
"Erik Istirahatlah di sini!,tak perlu mengantarku,aku akan membawa mobilku sendiri ke rumah!"
"Baiklah Tuan Muda, hati-hati di jalan!"
Setelah keduanya berpakaian rapi dan berdandan, Devino dan Anjani langsung melanjutkan acaranya untuk makan malam bersama keluarganya di rumah.
Ia mengemudi dengan santai mobi barunya bersama istrinya di malam hari yang penuh ketenangan ini.
Baru kali ini juga menyetir dan berdampingan dengan seorang istri yang sangat ia sayangi dan cintai itu,membuatnya terlihat tersenyum bahagia sambil memegangi tangan istrinya sesekali.
Anjani hanya terdiam dan terseyum, sambil mengelus-elus salah satu tangan suaminya yang sedang menggapai tanganya ini di dalam mobil.
"Apa kau baik-baik saja sayang!,kau tidak papa kan?"
"Tenanglah!,aku baik-baik saja!"
Sementara keadaan rumah begitu sibuk,para pelayan sibuk menyiapkan makan malam yang sangat banyak dan tentunya sangat enak.
Terlebih akan ada tamu kehormatan yang akan datang ke rumah ini bagi mereka yang menyukai keduanya.
Tapi bagi yang tidak menyukai keduanya hari ini adalah hari menyebalkan yang membuat Nyonya besar terlihat masam menatap meja makan.
lalu ia kembali ke ruangan kamar putranya dengan kesal.
"Devino dan Anjani benar-benar sudah merebut hati Papah Deniel...!,aku tidak mengerti apa yang membuat Papah berubah dan bahkan sekarang ia bersikap begitu baik kepada Anjani..."
berjalan kesana-kemari, seakan-akan ia sedang memikirkan sesuatu untuk mempertahankan posisi anaknya yang sekarang ini.
"Duduklah mah!, minumlah dulu...!"
Emely begitu perhatian kepada ibu mertuanya,lalu memberinya segelas teh manis.
"Iyah makasih sayang...!"
"Kak Devino dan istrinya akan kesini mah?"Tanyanya lembut,ia duduk berdampingan dengan mertuanya di sofa kamar.
"Iya!, sepertinya Papah sudah sangat sayang kepada mereka, sehingga ia mengundangnya makan malam hari ini, bahkan masakan yang tertata di meja makan adalah makanan kesukaan Devino...!"
"Tapi kenapa mamah begitu gelisah?"Emely begitu penasaran dengan sikap ibu mertuanya yang tampak kusam dan kesal itu.
"Mamah takut keadaan di rumah ini akan kembali seperti dulu lagi!, lalu Devino akan kembali menjadi orang pertama yang harus kita hormati dan patuhi!"
"Bukan kah seharusnya mamah senang?, Devino kan anak pertama mamah kan?, jadi pantas saja jika putra mamah mendapatkan semua ini...!"
"Dia bukan putra Mamah!,dia itu anak tiri ku!,aku hanya melahirkan Daniel dan Diva,aku takut suamimu akan tersingkirkan lagi dari jabatannya yang sekarang!"
Oh begitu kah.., pantas saja Mamah tidak pernah suka dengan mereka berdua..
Tapi aku juga tidak bisa membiarkan ini,jika posisi suamiku tersingkirkan maka Kak Devino akan lebih kaya dari Daniel...
"Iyah juga si mah!,tapi mau gimana lagi mungkin ini sudah menjadi nasib Daniel!"
"Kalian tahu?, ocehan-ocehan kalian benar-benar membuat aku pusing!,apa lagi yang mau di impikan si?, Devino memang kesayangan Papah!,mau bagaimana usahanya tetap saja akan seperti ini,dia itu anak pertama dan kesayangannya, sudah pasti dia akan kembali seperti semula...!"
"Daniel!,Mamah tidak terima!, Sudah 26 tahun mamah membesarkan Devino dengan susah payah dan sangat baik!,aku sudah menahan sikapku selama ini,aku begitu baik padanya!,jadi aku ingin kebaikanku selama ini tidak sia-sia dan di berikan kepada mu sebagai penggantinya..!,dan mamah juga ingin saham terbesar yang di miliki suamiku di pegang oleh mu bukan Devino...!"
"Terserah mamah saja,aku sudah pusing dengan semua ini!"Deniel yang begitu malas dengan semua ini.
"Daniel!,apa yang kau katakan?, usaha dong!, memang kau tidak mau menjadi pemilik perusahaan terbesar Papah?"
