
Sayup-sayup semilir angin AC yang begitu sepi terdengar di ruangan ini.
Hembusan nafas Devino yang terdengar begitu merdu seperti nyanyian membuat Anjani merasa begitu nyaman di pelukannya.
Beginikah cinta, mendengar hembusan nafasnya saja sudah membuatku senang..., kenapa ini terdengar begitu indah di telingaku...,
Terseyum sendiri, sambil mendengarkan hembusan nafas suaminya di telinganya saat ini.
Lalu menatapnya lekatnya yang sedang tertidur itu,
Sampai saat ini aku benar-benar tidak menyangka Dev,kau sangatlah baik dan lembut kepadaku..
Maafkan sikap ku selama ini yah...
Mengelus pipi suaminya lembut.
"Muach..."mencium batang hidungnya yang mancung itu.
Lalu menelusuri batang hidupnya yang mulus dan mancung itu dengan jemari tangannya, bahkan bagiamana pun gaya tidurnya orang tampan ini tetaplah tampan, begitulah di mata Anjani.
"Muach...."tiba-tiba Devino membalas ciumannya di bibir,membuat Anjani terbelalak menatapnya lekat karena kaget
"Kau tidak tidur?"merona sendiri sekarang.
"Kau yang selalu menggangu tidurku!,aku masih ngantuk,kau yang membuatku bangun kan?"Memeluk erat istrinya.
jam berapa si?..
Mencari-cari ponsel di atas ranjang dan menemukanya dengan segera.
Ya ampun hampir jam lima pagi..
"Bangun!, ini sudah pagi Dev, bersihkan dirimu...!"Mencoba membangunkan suaminya dengan lembut.
Namun tangan Devino malah menariknya dan membekapnya kembali di bawah selimut.
"Dev apa yang kau lakukan?,ayo bangun...!"meronta-ronta berusaha melepaskan bekapannya yang erat itu.
"Bersenang-senang sayang...!"Jawabannya santai,sambil menutupi dirinya dan istrinya dengan selimut kembali.
Kira-kira apa yang mereka berdua lakukan?, entahlah, yang jelas keduanya bersenang-senang pagi ini.
*****
Terusik dari tidurnya,Tita juga sudah terbangun kali ini.
Menatap tangan Erik yang melingkar di pinggangnya membuatnya terbelalak sendiri.
Bagiamana aku sudah bangun..?,dan kapan aku tertidur...
Bagaimana aku bisa tidur di atas ranjang ini bersamanya,
__ADS_1
Merasa aneh, lalu mengingat tentang semalam.
Yang ia ingat hanyalah ciuman bibirnya dengan Erik semalam,sehabis itu ia masih merasa marah dan mencoba untuk meninggalkan Erik.
Tapi tiba-tiba saja kepalanya pusing dan jatuh pingsan.
Memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.
Bagaimana aku bisa pingsan,
apa yang sedang terjadi padaku?, kenapa kepalaku masih terasa pusing.
Lalu terdiam,menatap Erik yang tertidur pulas sambil memeluknya dari belakang.
Terasa hangat dan nyaman kali ini, baru permata kalinya juga Tita di perlakukan seperti ini oleh Erik.
Aku merasa nyaman dia memelukku begini,andai saja dia akan selalu memelukku begini,aku pasti akan merasa sangat bahagia..
"Aku tahu aku yang salah!, maafkan aku Tita..., dan untuk hari ini,aku benar-benar merasa cemburu Tita!, maaf.. maafkan aku!"
Bayangan Erik yang berbicara seperti itu langsung melintas di pikirannya kembali
Membuatnya merasa bersalah sendiri saat ini.
Aku tahu aku yang salah!, maafkan aku..!, tapi setidaknya aku merasa senang sekarang..., karena kau telah cemburu kepadaku,aku harap inilah perasaanmu yang sebenarnya...
Maafkan aku Erik, maafkan aku....
Berkaca-kaca, menatap suaminya lekat.
"Kau sudah bangun?,apa kau tidak papah...?"Tanya Erik sontak, membuatnya bingung dengan pertanyaannya ini.
"Aku tidak Papah...!"Menjawab pelan merasa canggung sendiri dengan suaminya, terlebih melihat tatapan Erik yang begitu cemas karena khawatir.
Melihat mata istrinya yang berkaca-kaca membuatnya tidak tenang.
"Kau pingsan semalam.., Tensi darah mu juga begitu rendah,aku sudah menyiapkan pil tambah darah untukmu..!, sebaiknya kau jaga kesehatanmu nantinya...!"
"E'... Iyah!"merasa bingung harus bersikap seperti apa sekarang.
"Maafkan aku...!, telah membuatmu menangis semalam!"menatap istrinya yang terlihat mengalihkan pandangan menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca itu.
"Sebaiknya kita cepat membersikan diri!, karena pagi ini mungkin kita akan segera kembali ke Apartemen...!"Berbicara lembut sambil meninggalkan ranjang untuk menuju ke kamar mandi.
Tita masih terdiam duduk di atas ranjang, melihat Erik yang bersikap selembut ini membuatnya tidak enak diri.
