga dan lainnya. Entah kenapa.. sepertinya si Hakim sedang memperhatikanku.
Bukan bukan, rasanya gimana ya? coba bayangkan bila ada seseorang yang suka denganmu, mengawasimu, dan elunya gak suka dengannya. Yap, mungkin begitu kondisinya apa yang kurasakan. Gak enak.
Ahh pagi-pagi Beater sudah aktif. Kalau begini sih langkah yang harus ku ambil adalah menjauh dari orang-orang.
Di dalam mesjid seharusnya aku melanjutkan wiridku, tapi malah diajak ngobrol oleh si Irfan. Kayaknya aku salah cari tempat.
*Ewkejshamqnsk
Ngeselin..
Terpaksa aku menanggapinya.
Sabarr..
Padahal hari raya tapi banyak cobaan.
Setelah sholat dan mendengar khutbah aku bergegas ingin pulang. Melihat orang lain saling bersalaman membuatku(Beater) terganggu. Ada perasaan tidak suka dan ingin menghindar. Beater selalu seperti itu.
Tapi ini hari raya, pengecualian untuk hari ini saja, aku akan sedikit membuka pertahananku agar orang lain bisa mendekatiku dalam kondisi Beater.
Aku melihat si Hakim lagi. Moodku langsung gak enak, lagi-lagi dia mencuri pandangan. Mengganggu bangett. Tau ah, aku langsung balik aja.
Pulang ke rumah.
Kebiasaanku kalau hari raya? tentu saja aku tidur.
Hah!
Jangan tanyakan alasannya kenapa.
Tapi aku tidur setelah pulang dari makam Ayahku kok.
Biasanya kalau hari raya buat orang lain pasti saling maaf-maafkan. Aku dan keluarga yang lain tidak seperti itu. Tak pernah aku diajari oleh ibuku bermaaf-maafkan bila hari raya tiba. Dalam satu rumah saling malu memaafkan, menjadi kebiasaan sampai sekarang. Ini masalah hati saja, walaupun nilainya kurang tanpa lisan dan perbuatan.
Sebelum aku saling acuh dengan ushuku, di hari raya aku selalu dipaksanya untuk hadir ke tiap rumah keluarga yang berada di rumah asliku sana. Tanpa kakakku, aku makin kesulitan untuk berinteraksi dengan keluarga yang lain. Apalagi setelah aku, Beater muncul, menanggapi paksaan dari ushuku dahulu.
Selain memaksakan, ushuku juga memarahiku. Padahal permasalahannya sepele, tapi aku merasa seperti ingin ditundukkan. Harus menjalankan tiap apa yang diperintahkannya.
__ADS_1
Aku sangat terusik.
Aku mengambil tindakan pura-pura mengantuk dihadapannya.
Kata usuhku "apa dengan temannya, dia juga seperti ini?"
Tidak, kakakku membalas.
Di depan rumah ushu, kakakku menegurku.
"kenapa kelakuanmu begitu dengan ushu"
Aku tak suka diperintah, dalam artian memaksa kehendak. Kakakku juga, jika bertindak memaksaku, aku akan menjauhinya.
Aku tak suka dipaksa dengan pandangan dan cara yang tak kusuka.
Undang keluarga.
Kakakku tidak bisa berhadir dan menyuruhku untuk melakukannya, menghadiri perkumpulan yang jelas-jelas berakhiran akan membenciku. Aku sempat menolak dengan tegas dipesan, pakai Caps lock tiap huruf. Kemudian kakakku membalas dengan ancaman dari ushu.
Pesannya kurang lebih yaa memutuskan hubungan untuk selamanya.
Aku sungguh kesal sekali. Aku ingin menentangnya.
Dan bodohnya lagi, kendaraan dipakai oleh kakakku.
Kenapa aku harus berjuang dengan hal yang akan membuatku makin sakit?
Hari gerimis pula..
Selalu saja aku..
Di depan rumah Erpan, aku berpas-pasan denganya.