"Iya mau dong mah!"Sewot sendiri.
"iya makanya usaha!"
"Daniel juga lagi berusaha mah!, makan-nya kalian diam!,aku sedang mempersiapkan presentasi untuk besok!, kenapa kalian berisik sekali...!"
Tak lama kemudian akhirnya Devino dan Anjani sudah sampai di pintu masuk rumahnya.
Satpam dengan hormat membukakkan pintu gerbang.
__ADS_1
Lalu kedatangan keduanya langsung di sambut baik oleh Ayahnya di depan rumah,ia terlihat sedang menantikan putra dan menantunya sejak tadi di ruangan utama.
"Devino,Anjani akhirnya kalian datang juga!"mencoba memeluk putranya yang akan masuk ke pintu rumah.
lalu setelah itu ia memeluk menantunya juga.
"Malam Pah...!"Anjani yang tiba-tiba merasa begitu tenang mendapatkan pelukan seorang Ayah yang lama belum ia dapatkan setelah kepergian ayah kandungnya dulu.
Tiba-tiba ia merasa begitu tenang merasakan adanya kehadiran ayahnya kembali di dunia ini dengan pelukannya yang begitu tulus itu.
"Terimakasih kau sudah datang Anjani!, masuklah...!"
"Iyah Pah..."Anjani menjadi terharu dan berkaca-kaca sendiri sambil memasuki ruangan utama, mendapatkan perlakuan yang begitu berbeda dari yang biasanya membuatnya merasa terharu karena senang sekaligus sedih.
Devino dan Anjani langsung naik ke lantai atas,lama sekali rasanya ia tidak menginjakan kakinya di rumah ini.
Sebenarnya ia begitu rindu dengan rumah ini, namun apa dayanya, kehadiran Anjani adalah yang terpenting di dalam hidupnya.
"Kakak..."Teriak Diva,ia terlihat riang gembira menghampiri keduanya dan langsung memeluk kakak Devino erat.
"Bagaimana kabarmu Diva?"Tanya Devino yang sedang di peluk erat oleh adiknya ini.
"Aku baik-baik saja..!,aku rindu sekali sama kakak...!"Terseyum manis menatap kakaknya.
"Anak manis!,kau benar-benar masih manja yah!..."Devino mencubit pipi Diva dan membuatnya merona,lalu ia mendekati Anjani.
"Kak Anjani...?"Begitu lembut memanggil kakak Iparnya.
"Iyah..."Jawab Anjani lembut juga,ia mencoba tersenyum menatap adik iparnya yang bersikap baik tidak seperti biasanya itu.
"Kakak maafkan aku...!"berkaca-kaca menatap Anjani,Diva merasa begitu bersalah kali ini.
"Apa aku boleh memelukku...?"memegang kedua tangan kakak Iparnya dan mencoba merayunya untuk mendapatkan permintaan maaf dengan gaya manjanya itu.
Melihat sikap Diva membuat Devino terseyum dan merasa lega, Tuan besar juga ikut tersenyum senang melihat keluarganya yang berkumpul kembali hari ini.
"Tentu saja boleh...!"menjawab dengan penuh kelembutan dan senyuman, kemudian Diva pun langsung memeluknya dengan lembut dan dengan rasa tulusnya juga.
"Sudah!, jangan di pikirkan!,kakak sudah melupakannya sejak lama,...!"
Ya ampun kakak ipar ternyata kau begitu baik..
Semakin tidak enak diri melihat senyuman kakak iparnya yang begitu tulus menatapnya.
Lihat kan putriku kelewat batas...,aku tidak boleh membiarkan ini terus terjadi..
nanti dia malah semakin sayang kepada Devino dan Anjani..
"Devino kau sudah datang!"Nyonya besar yang terlihat tersenyum begitu manis, menatap Putranya dan segera menghampirinya.
"Maafkan segala sikap Mamah sayang!, Mamah begitu keterlaluan dan kelewatan batas selama ini....!"memegang kedua tangan putranya dan mencoba berbicara dengan lembut sekali.
"Mamah Jangan meminta maaf kepadaku!, Mamah juga tidak salah kepadaku!, minta maaflah kepada Anjani!, bukan kepadaku..!"
Devino masih terlihat marah menatap mamahnya ini.
sialan,
Oke-oke baiklah,jika ini yang harus aku lakukan sekarang...
"Anjani...!"Menghampirinya dan segera menggapai tanganya dengan lembut penuh aktingnya.
