
Berdiri menatap wanita itu, wanita yang terbaring di atas ranjangnya, sudah sekian lama ia belum juga terbangun dari pingsannya.
Kenapa dia belum bangun juga..
mau sampai kapan dia akan pingsan?..
Erik sedang berdiri di depan pintu kamar Tuan Mudanya.
ia sedang berjaga di luar, sedangkan Ketua Pelayan datang menghampirinya.
Dia lagi...dia lagi.
"Erik?"
"Iya,apa ada keperluan?"Tanya Erik fokus ke layar ponselnya.
"Aku sedang mencari Anjani, bukankah dia sedang membersihkan kamar ini?,tapi kenapa lama sekali, aku juga tidak melihat kehadiran-nya sejak tadi!"
"Kemarilah!"Menyuruh Ketua Pelayan untuk mendekatinya.
"Jangan mencari Nona Anjani!,dia bukan pelayan,dia sedang Istirahat!, biarkan dia Istirahat!"
"Hah...?"Merasa bingung dengan perkataanya.
"Kau tidak mengerti juga?, dengarkan baik-baik!, jangan menyuruh Nona Anjani untuk bekerja lagi!, karena dia adalah majikan mu sekarang!"
"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan?, Anjani majikanku bagaimana bisa? dan dimana dia?, apa dia di dalam kamar?"
"Calon istri Tuan Devino sedang Istirahat!,kau dengar?, Iyah...dia memang berada di dalam kamar!,jadi pergilah!"
what?... Calon istri.. bagaimana bisa..
Rasanya ketua Pelayan ingin sekali tertawa mendengar lelucon yang menegangkan ini.
"Kau bercanda?"
"Apa aku terlihat bercanda?"
"Ta.. tapi bukanya Tuan Muda tunangannya...!"
"Hust.... pergilah!, jangan banyak pertanyaan!"
Ia segera pergi meninggalkan Erik, dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
"Calon istri?,apa Erik sudah gila?, bagaimana bisa seperti itu?,aku bahkan tidak mengerti dengan semua ini...!,ini sungguh tidak mungkin...,gila sih jika ucapan itu benar,aku pasti benar-benar tidak waras...!"
Menggerutu sambil berjalan menelusuri ruangan, ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Erik.
Masih memandang wajahnya,mata itu mulai bergerak-gerak, membuat Tuan Muda semakin dekat menatapnya lekat.
Terbangun,
"Aaaaa...."Berteriak begitu kaget melihat wajah Tuan Muda yang begitu dekat dengannya membuatnya beringsut menjauh darinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?, kenapa aku ada di sini, kenapa aku ada di kamar ini...?"
Gemetaran langsung menyelimuti dirinya, ia begitu merasa ketakutan yang begitu luar biasa saat bertemu dengan lelaki brengsek ini.
"Tenanglah!,aku mohon tenanglah!"mendekati Anjani.
"Jangan mendekat...aku mohon jangan mendekatiku!, pergi!.. pergi!...aku mohon pergi!"Anjani begitu takut denganya.
"Tenanglah!,aku mohon tenanglah!,aku tidak akan berbuat apa-apa padamu!,kau butuh istirahat!, tenanglah... aku mohon tenanglah...!"membeli kepalanya memberinya ketenangan,
Bicara Tuan Muda juga begitu lembut, membuat dirinya sedikit merasa tenang saat ini, namun pandangan masih belum berani menatapnya.
__ADS_1
Terdiam sejenak,
"Aku harus pergi sekarang!"Anjani yang masih merasa lemas meninggalkan ranjang kamar itu.
"Kamu mau kemana?, keadaan mu belum pulih!"menahan tangannya yang akan pergi meninggalkannya.
"Apa yang kau lakukan?, lepaskan aku!,aku harus pergi!"
"Jangan keluar!, di depan ada Papah dan Mamah!, sebaiknya kau tetap disini!,menunggu mereka pergi!,aku takut terjadi masalah besar nantinya...''
Anjani terdiam menatap pintu, bisikan-bisikan suara tersebut mulai terdengar, padahal yang ada di luar adalah Erik yang sedang berjaga dan menerima panggilan telefon.
Tuan Devino hanya beralasan saja untuk menahannya agar ia tidak pergi meninggalkan kamar, karena ia juga begitu khawatir dengan keadaan janin yang ada di kandungannya.
Aku benar-benar ingin keluar dari sini,
apa yang terjadi pada diriku apa aku pingsan tadi,
Terdiam, tidak menjawab perkataan Devino yang mencegahnya dari tadi.
"Duduklah!"
Mencoba melepaskan tangannya yang menahannya itu,ia langsung menjauh darinya lalu duduk di sofa kamar karena masih merasa takut jika berdekatan denganya.
"Minumlah!"memberikan segelas air putih.
"ini...minumlah Vitaminnya juga!"memberikan satu lempeng Vitamin yang di sarankan oleh dokter tadi.
"Obat apa itu?,kau mau meracuniku?"merasa takut sendiri melihatnya.
"Apa aku sejahat itu?, tubuhmu butuh Vitamin dan Istirahat, minumlah!,aku tidak berbohong kepadamu...!"duduk di samping Sofanya.
Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?,apa aku benar-benar sakit..
kenapa si,dia terus mendekatiku..
Masih terdiam menatap obat itu!,ia bahkan tidak berani menyentuhnya sama sekali.
Apa dia masih mengira itu racun juga?,
apa dia tidak membaca ini itu Vitamin...