Erpan menawarkan tumpangan. Syukurlah ucapku dalam hati, sedikit tambahan ruang di dada untuk bernapas.
Sesampainya di depan rumah ushu. Aku berterimakasih banyak pada Erpan yang telah membantuku.
Aku tak ingat bagaimana caranya aku masuk. Yang aku ingat setelahnya ketika ushu memberikan amplop dan acara makan-makan.
Dan kali ini aku makin tidak suka saat ushuku memberikan amplop padaku dengan tatapan kecewa. Melihat dalam lubuk hatinya, mungkin dia ingin sekali menanyakan apa penyebab aku seperti ini dan juga ujung-ujungnya ingin memarahiku.
Di sudut ruang dekat pintu, istrinya ushu, ahh seharusnya aku memanggilnya acil, seharusnya.
Aku mendengar dalam percakapan mereka terlibat kakakku yang tak bisa hadir. Cara berbicara dan gerak-geriknya seolah-olah ingin menyinggungku.
Satu rantai putus, yang lain juga terlepas.
__ADS_1
Semuanya mengabaikan kehadiranku.. kecuali kakek yang tetanggaan dengan rumahku yang dulu, jelasnya dari episode sebelumnya "Aku tak Bisa" suaminya yang membantu ibuku melahirkan adikku. Aku lupa siapa namanya dan bagaimana hubungannya dengan kami, aku tidak tahu. Terlalu banyak hubungan yang aku putuskan dan ku lupakan. Tapi dia tetap baik denganku walaupun aku sempat melupakannya.
Caranya berbicara langsung masuk ke hati tanpa ada perasaan diskriminasi, aku pun bisa tersenyum membalas pertanyaannya.
Akan tetapi, tetap saja aku ingin pulang, aku sudah tidak tahan..
Adzan maghrib berkumandang.
Aku sudah keluar dan melangkah pulang. Gerimis makin deras. Aku mempercepat langkahku.
Kesal sih gak ada yang mau membantu tapi aku jauh lebih kesal lagi dengan kakakku. Setidaknya coba beri keringanan dalam memaksa kehendak. Memperlakukanku dengan cara yang salah membuat Beater semakin membenci orang-orang.
Langkah kakiku terpaksa berhenti di depan langgar karena kulihat salah seorang keluarga baru datang dengan menggunakan kendaraan, melewatiku yang jalan kaki dari tadi.
Uhh..
Jamaah langgar sudah sholat rakaat kedua. Gak bakal sempat. Celana kotor, belum berwudhu, sandal putus di tengah jalan dan emosi meluap-luap.
Ahh.. aku tidak tahan.. aku ingin pulang saja.. maafkan aku Ya Allah.. Aku sakit hati..
Apa enaknya memaksakan kehendak seseorang yang berlawanan dengan si pemaksa.
Apakah benar disana, kehendak, niatan hati menginginkan harapan yang baik? atau hanya.. ingin menghancurkan sesuatu yang ada dalam dirinya?
Apa hadiah, imbalan bila mengikuti paksaan tersebut?
Pada akhirnya semuanya sama saja, arti dari kata "paksaan" hanyalah niatan untuk menghancurkan sesuatu..
Aku tak tahu. Apakah ini akibat dari tindakanku terdahulu yang pernah memaksa mereka menjadi lebih baik lagi?
Judge..
Aku melawan.
Aku memaksa karena mereka harus jauh lebih baik dariku. Sementara ushu dan kakakku ingin menghancurkan sikapku.
Sikapku yang menentang cara mereka dalam berkomunikasi denganku, dengan Beater.
Seharusnya mereka bersikap baik dan melakukannya dengan cara yang lembut. Amarah takkan pernah bisa takluk oleh sesama amarah.
Itu yang ingin aku hancurkan.
Saling bersikukuh mempertahankan pendirian.
Bedanya mereka dengan ku, mereka takkan pernah memahami keadaanku. Dan aku tidak akan pernah mau menceritakan tentang diriku pada mereka.
Jangan selalu aku yang mengalah..
__ADS_1