Anjani masih terdiam menatap ibu mertuanya ini,ia juga begitu merasa ragu, mengetahui sikap mertuanya yang pandai berakting membuatnya terdiam memahami sikapnya kali ini
"Maafkan mamah yah!,aku senang kau kemari!, selamat datang sayang..."memeluk Anjani erat di hadapan semua orang yang ada disini.
"Iyah mah...!"berkata lembut walaupun di penuhi dengan keraguan hatinya saat ini.
Lalu tak lama kemudian datang Daniel dan istrinya yang akan menyambut kedatangan keduanya juga.
__ADS_1
"kakak selama dayang!"mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Devino.
"Selamat datang kak!"di susuli oleh istrinya juga.
"kakak ipar selamat datang!,aku senang kau datang kemari dan maafkan segala sikapku ya kak, atas semua sikap ku selama ini yang begitu buruk kepada kakak....!"menatap kakak iparnya dengan tatapan yang sulit terbaca olehnya.
"Sudahlah!, lupakan saja...!"Anjani hanya bisa tersenyum kecil menatap Deniel, melihat tatapan Deniel yang sedikit aneh membuatnya terdiam dan tidak buka suara.
semakin cantik saja kakak ipar,
"kakak ipar selamat datang untukmu!,aku senang bertemu denganmu..!"Emely ikut tersenyum manis mengulurkan tangannya.
"Terimakasih!" Anjani terseyum kembali untuk menghormatinya.
Walaupun hatinya masih di selimuti dengan rasa keraguan,ia tetap berusaha untuk menangkan dirinya dan menguasai dirinya agar bersikap baik.
Aku harap tidak ada drama di keluarga ini ya Tuhan,
aku harap perkataan maaf mereka tulus dari dalam hatinya.
Semua makanan sudah siap dan tertata rapi di meja makan.
Anggota keluarga ini pun sudah berkumpul di meja makan dan kursinya masing-masing.
"baiklah!, karena semuanya sudah berkumpul sebaiknya kita memulai makan malamnya sekarang!"Tuan besar yang memulai duluan dan memimpinnya lebih dulu.
Kemudian di ikuti oleh semua orang dan mengambil piring makanya masing-masing.
Semua orang memulai makannya dengan mengambil lauk pauk yang mereka selerai dan mereka sukai.
Terlihat selera Anjani dan Devino yang sudah mengambil makanan yang sama di atas piringnya masing-masing.
Lalu mereka semua mulai menyuap makanan ke mulutnya masing-masing.
Beberapa suap sudah masuk ke mulut Anjani dengan lahap, namun suapannya kali ini membuatnya terdiam dan merasakan apa yang sedang ia rasakan.
Lalu mencoba menelan kembali makanya,dan mencoba lagi untuk makan kembali, Namun..,
"Huek.... huek...!"sontak ia merasa begitu enak dan mual.
"Anjani..?"Membuat Devino kaget dan gelisah menatapnya.
Anjani hanya terdiam menatap suaminya, sambil menutupi mulutnya dengan tangan dan beranjak berdiri meninggalkan duduknya untuk berlari ke kamar mandi.
"kakak kenapa?"Diva ikut merasa gelisah juga.
Pandangan semua orang juga terhenti dan tertuju menatap Anjani yang terlihat berlari itu, sedangkan Devino menyusul istrinya dari belakang yang berlari menuju ke kamar mandi.
Ada apa dengan Anjani?...
Tuan besar ikut bertanya-tanya juga.
Sebenarnya dari dalam perjalanan ke rumah ini, Anjani memang sudah merasa tidak enak badan, namun ia mencoba untuk menyembunyikan hal ini kepada suaminya itu.
"huek...huek..!"
"Anjani apa yang terjadi?,kau tidak papa..?"Terlihat begitu khawatir sambil memijat leher istrinya lembut.
"Entahlah aku tidak tahu, sejak di mobil aku juga sudah merasa sedikit enek Dev...!"
kenapa kepalaku jadi makin pusing si...
mencoba berdiri tegak sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, lalu menatap suaminya dengan matanya yang terlihat begitu sayu dan semakin layu.
"Dev..!"mencoba menatap suaminya yang terlihat samar-samar.
"Iyah...!" menatap istrinya yang terlihat semakin pucat itu.
"kenapa kau pucat sekali Anjani kau tidak papa?"
__ADS_1
Semakin panik menatap istrinya,lalu pandangan Anjani buyar dan gelap jatuh pingsan di pelukan suaminya.