"Kau tidak mau meminumnya juga?"Tanya Tuan Muda geram dan mengambil obat itu dari atas meja.
"Sebenarnya aku...aku... tidak bisa menelan obat,aku tidak bisa minum obat, aku tidak bisa bagaimana caranya minum obat...!"
"Hah...?"Devino menjadi bingung sendiri mendengarnya,ia kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat duduk sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian ia menghampiri Anjani yang masih terdiam duduk di atas sofa kamarnya.
"Ini minumlah!"memberikan segelas susu coklat.
"Apa ini?"
"Racun, bukankah sudah jelas aku memberimu susu!"
Anjani menerimanya dengan diam, karena sebenarnya ia juga merasa sangat lapar.
Kenapa tiba-tiba dia bersikap seperti ini,dia tidak segalak rumor-rumor orang di luaran sana kan...
"Habiskan!,jika tidak habis aku tidak akan mengizinkan mu keluar ruangan!"
Suara datarnya sambil menghadap ke arah ponsel dan mengetik layar itu begitu cepat .
Apa hakmu melarang ku keluar ruangan...
__ADS_1
Susu itu sudah habis diminum olehnya, kemudian meletakkannya di atas meja.
"Persiapkan dirimu untuk menikah besok!"
"Menikah?"
Begitu kaget terbelalak menatap lelaki yang sedang berhadapan dengannya ini.
Devino langsung mendekat ke arah Anjani, membuat Anjani semakin menjauh karena bingung apa yang akan ia lakukan kepadanya.
kedua tangan itu langsung menyelinap dan perlahan melepaskan ikatan clemek yang masih melingkar di pinggangnya.
"Buang ini!,mau tidak pantas memakinya!"
Apa... maksudnya..
"Iyah,Kau harus menikah denganku!"
"Apa maksudnya menikah denganmu?, tidak!, aku tidak mau..aku tidak mau menikah denganmu... aku tidak mau...!"
Semakin menjauhinya.
"Kau mau ataupun tidak,kau harus tetap menikah denganku!,kau mengerti!"
"Bagaimana bisa begitu?, ini hidupku...aku yang akan mengatur hidupku sendiri, jadi jangan memaksaku untuk menikah denganmu!, hanya karena kau orang kaya... jadi kau bersikap seenaknya begitu menyuruh wanita untuk menikah denganmu begitu saja...?"
Semakin merasa kesal dan benci menatap lelaki itu.
"Kau harus menikah denganku!, apapun itu alasannya, dan kau menyukaiku atau tidak aku tidak perduli!, kau tetap harus menikah denganku!,demi Bayi yang ada di kandungan mu itu..!"
"Bayi...?"memegang perutnya seketika,ia begitu kaget.
Tak lama ia sudah menitikkan air matanya membasahi pipinya.
"Tidak... tidak...aku tidak ingin ini semua terjadi!,aku tidak mau hamil,aku tidak ingin mengandung anak ini...aku tidak ingin ini....aku tidak mau.... hiks... hiks..aku tidak mau"memukuli perutnya sendiri dengan tangannya.
"Apa yang kau lakukan?"begitu kaget melihat tingkah wanita ini.
"Aku tidak ingin ini...aku tidak mau!"begitu tertekan dan merasa sangat kesal.
"Hey...Hey..apa yang kau lakukan?,apa kau sudah gila?"menahan kedua tangannya yang sedang memukuli perutnya itu.
"Aku tidak mau...aku tidak mau ini..aku tidak mau...aku juga tidak mau menikah denganmu!,aku tidak mau!,
aku tidak mau ini semua terjadi!, lepaskan!"
memberontak mencoba melepaskan tangannya yang begitu erat menahan tingkahnya.
"Apa yang kau lakukan?, jangan berbuat yang tidak-tidak!, apalagi memukul perutmu sendiri!"
"Kenapa?,aku memang tidak mau dengan semua ini?, dan kau... seharusnya aku yang bertanya kepadamu!,apa yang kau lakukan kepadaku...?, kenapa kau melakukan hal ini kepadaku.?,kenapa?..,kenapa kau begitu jahat melakukan hal ini kepadaku?.. kenapa?.. hiks... hiks...kenapa?..hiks... hiks"
memukul mukul dadanya yang bidang dan menatapnya dengan penuh mata yang basah akan air mata yang menangis begitu tidak terima.
"Maafkan aku!,aku benar-benar tidak sengaja melakukannya!,aku tidak sengaja melakukan itu kepadamu..!"
"Aku benci..aku benci kepadamu!,aku benci...aku benci... hiks.. hiks.."Terus memukulinya dan menunduk meratapi dirinya yang begitu terhina.
Semakin menunduk, merasa apa yang sedang ia rasakan,ia benar-benar tidak mampu menerima semua ini dengan cepat.
Terlebih dengan ibunya yang baru saja pulang dari rumah sakit,ia harus mengatakan apa kepadanya, dengan kabar ini yang begitu buruk,dia benar-benar takut untuk mengatakannya,ia benar-benar tidak berani melukai hati ibunya dan adiknya nantinya.
"Tenanglah!,aku mohon tenanglah!,aku akan bertanggung jawab kepadamu!...,aku akan menikahi mu hari besok...!"
Gampang sekali kau berbicara,
__ADS_1
kau pikir aku tidak terluka dengan semua ini... dan kau pikir aku mau menikah denganmu... dengan lelaki brengsek sepertimu... tidak... aku tidak mau...
Menatap lelaki itu begitu benci dan masih terisak karena menangis.