
Pada hari rabu tanggal 11 Sepetember yayasan ingin mengadakan acara membuat bubur asyura bersama seluruh staf guru SD sampai SMA. Khusus SMA guru-gurunya bagian memasak bubur termasuk juga diriku.
Awalnya banyak informasi yang simpang siur mengenai tempat pelaksanaan memasaknya. Ada yang bilang di kantin dan ada yang bilang di SMP. Bahkan alat dapurnya pun kami belum dapat kabar, apakah kami yang menyiapkan sendiri ataukah pihak yayasan. Hingga kedua jarum jam dinding menunjukkan angka delapan lewat sedikit barulah kami dapat lokasi pasti. Di antara bangunan SD dan SMP, di sana ada lahan yang cukup luas dan strategis untuk memasang 3 kawah. Segeralah kami menuju lokasi karna memasak bubur butuh waktu yang lama. Misalnya saja dari jam 9 memulainya mungkin selesainya akan sampai tengah hari.
Hmm..
Sesampainya kami di lokasi terlihat beberapa orang sudah menyiapkan peralatan memasaknya. Bertegur sapa dengan kenalan kemudian berkerja. Emm.. kalau aku sih yang ku kenal dari kampungku hanya pa Iban dan bu Helda saja, selebihnya adalah tokoh baru. Ada si Wahyu yang sepertinya seumuran denganku. Entah, rasanya sangat familiar, satu SMA dulu, entahlah aku lupa. Ada paman Hadi yang "maaf jika kurang sopan" tubunya kerdil, terlihat beliau orang yang baik. Ada paman SMP yang aku belum tahu namanya dan lainnya seperti sekuriti. Mereka termasuk aku yang tidak bisa memasak membantu bagian dapur. Sementara ibu-ibu guru SMA membersihkan beras dan membuat bumbu masakan.
"ohh sabun colek berguna melapisi bagian bawah kawah agar nanti tidak meninggalkan bekas" yang hitam-hitam ituloh. Nah dapat informasi penting nih.
Kenapa harus dilapisi? soalnya kawah yang dipakai bukanlah milik yayasan ataupun sekolahan tapi milik pribadi salah seorang bu kantin. Makanya yang meminjam harus tahu cara menjaganya.
Cukup lama untuk menyalakan apinya selain itu kami kekurangan kaki penyangga kawahnya. Jadinya kami harus mencari dan memakai yang batu besar. Aku harus ambil insiatif sendiri. Aku tak boleh berdiam diri saja jika terdapat masalah aku hanya perlu bertanya dan arahan.
Meletakkan kayu bakarnya tak bisa sembarangan. Harus ada celah diantara kayu-kayu agar api bisa bernapas dan memakan kayu dengan cepat. Hingga cukup besar apinya barulah kami meletakkan kawahnya kemudian diisi air. Sekitar 80% kawah diisi dengan air kata pa Riza. Aku mengangguk mengerti. Tapi karna selangnya cuman satu yang aku pegang ini jadi harus ada yang mengambil airnya dari kawah yang aku isi ke kawah yang lain. Memang mereka punya banyak sekali pengalaman. Terkadang aku selalu mengambil pekerjaan yang simpel saja karna biasanya pekerjaan itu hanya perlu keteguhan dan suka rela. Misalnya pada bagian dapur seperti mencuci piring di tiap pesta pernikahan. Karna pekerjaan yang berulang mungkin semua orang akan bosan. Tapi aku punya banyak cara dan solusi yang selalu membuatku bisa menanganinya. Pertanyaan apakah harus terus seperti itu?
__ADS_1
...
Makanya aku ingin belajar, suatu saat pasti akan ada situasi yang dimana semua orang tidak bisa melakukannya. Dimana orang-orang tidak mau berkembang dan hanya terperangkap pada satu kebiasaan bodoh. Sebelum itu terjadi aku ataupun kita harus membekalinya mulai dari sekarang.
Aku memakai pelepah kelapa yang sudah bersih untuk mengaduk berasnya.
Aku bertanya pada pa Riza apakah harus diaduk terus?
Pa Riza menjawab iya terus katanya sementara yang lain tertawa.
Ah, sepertinya bercanda. Aku bertanya karna ingin memastikan. Yaa, aku memang tidak pandai memasak.
Cukup panas jika terlalu dekat dengan api tapi aku masih bisa menahannya. Tapi berbeda dengan asapnya yang bikin perih mata. Kalau sudah sangat perih terpaksa aku menjauh sebentar untuk memulihkan. Aku coba cara lain. Misalnya anginnya mengarah ke diriku berarti aku harus kesamping sisi lain yang tidak mengenai asap. Seterusnya aku lakukan.
Beberapa guru perempuan entah SD atau SMP begitu heboh sambil mengambil video dan gambar. Mungkin mereka menyukai sekuriti itu. Aku tak tahu siapa namanya dan asalnya dari mana, yang jelas ia lebih tua dariku dan porsi tubuhnya bisa dibilang selera mereka makanya jadinya begini.
__ADS_1
Datang beberapa orang termasuk pak/ust Rifki sambil membawa spanduk kemudian memasangnya di dinding bangunan.
Uhh.. apakah mereka tak sadar jika bulannya salah seharusnya bulan sepetember bukan oktober. Oh! mungkin saja itu spanduk tahun kemarin. Daripada gak terpakai mungkin.
Namun ketika hendak mengambil foto rupanya memang kesalahan artinya itu spanduk baru dibuat. Kok bisa?
Cuaca mulai terik. Beberapa kenalan menyuruhku agar istirahat.
Tenang saja, aku masih kuat. Sampai buburnya telah matang barulah aku istirahat. Aku bergabung dengan guru yang lain dan ikut mencicipi sisa ayam. Ust Ma'mun, bu Helda dan bu Putri begitu lahap makan.
"ayok fidz dimakan nih" ust Ma'mun.
"yap yap.." kelaparan nih.
Selang berapa lama obrolan mereka yang sempat terhenti dilanjutkan lagi. Mereka sedang menggosipkan bu Aya. Uhh.. lagi-lagi bu Aya. Aku tak tahu kenapa.. apa yang bu Aya lakukan sampai bisa jadi buah bibir setiap saat.
__ADS_1
Aku hanya diam. Bukanlah urusanku ataupun bagaimanapun. Aku tidak berada dipihak manapun. Maka dari itu tidak ada musuh bagiku ataupun teman dalam selimut.
Ngomong-ngomong.. ini bubur enak juga.