Aku yang salah,bukan dia..., seharusnya dia tidak minta maaf kepadaku,dan seharusnya aku juga yang meminta maaf kepadanya,aku benar-benar tidak bisa menahan perasaanku semalam...,
aku benar-benar mengatakan semua itu..., melakukan....
maafkan aku Erik,
__ADS_1
Teringat perkataanya sendiri kepada suaminya yang panjang lebar itu, membuatnya benar-benar merasa gelisah sendiri.
Seharusnya aku tidak mengatakan semua itu, seharusnya aku tidak mengungkapkan perasaan ku sendiri kepadanya kan?.., kenapa ini memalukan sekali,
Saat hati kita di penuhi dengan kemarahan, memang apa yang kita lakukan dan kita ucapkan kadang selalu tidak terpikir terlebih dahulu, seolah-olah kita hanya ingin mengeluarkan apa yang sedang kita rasakan saat marah,
semua keluar begitu saja, tanpa tersaring dan terkontrol terlebih dahulu!,begitulah jika semua orang marah.
Semua akan sadar dan terpikir jika hati kita sudah merasa tenang kembali, terlebih masalah hati,ini adalah masalah yang sering di rasakan oleh setiap orang dan inilah yang paling berat dari berbagai masalah yang lain.
Semuanya sudah terlihat rapi dan wangi dengan tampilannya masing-masing.
Hari ini Tuan Besar memberi perintah agar semuanya berkumpul di salah satu ruangan khusus di mana hotel ini berada.
Sepertinya ia ingin membicarakan hal yang benar-benar serius kepada semua anggota keluarganya.
Devino dan Anjani duduk di satu sofa sebelah kanan Tuan besar, terlihat Anjani yang masih begitu takut menggenggam erat tangan suaminya untuk bersanding bersama keluarganya.
Sementara Daniel dan Emely duduk di sebelah kiri Tuan besar.
Sedangkan Nyonya besar duduk bersanding dengan Diva putrinya.
"Aku ingin berbicara hal penting kepada kalian...!, mulai sekarang Anjani adalah menantu pertama di keluarga ini!,jadi aku harap kalian semua menghormatinya dengan baik, bersikaplah baik padanya!,aku ingin keluarga ini utuh seperti semula!, tidak ada perpecahan ataupun kerenggangan sedikitpun,aku tidak ingin itu terjadi!"
Jangan sampai Papah menyuruh Devino pulang kerumah bersama pelayan itu...
Wajah Nyonya besar tampak masam seketika,ia terlihat begitu tidak suka dengan ini, namun ia pandai untuk berakting dan terseyum manis menatap suaminya.
"Untuk kamu Devino,Papah benar-benar minta maaf, seharusnya Papah tidak bersikap seperti ini kepadamu..., maafkan Papah!"
"Jika Papah meminta maaf kepadaku itu salah besar, karena yang tersakiti bukan aku!,tapi istriku...!"masih terlihat marah menatap Ayahnya, sedangkan Tuan besar terseyum kecil mendengar perkataan putranya,ia juga merasa bersalah kalau putranya ini masih marah kepadanya.
Mendengar perkataan suaminya benar-benar membuat Anjani gelisah sendiri.
Kenapa kau bilang aku saja yang sakit?,kau juga kan...,kau lebih sakit dariku,kau di kucilkan dari rumah karena aku kan,
Semakin menggenggam erat suaminya, Anjani benar-benar merasa takut dengan semua ini, bahkan ia hanya bisa membukam suaranya dan tidak berani berucap kata sedikit pun sejak tadi.
"Untukmu Anjani!,Papah benar-benar meminta maaf, Papah salah besar selama ini, Papah telah bersikap seenaknya kepadamu, maafkan Papah...!"
Anjani terseyum manis mendengar ini, namun ia tidak bisa menahan air matanya yang terasa akan menetes di kelompok matanya.
"Aku tahu perasaan orang tua Pah!, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, jangan meminta maaf kepadaku..!,aku tahu perasaan Papah, semua ini hanya karena kasih sayang Papah kepada putra Papah!,dan yang terluka disini bukan aku..!, tapi Devino..!,dia yang telah berjuang kesusahan hanya demi diriku,ia meninggal segalanya demi diriku!,wajar saja jika Papah marah kepadaku, karena putra papah sengsara karena aku, maafkan aku Pah...!"
"Anjani apa yang kau katakan?,ini semua bukan salahmu..!"Devino yang merasa begitu kesal dengan ucapan Anjani.
Wajar saja jika putraku sangat mencintainya, ternyata hatinya begitu baik, seperti Diang dulu yang selalu menyalahkan dirinya sendiri dari kesalahan orang lain,
Anjani tidak mendengar perkataan suaminya, bahkan ia terus memberanikan diri untuk bicara kepada papah mertuanya.
"Untuk itu aku mohon Pah!,maafkan aku atas kehadiranku saat ini...!,Tapi jangan kucilkan Devino dari Anda maupun dari keluarganya!, aku tidak bisa melihatnya seperti ini!, maafkan aku, kembalikan ia sebagai putra anda yang dulu dan jangan jauhi dia.....!"Air matanya langsung berderai seketika,ia tidak sanggup menahan perasaannya yang sedang ia rasakan saat ini untuk suaminya.
__ADS_1
"Cukup Anjani!,apa yang kau katakan?..."
Melihat istrinya yang justru merendah dan menyalahkan dirinya, membuatnya Devino merasa marah kali ini.